Skip to main content
Cerita

Perayaan Hal-hal Tak Penting

By August 10, 2025No Comments

SEORANG teman bertanya kenapa saya tidak lagi menulis cerpen. Tidak ada lagi yang saya anggap penting, jawab saya. Kalau begitu tulislah hal-hal tak penting, tukasnya.

Dia satu-satunya teman kuliah yang kemudian jadi produser dangdut. Hidupnya makmur. Ide-idenya selalu saya anggap luar biasa.

Sebagian besar hidup kita muatannya adalah hal-hal tidak penting.

Itu yang menjadikan kita tidak bosan.

Untuk merayakan hal-hal tak penting, untuk dia saya menulis sebagai berikut:

FRANS ada janji dengan Sisca. Mereka sepakat ketemu di mal, tapi karena sama-sama tidak bisa menentukan akan ngopi di kafe atau restoran mana, keduanya sepakat ketemu di gerbang utama, namanya Pearl Gate, dekat Le Sebastian Café.

Yang datang terlebih dahulu menunggu di situ, mereka membikin pakta perjanjian. Dan yang datang terlebih dahulu adalah Frans. Ia menanti sembari memperhatikan mobil-mobil yang datang menurunkan penumpang.

Muncul Mercedes hitam. Mobil berhenti. Pintu belakang sebelah kiri terbuka.

Yang Frans perhatikan pertama-tama adalah munculnya kaki jenjang dengan selop hitam berhias rantai keemasan dan beberapa bulatan putih serupa mutiara.

Baru kemudian muncul utuh si empunya kaki: Sisca.

Frans sering mengkontemplasikan pertemuan tadi. Kaki Sisca indah. Tumitnya semburat warna pink.

Sensualitas perempuan terletak pada kakinya, demikian Frans berpikir.

Ia memperkuat pandangannya dengan konsep yang berbau theologis, bahwa sorga di bawah kaki ibu.

Jadi, persis di bawah kaki perempuan yang indah itulah terdapat sorga.

HARIS menemui broker barang antik langganannya. Sang broker menjanjikan patung kuno, ditengarai berasal dari abad ke-13, patung perempuan Dewi Saraswati.

Dewi Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan, selain juga dewi kebijaksanaan, seni, musik, dan segala hal yang berhubungan dengan estetika.

Benar juga, bukankah ibu kesenian tak lain adalah ilmu pengetahuan?

Rumah Haris bukan hanya penuh barang antik, tetapi juga koran, buku, kitab kuno, foto-foto, kartu pos, dan lain-lain tak ketinggalan dokumen-dokumen berharga pada masa lalu.

Ia baru beberapa saat sampai rumah ketika Frans muncul.

Mereka sering ketemu, dengan atau tanpa janji terlebih dahulu.

“Kamu dari mana?” tanya Frans, melihat Haris tengah beres-beres seperti orang baru saja pulang ke rumah.

“Dari ketemu antique dealer langgananku,” jawab Haris.

“Dapat apa?”

“Tidak dapat apa-apa. Ia menunjukkan patung kuno Dewi Saraswati.”

“Kamu tidak tertarik?”

“Tertarik, patung itu benar-benar benda kuno, tapi ada cacatnya.”

“Cacatnya apa?”

“Satu kakinya tidak ada.”

“Bukankah sebagai dewi pengetahuan kaki bukan merupakan bagian penting?”

“Bagiku penting,” jawab Haris. “Kamu mau kopi?”

“Mau.”

Haris kemudian membikin kopi.

Keduanya duduk di tempat biasa mereka berbincang sembari menikmati kopi serta keripik tempe renyah, katanya baru dapat kiriman dari Malang.

Sejak sama-sama kuliah filsafat puluhan tahun lalu mereka biasa memperbincangkan segala hal termasuk hal-hal tak penting secara serius, kadang diimbuhi berbagai referensi, dari  Julia Kristeva sampai Theodor Adorno.

Sore itu mereka memperbincangkan kaki wanita, bukan bagian-bagian tubuh wanita yang lain.

Malam tiba.

“Bagaimana kalau kita ke Octagon?”

Octagon & Lounge yang disebut Haris adalah tempat bilyar mewah.

Keduanya dari dulu hobi bilyar.

Di rumah Haris tersedia meja bilyar. Pesan langsung dari China.

Menurut Haris bilyar menyehatkan kaki dan punggung.

Selama main diam-diam kaki terus membawa badan bergerak mengelilingi meja bilyar. Ketika menyodok bola, punggung membungkuk, dan itu bagus bagi kesehatan tulang punggung. Kunci kesehatan manusia terletak pada tulang punggung, begitu Haris berpendapat.

Foto: Kurnia Setiawan

Sedangkan Frans lebih tertarik pada fokus, geometri, dan daya incremental pada permainan ini.

Selain itu, daripada ngelangut.

Demikian cerita saya pada teman tadi, yang meminta saya untuk menulis hal-hal tidak penting.***

10/8/2025

Leave a Reply

(enter the number only)