Kematian Sisca dan absurditas Frans.
BELAKANGAN kematian Sisca diributkan kembali. Pihak keluarga menyatakan keraguan Sisca meninggal bunuh diri. Mereka mengeluarkan pernyataan publik tentang kemungkinan pembunuhan.
Beberapa fakta yang selama ini diterima secara taken for granted mereka gugat.
Pertama: orang bunuh diri tidak meninggalkan sepatu merahnya secara rapi di atas tembok di pinggir sungai. Ia akan menceburkan diri ke sungai begitu saja.
Kedua: jenasah waktu itu ditemukan di dasar sungai. Orang yang tewas di sungai jenasahnya akan mengambang, bukan di dasar sungai.
Kecuali ada pemberat.
Apakah waktu itu ditemukan pemberat?
Ketiga: barang-barang pribadi di mobil seperti jepit rambut, sepotong biskuit, hand sanitizer, dan lain-lain termasuk lipstick yang tutupnya terbuka—yang artinya habis digunakan untuk memoles bibir—makin memperkuat dugaan bahwa yang bersangkutan tidak bunuh diri.
Mana ada orang hendak bunuh diri memakai lipstick terlebih dulu.
Dengan sejumlah asumsi tadi, siapa kira-kira pelakunya?
Spekulasi menyebar.
Semua orang mengajukan teori masing-masing.
Kecendrungan zaman sekarang: semua orang merasa ahli. Semua orang adalah ahli segala hal tanpa spesialisasi dalam satu hal.
World without expertise.
World without mind.
Pada kasus kematian Sisca mendadak semua orang jadi lebih ahli daripada kriminolog yang untuk bidang tersebut perlu kuliah bertahun-tahun.
Pembunuhan tanpa tanda-tanda perampasan hak milik umumnya dilakukan oleh orang dekat.
Suami?
Bagaimana hubungan Sisca dengan suami selama ini?
Apakah pagi itu Sisca keluar rumah bersama Hartono, suaminya?
Ataukah Sisca punya kekasih gelap?
Nah ini drama yang digemari publik.
Pagi ia keluar untuk berkencan dengan kekasihnya?
Mumpung hari masih sepi.
Waktu itu hari Sabtu.
Pantas berdandan mengenakan high heels merah segala.
Semua orang cenderung kepo.
Meski tak peduli lagi dengan kematian Sisca—entah karena bunuh diri ataupun karena sebab-sebab lain—tak urung ada teman menanyakan pendapat Frans.
Teman itu tahu Frans dulu dekat dengan Sisca.
“Kamu kan kenal dekat. Menurut kamu apa yang terjadi padanya? Dibunuh atau bunuh diri?” tanya teman tadi.
“Aku tidak tahu, aku bukan Sherlock Holmes,” jawab Frans pendek.
SEBENARNYA Frans memiliki teori sendiri mengenai kematian Sisca, tapi butuh imperatif tertentu bagi orang memahami pendapatnya.
Untuk itu setidaknya orang bersangkutan harus memiliki paradigma berpikir yang kurang lebih sama dengan dirinya.
Bunuh diri—kemungkinan yang bisa terjadi pada Sisca seperti diyakini Frans—merupakan pilihan eksistensial yang tidak mudah diterangkan secara singkat.
Kurt Cobain dari kelompok musik Nirvana menembak kepalanya dengan pistol dikarenakan sebab yang kompleks berhubungan dengan pencarian diri dan popularitas yang menghantui.
Kita tidak tahu apa yang mendorong Sisca melakukan bunuh diri kecuali kita mengenal sangat dekat dengan dia seperti diteorikan oleh mereka yang dekat dengan Kurt Cobain waktu itu.
Tentang sepatu merah yang ditinggalkan di tembok di pinggir sungai?
Di balik semua yang suram pada salah satu sisi hidupnya, siapa tahu ia ingin dikenang sisi hidupnya yang lain, yang cemerlang, yang ia sadar dan diam-diam ia akui keindahannya.
Apa itu?
Kaki yang indah.
Mengapa tidak.
Frans merujuk film tahun 1960an, The Graduate, sebagai referensi.
Film yang diangkat dari novela dengan judul sama itu menceritakan pemuda bernama Benjamin Braddock, diperankan Dustin Hoffman, terpesona melihat Mrs Robinson yang diperankan oleh Anne Bancroft gara-gara melihat wanita itu mengangkat kaki, meloloskan stocking.

Terjadilah affair antara pemuda yang baru saja lulus kuliah dengan wanita yang lebih tua.
Kemudian Benjamin waras, dan jatuh cinta pada putri Mrs Robinson bernama Elaine.
Di sini Frans memposisikan diri sebagai manusia yang ingin mengenang manusia lain pada sisinya yang paling indah dan membiarkan hal-hal lain menjadi pilihan bebas setiap orang.
Yang ia kenang adalah momen sesaat ketika ia melihat kaki Sisca saat turun dari mobil dulu.
Seperti Ken Arok melihat betis Ken Dedes.
Ia tak tertarik mempersoalkan Sisca mati bunuh diri atau dibunuh.
Bukan hal penting baginya.
Sisca sengaja meninggalkan high heels merahnya sebagai sesuatu yang ia tahu pantas dia tinggalkan sebagai kenangan indah.

Ini sulit dipahami banyak orang, para kriminolog, apalagi polisi.
Sepatu merah adalah ranah manusia yang menaruh kepedulian pada hal-hal tak penting.
Itu sebabnya terhadap pertanyaan Sisca bunuh diri atau dibunuh, Frans menjawab: aku bukan Sherlock Holmes.
Bacaan Frans bukan novel misteri model karya Agatha Christie, melainkan Franz Kafka.
Di sini mengapa Frans jadi demikian.
Pada dirinya tampak absurditas manusia.***
3/9/2025


