Skip to main content
ocehria

Jejak Nostalgia Mas Pat

By March 8, 2026No Comments

PALMERAH adalah sawah kita bersama, demikian dulu diucapkan pimpinan kami Pak Jakob Oetama. Nyatanya, setelah pensiun hampir 9 tahun setiap kali ke Palmerah saya selalu menemukan kegembiraan seperti semasa kecil sebagai bocah kampung bermain di sawah.

Beberapa hari lalu ke Palmerah, tanpa sengaja saya ketemu Pat Hendranto, saya memanggilnya Mas Pat. Kelahiran Solo, tanggal 17 Maret nanti usianya genap 85 tahun.

Saya selalu ingat ia penggemar film koboi. Dulu di kantor sering kami berdua memperbincangkan film koboi dengan para jago tembak yang dengan pistol berisi 6 peluru dalam seketika membuat 20 bandit terjungkal berbarengan.

Begitu melihat dia saya berlagak mencabut pistol di pinggang. Ia tak kalah sigap, bahkan lebih cepat. Andai pistol beneran, dipastikan dada saya sudah tertembus pelor oleh kemahiran Mas Pat menembak.

Dalam pertemuan tak sengaja yang menggembirakan itu dia memberi saya buku yang ditulisnya, berjudul Jejak Nostalgia: Jatuh Bangun Menjadi Wartawan (Penerbit Buku Kompas, 2021).

Seperti judulnya, buku ini menceritakan kenangan dia bergabung dengan koran ini sampai pensiun tahun 2001.

Buku diawali dengan cerita bagaimana ia bergabung dengan Kompas tanggal 1 Agustus 1967, dua tahun setelah koran ini terbit yakni pada 28 Juni 1965. Kantor terletak di Jl Pintu Besar Selatan dekat Stasiun Kota.

Kondisinya memprihatinkan. Terletak di lantai dua milik PT Kinta (d/h Keng Po), luas kantor hanya 5 x 11 meter. Tidak semua wartawan bisa kebagian tempat duduk. Andai pas penuh, yang tidak kebagian tempat duduk untuk mengetik silakan menunggu, ngobrol di ruang tamu, jalan-jalan, terserah mau melakukan apa saja (kalau memakai istilah kekinian tampaknhya inilah pelopor co-working space).

 

BAGI yang pernah kerja di Kompas paham belaka, wartawan tidak boleh menolak tugas yang diberikan pimpinan. Jangan pernah bilang tidak.

Ia menulis kenangan ketika disuruh oleh Pak Ojong (PK Ojong, duo yang bersama Pak Jakob mendirikan Kompas) untuk meliput pameran lukisan di Balai Budaya di Jl Gereja Theresia.

Celaka dua belas, Mas Pat berucap dalam hati. Dia mengaku tidak tahu menahu soal seni. Merasa tambah sial, ketika sampai di tempat  karya yang dipamerkan adalah lukisan abstrak.

Tambah pusing.

Tenang, kata dia menghibur diri, bisa wawancara pelukisnya. Ia melihat orang berjenggot, berkumis tebal, pakaian lusuh, berdiri di dekat sebuah lukisan.

Ia dekati orang bersangkutan dan langsung membuka wawancara dengan bertanya bagaimana mendapatkan inspirasi. Ternyata orang ini bukan si pelukis, melainkan tukang jaga malam.

Ia ceritakan pula sepenggal kenangan tatkala tahun 1979 ia mendapat jatah mobil, Datsun Sport warna krem.

Ketika itu kantor sudah pindah ke Palmerah.

Belum bisa nyetir, mobil tidak ia bawa pulang ke rumah, ditinggal di kantor untuk latihan menyetir di sekeliling kantor setiap kali ada waktu senggang.

Suatu saat terlihat Pak Jakob sedang di teras ditemani sejumlah wartawan, menunggu sopir yang tak kunjung muncul untuk ke sebuah acara.

Demi melihat Mas Pat dengan mobil, para wartawan mengusulkan agar Pak Jakob diantar Mas Pat saja.

Bisa Pak, silakan masuk, Mas Pat menyatakan kesediaan.

Ia menginjak gas terlalu dalam, mobil meloncat dan berhenti mendadak.  Pak Jakob kaget luar biasa. Mas Pat mencoba menenangkan.

Mesin dihidupkan lagi.

Waktu itu jalanan Jakarta masih sepi. Persoalan muncul lagi di jalan lurus. Mas Pat mengemudikan dengan zigzag.

Pak Jakob mulai waswas. Ia bertanya: SIMnya beli ya, Mas?

SIM? Mas Pat balik bertanya. Saya belum punya, lanjutnya.

Kembali Pak Jakob kaget. Mungkin sudah tak tahan lagi, kali ini Pak Jakob memilih mengambil alih kemudi.

Selamatlah mereka sampai tujuan, Universitas Trisakti di bilangan Grogol.

Mas Pat bertanya, apakah dia harus menunggu.

Pak Jakob bilang tidak usah.

Apakah nanti ia harus menjemput.

Lagi-lagi Pak Jakob bilang tidak, nanti naik taksi saja.

Saya menduga Pak Jakob waktu itu berdoa agar Mas Pat bisa balik kantor dengan selamat.

MAS Pat menulis kenangan tentang Kompas, teman-temannya, pengalaman meliput peristiwa dengan lugu, jujur, apa adanya. Dia tidak bercerita mengenai kebisaan seperti banyak orang yang ingin tampak bisa, lalu jadi motivator. Pengin jadi nabi.

Sebaliknya, Mas Pat bertutur tentang ketidak-bisaan, termasuk ternyata sangat sering ia datang terlambat ke suatu acara.

Saya jadi garuk-garuk kepala.

Ia bercerita tentang kekurangan manusia, yang ada kalanya  atau bahkan dalam banyak kasus diselamatkan oleh keberuntungan.

Usai baca buku tersebut saya menghubungi Efix Mulyadi, rekan pensiunan, dulu sama-sama di Desk Kebudayaan.

Padanya saya bilang demikian: kemarin saya ke Palmerah, tanpa sengaja ketemu Mas Pat. Ia memberikan buku yang ditulisnya, Jejak Nostalgia. Banyak penulis, tak terkecuali saya, jungkir balik ingin sampai pada kejujuran, seadanya, senyatanya, kasunyatan. Oleh Mas Pat semua itu dicapai tanpa usaha. Dunia kanak-kanak tidak pernah meninggalkan dirinya, selalu hidup dalam dirinya. Saya teringat pelukis Jean-Michel Basquiat.

A must read book.***

 

8/3/2026

Leave a Reply

(enter the number only)