DI studio seniman Angki Purbandono di bilangan Wirobrajan, Yogya, begitu kami turun dari taksi terdengar teriakan, Oom Gun. Gunadi adalah teman seperjalanan saya dari Jakarta untuk ArtJog kali ini yang akan berlangsung Juni-Agustus. Yang berseru memanggil namanya tadi Era, cewek manis teman anaknya semasa sama-sama sekolah di New York.

Fashion jalanan karya Angki Purbandono, Beyond Versace
Pada hari-hari ini kita bisa ketemu siapa saja secara tak terduga di Yogya.
Manusia dari berbagai kota dan negara datang ke ArtJog, hajatan seni tahunan tebesar di Yogya. Selain teman anak Gunadi yang datang bersama teman-temannya, di studio Angki ada tamu-tamu lain, salah satunya memakai baju dengan payet blink blink, memberi saya kartu nama. Ia dari Kuala Lumpur.
Begitu pun di studio perupa FX Harsono. Pada kesempatan open studio, di situ kami berjumpa beberapa tamu dari berbagai negara.

Studio FX Harsono
Enak siang-siang di situ menikmati kacang dan bir.
Belum lagi pada pembukaan acara utama, ArtJog, yang berlangsung di JNM, bekas kampus ASRI yang penuh kenangan. Sejuta umat ada di situ.
Di jalanan tatkala sedang kebingungan cari ATM, saya jumpa Rido Oetoro, pengembara dari Malang. Selama ini ia cuma saya kenal melalui X. Orang yang murah hati.
“Kamu kayak orang hilang,” kata dia pada saya.
Waktu itu saya tengah menunggu teman yang berasal dari Malang juga tapi belakangan tinggal di Canggu, Bali, namanya Nita.
Saya punya banyak teman bernama Nita. Yang ini juragan seni rupa, pemilik Puri Art.
Perlu dikerahkan petugas sensus untuk mendaftar semua acara yang berhubungan dengan kesenian selama bulan-bulan ini.
Entah berapa jumlahnya, terdiri dari pameran, pemutaran film, performance, musik, workshop, diskusi, pop art market, dan lain-lain. Seniman yang ambil bagian jumlahnya ribuan.

Nasib Pinokio Jawa karya Butet Kertaradjasa
Saya sendiri menyelenggarakan launching buku berjudul The Sword and the Pen di Ruas Bambu Nusa, buku versi bahasa Inggris Silat Surat: Minggu Bersama Guru. Yang menterjemahkan isteri saya, yang nanti mudah-mudahan juga akan menterjemahkan dalam bahasa Mandarin.
Pada acara launching ada Mas Goenawan Mohamad, Butet Kartaredjasa, Sutanto Mendut, Putu Fajar Arcana, Engel Tanzil, Wafida Darmawi, Santi Indieguerillas, Haris Kertorahardjo, Cello, pendekar Nasarius Sudaryono, dan puluhan teman lain yang datang memberi dukungan yakni Benita, Rita, Mas Pam, Panembahan Joko SAW Koentono, OHD, Melodia, Budi Ubrux, Lila, Hari Atmoko dan kerabat Lima Gunung, Pupuk DP, Frans Sartono, Bambang Kusumo, Djohan Salim, Salman Rushdie, Milan Kundera, Gabriel Garcia Marquez, Susan Sontag, Joni Ramlan yang jauh-jauh datang dari Trowulan (Gangsar Aji janji datang tapi tidak nongol), Buldan (ia memberi saya buku 72 tahun Cak Nun di mana saya ikut nulis), Ronald Apriyan, Mbak Ratih dan Mas Mul, Ruddy Walakandou, Citra, Listia Prayoga (eh dia gak datang), Krisdayanti (saya suka dia kirim doa), Maggie Cheung (saya tunggu sampai malam tidak muncul), Mbak Dolly yang muncul tiga hari sesudahnya ketika saya sudah di Salatiga, Wiediantoro yang spiritnya selalu bersama saya, dan lain-lain yang saya harap akan ketemu lagi dalam “Impression” yang lain lagi karena selain “Impression Cangkringan” saya ingin bikin “Impression Wonosari”, “Impression Keramas”, “Impression Mendut”, “Impression Jakarta”, dan seterusnya.
Bagi saya, di tengah keriuhan dunia diperlukan ruang hening, suasana meditatif, dan itu saya dapatkan di Ruas Bambu milik saudara seperguruan saya, Yaya.
Tempat itu mengingatkan saya pada Zhang Ziyi dalam Crouching Tiger Hidden Dragon.
Di antara desir angin di sela-sela hutan bambu saya ingin bersama teman-teman untuk sama-sama mencari dan melihat diri sendiri sebagai entitas tubuh, pikiran, spirit.

Juragan tas terkenal di Yogya berpose di situs acara saya.
Yang sangat perlu dicatat, seluruh acara dalam Hari Raya Kesenian di Yogya ini tak ada satu pun yang dibuka dengan pidato pejabat.
Menarik.
Formalitas pejabat dan birokrasi—terlebih korupsinya—membuat kehidupan macet.
Kesenianlah yang mengalirkan daya hidup melalui pembuluh dalam tubuh dan diri kita.
Merasakan magnitude dari ribuan orang pada Hari Raya Kesenian ini sempat terlintas di otak, mengapa Heri Pemad tidak mengembangkan ArtJog jadi Partai Seni.
Saya rasa banyak yang minat jadi anggota.
Yang terlintas di benak:
Goenawan Mohamad, OHD, Ashadi Siregar (ketiganya bisa diangkat sebagai dewan pertimbangan agung), Tony Prabowo (menteri musik), Hari Budiono (wakil walikota prawirotaman), Jais Darga (bisa mengurusi treasury department pokoknya segala hal yang butuh uang banyak), Butet Kertaradjasa (agiprop), @MpuJayaPrema (menteri spiritual), @ariel_heryanto (menteri sejarah), Karlina Supeli (menteri pendidikan), Garin Nugroho (menteri sinema), Agus Noor (menteri teater), Heri Dono (menteri luar negeri), Wijaya Eka (dirjen perbukuan), dan seterusnya silakan tambahkan sendiri sebanyak-banyaknya.

Karlina
Oh ya, namanya mungkin tidak bisa Partai Seni Indonesia karena kalau disingkat saat ini sudah ada partai dengan singkatan serupa.
Partai Kesenian Indonesia saja.
Presiden Tanto Mendut.
Dia telah punya pengalaman jadi presiden.***
Ngomyang pagi, 25/6/2025

Di rumah OHD

Di DAS

Istirahat dulu, ngopi


