Déjà vu, amnesia, nostalgia.
EMMA telah kembali ke Indonesia. Ia sudah menyelesaikan pendidikan di Le Cordon Bleu. Demikian Haris memberi tahu Frans tentang keponakannya.
Tentu saja Frans tahu, lebih tahu dari Haris. Sejak Haris mengenalkan keponakannya tadi pada Frans saat libur kuliah ketika itu, lalu secara tidak sengaja keduanya pernah berjumpa di mal dan kemudian ngopi berdua, Emma sering menghubungi Frans.
Sehabis liburan kembali ke Sydney, hampir tiap hari Emma mengirim pesan via WA kepada Frans. Dari ucapan good morning, mau apa hari itu, hendak mengerjakan apa, pakai baju apa, bagaimana tangannya dicakar kucing, semua diberitahukan pada Frans.
Ia tahu segalanya tentang Emma yang berhubungan dengan hal-hal tak penting.
Keduanya berencana ketemu, cuma sampai sekarang belum kesampaian karena kesibukan masing-masing. Mereka hendak ngopi di kafe seperti waktu itu.
“Sudah seminggu lalu,” kata Haris tentang kepulangan Emma.
“Oh, ya…,” Frans menyahut tanpa komentar lebih lanjut.
Mana mungkin aku tak tahu, Frans dalam hati pengin tertawa. Ia tahu persis sejak rencananya, sudah packing atau belum, nomor penerbangannya, dan lain-lain.
Biar sajalah Haris bahagia dengan ketidak-tahuannya, Frans berkata dalam hati.
MINGGU malam adalah jadwal The Legos main di The Rex.
Sebagian besar tamu merupakan pengunjung tetap pub untuk The Legos dan rock n roll.
Tak dinyana ada tamu istimewa.
Emma muncul.
Frans kaget.
“Oom kaget ya?” Emma berucap sambil senyum-senyum. “Saya pengin dengar Oom nyanyi July Morning,” lanjut Emma yang selama ini sering mengirimkan tautan lagu yang disukai Frans via handphone.

Luar biasa kemeriahan Minggu malam.
Penonton ikut bernyanyi, bergoyang, mengacungkan tangan ke atas dengan tanda tiga jari jempol, telunjuk, kelingking, mengangkat gelas bir, mencium pasangan, aih—pokoknya seru.
Kadang ditingkah suara klakson mobil zaman dulu yang digantung di beberapa sudut ruangan.
Toet-toet-toet…. demikian suaranya ketika dipencet.
Emma tidak membayangkan acara seheboh ini.
Orang-orang yang menolak tua.
Seperti biasanya di panggung Frans berceloteh apa saja sebelum membawakan lagu.
“… and this song,” kata Frans. “Untuk yang baru saja mendarat dari Sydney. For this pretty gal,” tambahnya menunjuk tempat di mana Emma duduk.
Pengunjung bertepuk riuh, menengok Emma.
Emma tersipu.
Ia bahagia.
“I’m happy to be part of your show,” bisik hatinya.
“Love you,” ucapan Frans meluncur sembarangan.
Dada Emma bergetar beneran.
Ia menyanyikan Sweet Child O’ Mine.
She’s got a smile that it seems to me
Reminds me of childhood memories
ADA yang terasa aneh bagi Emma tentang pertemuan dengan Frans. Ia merasa telah mengenal Frans, jauh, jauhhh hari sebelum bertemu dengannya.
Pengalaman ini dirasanya pernah terjadi.
Bertemu pria yang jauh lebih tua darinya, berambut panjang sepundak, beberapa helai telah memutih, tadi mencium pipinya.
Inikah yang disebut déjà vu….
SAMSOYO bengi samsoyo ndadi (semakin malam semakin menjadi-jadi), demikian ucapan untuk menggambarkan kemeriahan pertunjukan wayang kulit di Jawa.
Dari atas panggung Frans melihat ada tamu baru datang menyeruak di antara pengunjung menuju depan dekat panggung.
Haris.
Ya, benar Haris. Ia bersama seorang perempuan.
Jarang Haris bersama perempuan. Ia lebih mirip lone ranger.
Siapa perempuan yang bersamanya?
Frans menegaskan pandangan.
Ah, kiranya dia….
Wanita yang fotonya pernah ditunjukkan Haris padanya.
Kirana yang panggilannya Nani.
Perempuan yang katanya mengenal Frans tapi Frans sepotong pun tidak ingat tentang dia.

Dalam hal ini Frans seperti mengalami amnesia.
Saat itu Frans tengah membawakan July Morning.
Bagi Kirana yang panggilannya Nani ini adalah nostalgia.
Nani: Nostalgia
Frans: Amnesia
Emma: Deja vu
MENDADAK Frans pusing kepala.
Ia ingin show time segera berakhir.
Untung July Morning yang tengah dibawakannya lagu pamungkas.
Begitu lagu selesai Frans langsung turun panggung.
Berbenah.
Emma menghambur padanya.
“Kepala saya pusing. Saya ingin segera pulang,” kata Frans pada Emma.
“Kenapa?”
“Entah. Kebanyakan minum wine. Atau mungkin asam lambung naik. Saya harus pulang sebelum ambruk. I’ll call you tomorrow.”
Frans meninggalkannya.
Haris menyibak kepadatan pengunjung.
Ia mengejar Frans yang melangkah menuju pintu keluar.
“Frans…,” seru Haris.
“Aku pusing kepala. Takut jadi vertigo,” ucap Frans.
“Aku bersama Mbak Nani,” kata Haris. “Mbak Nani pengin ketemu.”
“Lain kali saja,” kata Frans.
Sopir dan mobil telah menunggu.
Haris terbengong-bengong.
“Kamu mau kemana?”
“Pulang. Tidur,” sahut Frans.***
T A M A T
4/9/2025


