Skip to main content
Cerita

Hal-hal tak Penting Episode 10

By September 1, 2025No Comments

La dolce vita.

PASANGAN Wahyu Susanto dan Benita mantu anak perempuan semata wayang, namanya Erica. Sudah lama sekali Wahyu Susanto (panggilannya Toto) maupun Benita menantikan kesempatan ini. Pesta dihelat besar-besaran, termasuk memanggungkan supergroup terkenal tahun 70an yang sekarang masih ada dengan personil para gaek. Mereka menyewa sound systems dari Frans.

Dari perkenalan tersebut Frans menjadi akrab dengan Toto. Toto hobi bermusik. Di rumahnya yang megah di kawasan elit setiap minggu berkumpul teman-temannya latihan band.

Nama band mereka The Legos. Personil semua seusia Toto yang kurang lebih berarti seusia Frans, terdiri dari Hermanto (gitar); Rudy Ong (bas); Abdi (keyboard); dan Toto (drum).

Tahu Frans punya latar belakang musik dan andal main gitar maupun nyanyi, Toto mengajak Frans bergabung—yang meski sebenarnya kurang minat, akhirnya luluh Frans karena Toto terus membujuk.

Tiap Minggu malam The Legos main di kafe milik sahabat Toto, dalam program yang diberi nama “Rock You”.

Diniatkan sekadar mengisi kekosongan Minggu malam, lama-lama program ini malah jadi unggulan.

Tiap Minggu malam kafe ramai sampai berjubel. Pengunjung yang pada mulanya orang-orang berumur meluas ke kalangan anak-anak muda.

Frans mendapat pengagum termasuk cewek-cewek usia belasan/dua puluhan tahun.

Ha-ha-ha….

“BERARTI aku ora ngijeni,” kata Bobby pada Frans dalam bahasa Jawa (artinya: berarti aku tidak sendiri).

Bobby adalah teman lama Frans. Dulu dia pernah terjun ke film.

Saat itu, terbilang masih sore, kafe masih sepi, ia muncul.

Disusul Sartono, wartawan musik.

Frans, Bobby, Sartono, duduk bertiga berbincang minum bir.

Ucapan Bobby di atas menanggapi cerita Frans bahwa pada usia sekarang ternyata masih ada cewek-cewek belia menyukai.

Ia sebut nama cewek yang dipastikan muncul setiap Minggu malam.

“Nanti akan muncul,” kata Frans.

Bobby senyum-senyum.

Dulu ia dikenal sebagai play boy.

Sekarang masih.

“Aku mengalami hal serupa,” ucap Bobby. “Nakal itu bikin sehat.”

Mereka semua anak tua nakal.

“Dulu kami kira yang akan datang pada Minggu malam hanya orang-orang tua. Ternyata sekarang lebih banyak anak muda. Ajaib, mereka suka musik zaman mereka belum lahir,” tutur Frans.

“Loh, anak-anak sekarang ini borderless karena mereka mudah mengakses sumber dari media sosial,” Sartono menyela.

Dia ceritakan bagaimana anak-anak nonton The Wizard of Oz (film musikal klasik tahun 1930an ciptaan Frank Baum) dan langsung hapal lirik lagu Somewhere Over the Rainbow.

“Di sini juga. Saya nyanyi selarik bait Bohamian Rhapsody mereka langsung menyahut. Saya diam saja mereka akan lanjutkan sampai akhir lagu,” kata Frans.

“Kalau lagu-lagu Queen lain kasusnya. Hampir semua lagu Queen mudah dinyanyikan penonton. Dulu itu menjadi persoalan bagi Queen. Aku pernah baca, usai pertunjukan mereka menggerutu. Mereka iri pada Led Zeppelin. Terhadap Led Zeppelin penonton menikmati lagu, bergoyang, memutar-mutar kepala. Pada Queen semua ikut nyanyi,” Sartono menerangkan.

“Susah ngikuti Led Zeppelin nyanyi Communication Breakdown,” Frans menimpali.

“Tiba-tiba Brian May punya ide, mengapa respons penonton tidak justru dijadikan energi bagi Queen,” Sartono melanjutkan cerita. “Maka tercipta We Will Rock You.

“Loh, berarti nama program ini tepat, Rock You,” Frans menyahut.

“Bukankah memang dimaksud demikian?” tanya Sartono.

“Tidak, itu dibikin asal-asalan,” kata Frans. “Berarti benar, tidak ada yang kebetulan di dunia.”

“Tidak ada yang kebetulan, termasuk cewek-cewek muda yang senang boomer,” Bobby menyela. “Baca novel teman kita, MK, Koran Kami with Lucy in the Sky? Saya curiga itu nyata.”

“Sebenarnya di dalam diri manusia hanya ada dua hal: nostalgia dan déjà vu,” Frans berefleksi.

Konser Yuni Shara di Istora, 30/8/2025.
Nostalgia.

MALAM merangkak.

Teknisi The Legos menyiapkan instrumen. Mereka melakukan check sound.

Kafe kian ramai.

Benar. Banyak anak muda.

Pintu terkuak.

Cewek bercelana jeans retro, cutbray dengan kantong-kantong di paha kiri kanan, kaos putih ketat, rambut tebal diikat ke belakang, melangkah masuk kafe.

Dahsyat cantiknya.

“Dia datang…,” bisik Frans.

Si cantik langsung menghampiri Frans.

Frans berdiri mengenalkan Nina kepada Bobby dan Sartono.

“Pretty ballerina,” Sartono berkomentar tentang nama Nina.

Nina senyum. Itu judul lagu ABBA.

Telah banyak orang berkomentar demikian.

Pelayan mengangkat kursi dari meja sebelah, ditambahkan ke meja Frans.

Nina duduk di sebelah Frans.

“Mau minum apa,” tanya pelayan kepada Nina

Ia berpikir sejenak.

“Margarita,” jawabnya.

Obrolan lanjut kesana-kemari.

Kadang pecah tawa bersama.

Nina menyandarkan kepala ke bahu Frans.

Hemmm….

Persiapan panggung beres.

Frans bangkit dari duduk.

Show time akan mulai tepat pukul 21.30.

Meninggalkan meja, Frans sempat mencablek Bobby sambil berbisik: “Kowe ora ngijeni.”

Bobby menahan tawa.

La dolce vita.

Hidup itu indah.***

1/9/2025

Leave a Reply

(enter the number only)