Skip to main content
Nota

Nasirun

By August 3, 2026No Comments

JUMAT (31/7) pagi saya menurunkan lukisan Nasirun dari dinding di dekat ruang kerja saya di rumah karena tembok hendak dicat ulang. Dibantu asisten saya menyandarkan lukisan di sudut ruangan yang aman dari debu dalam proses kerja pengecatan tembok.

Lama saya mengamati lukisan itu. Ia membikin dan memberikan kepada saya entah berapa tahun lalu. Berukuran 120×100 cm, dalam karya ini ia menorehkan cat minyak lapis demi lapis membentuk warna dan tekstur yang sulit saya merumuskan: hijau bukan hijau, biru bukan biru, kuning bukan kuning, merah bukan merah. Yang ada adalah nuansa, semacam suasana tradisional Jawa, induk kebudayaan Nasirun yang juga induk kebudayaan saya.

Di situ ia bikin kotak-kotak kecil berisi gambar wajah saya yang ia ambil dari berbagai foto.

Strategi perupaan ini mengingatkan saya pada mainan anak-anak di masa lampau, namanya umbul. Umbul adalah lembaran karton berisi lukisan kotak-kotak, pada tiap kotak ditampilkan tokoh wayang. Pada “umbul kontemporer” Nasirun semuanya adalah wajah saya. Di atasnya ia menuliskan kata: Terima Kasih Bro.

Nasirun dan Tommy Awuy dalam peluncuran novel saya di Yogya, 2019.

USAI beres-beres saya meninggalkan rumah. Seperti biasa, sebelum ke perguruan silat saya di Kebon Jukut, Bogor, saya mampir ke sebuah kedai di Jalan Surya Kencana. Yang biasa nongkrong dan ngopi di pagi hari di kedai ini umumya orang-orang tua, suasananya mirip kedai-kedai di pecinan di mana saja, dari Glodok sampai Guangzhou.

Saya akrab dengan lingkungan ini, ngobrol kesana-kemari dengan siapa saja. Pagi itu saya nimbrung di meja sosok yang saya kenal sebagai pengacara. Sangat sering kami ketemu di situ.

Dia bercerita mengenai temannya yang memiliki lukisan karya Raden Saleh. Kepada saya ia tanya bagaimana mengidentifikasi lukisan tersebut asli atau palsu. Percakapan tak berkejuntrungan tentang lukisan, entah bagaimana saya malah ngelantur bercerita bahwa saya punya teman dekat pelukis bernama Nasirun, sebelum percakapan tanpa arah ini beralih ke topik korupsi. Si pengacara bilang nanti sore akan ke Semarang. Ia jadi pembela pejabat di Jawa Tengah yang tersangkut kasus korupsi. Semoga pembelaan kamu sia-sia, kata saya padanya yang dia sambut dengan tawa terbahak-bahak.

SAYA pernah mewawancarai Nasirun panjang lebar ketika saya hendak menulis buku Dawai Dawai Dewa Budjana. Buku itu tentang puluhan gitar milik gitaris Dewa Budjana yang dilukis oleh para perupa, dari perupa tradisional, modern, sampai kontemporer. Salah satu yang terlibat dalam proyek menjadikan gitar Dewa Budjana sebagai artwork ini adalah Nasirun. Pada buku itu saya bertugas memberi narasi.

Jelas saya ingat dan perlu saya ceritakan latar belakang Nasirun di situ. Ia lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 1 Oktober 1965, dari keluarga kurang mampu. Saking berkekurangannya, saat berangkat untuk berkulisah di ISI Yogya tahun 1983 ia menjual daun pintu rumah orangtuanya untuk ongkos. Sebagai ganti daun pintu, ia gantungkan karung bekas gabah di kusen.

Pernah dia bercerita pada teman sesama seniman, Agus Noor, bahwa hakikat pintu adalah tempat untuk masuk keluar rumah, bukan untuk menutup rumah. Dengan itu—barangkali dia hendak menghibur diri kala itu—rejeki akan masuk dan berseliweran di rumah.

Banyak hal tentang Nasirun saya tulis panjang lebar di buku tadi dan tidak akan saya ulang di sini. Yang jelas, di kemudian hari Nasirun menjadi salah satu nama besar dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karyanya masuk galeri-galeri ternama, dikoleksi kolektor-kolektor terkemuka, menjadi bahan gunjingan dan perburuan pada lelang-lelang internasional.

Tidak ada kegembiraan seperti ketika bersama Nasirun.

Dalam keberlimpahan, Nasirun dikenal oleh teman-temannya sebagai sosok yang  amat murah hati. Pintu rumahnya di kompleks Bayeman Permai tidak pernah dia kunci. Ia menjadi tambatan siapa saja yang mengalami kesulitan keuangan.

Mungkin seperti dikatakannya, pintu tidak untuk menutup rumah, melainkan untuk masuk dan keluar termasuk rejeki. Rejeki dia menderas, seperti mata air yang banyak muncul di tanah tempat tinggalnya.

Benar-benar menakjubkan. Ia menjadikan mata air-mata air sebagai kolam-kolam di berbagai sudut halaman maupun di dalam rumah. Ikan berenang-renang di air yang dialirkan ke sungai di kawasan perumahan. Pada musim kemarau tetangga-tetangga yang kekeringan datang ke rumahnya untuk mengambil air.

Taman di rumahnya seperti taman hutan tropis dengan pohon-pohon langka berukuran besar. Semua tanaman tumbuh subur, ia siram dengan air melalui pipa sebesar pipa yang biasa digunakan petugas pemadam kebakaran.

Baik secara harfiah maupun simbolik air adalah berkah dan keberuntungan. Sama seperti sehari-hari saya suka bicara tak berkejuntrungan, saat itu pada Nasirun saya tanya, apakah dia mimpi sesuatu tatkala membeli tanah ini.

Biasa menjawab pertanyaan secara spontan sambil tertawa-tawa, saya ingat waktu itu dia terdiam cukup lama, sebelum kemudian berkata: baru kali ini ada orang mengajukan pertanyaan ini pada saya.

Pada masa-masa sesudahnya sebenarnya jarang kami berjumpa secara fisik. Setiap kali ke Yogya saya lebih sibuk dengan urusan buku dengan penerbit, atau bersantai di kafe-kafe di Prawirotaman. Bagi saya hubungan saya dengannya lebih bersifat spiritualistik.

SABTU (1/8) pagi saya mengirim pesan WA kepada kolektor terkemuka, dokter Oei Hong Djien. Sudah lama saya tidak mengontaknya, entah mengapa pagi itu saya ingin menyapa dia. Biasanya saya mengontak dia setelah pukul 08.00 karena saya sering nginap di rumahnya dan tahu kebiasaan-kebiasaannya.

Waktu itu masih pukul 06.00. Jawaban dia muncul seketika: Nasirun meninggal dunia.

Samber geledek. Saya termangu-mangu. Di kejauhan tampak Gunung Salak diselimuti kabut tipis. Saya teringat hari sebelumnya memandangi lukisan karya Nasirun berlama-lama, bicara tentang dia, terus terdorong mengontak OHD—panggilan akrab Oei Hong Djien yang secara pribadi dekat dengan Nasirun.

Lama saya bengong sebelum kemudian tersadar bahwa yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa.***

 

Ciawi 3/8/2026

Terimakasih Bro

Leave a Reply

(enter the number only)