Skip to main content
Cerita

Hal-hal tak Penting Episode 2

By August 12, 2025No Comments

Sedih cerita ttg kaki tidak berlanjut padahal dari situ ada cerita ttg orang.

ITU pesan dari teman baik saya, Ninuk, dikirim via WA menanggapi tulisan saya  Perayaan Hal-hal tak Penting. Kami telah lama berteman (kata-kata itu sering diucapkan Hari Budiono), dan kalau saya refleksikan pertemanan sejati umumnya didasari oleh hal-hal tak penting.

Minus kepentingan pertemanan jadi lebih innocent.

Untuk dia saya ingin melanjutkan cerita mengenai hal-hal tak penting.

SEORANG wanita dilaporkan hilang di sungai terkenal yang membelah kota. Ia meninggalkan mobilnya di pinggir sungai bagian barat yang tidak terlalu ramai seperti sisi sungai bagian timur yang selain terdapat museum dan galeri juga dipenuhi restoran dan kafe.

Tim SAR dan pihak berwenang sibuk melakukan pencarian.

Mereka menemukan sepatu perempuan, high heel warna merah di atas tembok di bibir sungai yang segera mengundang kecurigaan, jangan-jangan wanita itu mencemplungkan diri di sungai.

Dalam waktu tak terlalu lama media massa apalagi media sosial ramai dengan kabar mengenai hilangnya seorang wanita.

Segala spekulasi tentang wanita yang hilang tersebut menjadi sorotan: brand mahal sepatu merah yang ditinggalkannya, merek mobilnya (produk ternama dari Jerman edisi terbaru dan terbatas alias limited edition), kapan kira-kira dia meninggalkan mobil yang ia biarkan tak terkunci (sepertinya pagi hari ketika wilayah itu masih sepi), ada apa saja di dalam mobil (tissue, jepit rambut, hand sanitizer, secuil biskuit), dan lain-lain yang mungkin selain penting untuk menelusuri keberadaan si wanita tapi jelas lebih penting lagi untuk menarik perhatian orang-orang atas perkara serupa ini.

Clickbait, sebutannya.

Tak lama kemudian tim SAR memang menemukan jasad wanita di dasar sungai.

Informasi menderas, mengalir sama derasnya dengan arus sungai: nama si wanita, umurnya, siapa suaminya, latar belakang sosialnya, adakah dia korban pembunuhan atau mati bunuh diri (yang terakhir itu kemudian yang lebih diyakini), dan seterusnya.

TOKOH yang saya ceritakan pada Perayaan Hal-hal tak Penting adalah Frans. Ia sebenarnya kurang tertarik pada berita mengenai tenggelamnya wanita di sungai, tapi pada zaman ini, kita tidak mencari informasi sekali pun informasi datang menghampiri kita.

Susah menanggulanginya bahkan andikata kita tinggal di goa.

Dari ketidak-pedulian, tiba-tiba Frans tersentak ketika dikabarkan siapa nama wanita itu: Sisca Hartono.

Jelas dia.

Dulu Sisca Hastoyo.

Ada sedikit perbedaan pada nama belakang, sejak menikah Sisca tidak lagi memakai nama ayahnya, Hastoyo, tetapi nama suami, Hartono.

Nama itu ia pakai beberapa tahun lalu, persisnya kapan Frans mencoba mengingat-ingat tapi lupa.

Ingatan manusia kian pendek.

SEPERTI saya katakan, Frans kurang tertarik pada banjir bandang informasi yang merupakan gejala utama zaman ini (dia menyebutnya trivial issues).

Bukan kronik peristiwa yang dia ingat, tapi ia tenggelam dalam nostalgia.

Nostalgia: ia ingat secuil kenangan ketika menunggu Sisca di lobi utama sebuah mal dulu.

Saat mobil Sisca tiba yang diperhatikannya pertama-tama waktu itu adalah terbukanya pintu belakang, dan kaki wanita yang indah dengan selop mahal terjulur keluar.

Dari pemandangan tadi, lahirlah premis dia: sensualitas wanita terletak pada kakinya.

Sorga, demikian saya terangkan pada episode sebelumnya, ia yakini memang terletak di kaki ibu yang notabene kaki wanita.

Hanya saja pendapat Frans berubah belakangan.

Seperti biasa, suatu malam ia bermain bilyar bersama Haris.

“Sejak meninggalnya Sisca setiap kali melihat kaki wanita dengan high heel terutama warna merah saya tidak lagi melihat sorga, tapi tragedi,” kata Frans sembari bersiap menyodok bola.

“Selain itu juga sudah kurang musim,” tukas Haris. “Mereka lebih suka pakai sneakers. Kasual dan lebih kekinian,” tambah Haris.

“Betul, lebih menarik. Kayak girl next door,” Frans setuju.

Giliran Haris kemudian menyodok bola.***

12/8/2025

Leave a Reply

(enter the number only)