HARIS mengenalkan Frans kepada Emma, keponakannya yang sekolah di Australia yang tengah berlibur di Tanah Air.
Pada keluarga besarku, demikian Frans ingat Haris pernah bercerita, biasa terjadi perkawinan antar keluarga. Perkawinan antar sepupu, paman menikahi keponakan, tante menikah dengan ipar, dan seterusnya.
“Misalnya begini, taruhlah saya menikah dengan anak perempuan sepupu saya, itu bisa terjadi pada keluarga besar kami. Hanya satu-dua orang luar masuk dalam lingkaran kawin-kemawin antar keluarga ini. Sering sekali keluarga besar kumpul-kumpul. Kebetulan kami semua rata-rata suka makan enak dan pesta-pesta. Hampir sebulan sekali kami kumpul-kumpul,” cerita Haris membikin Frans takjub.
Emma mengikuti program di sekolah masak terkenal Le Cordon Bleu di Sydney.
Rupanya ia hendak meneruskan usaha restoran orangtuanya.
Satu hal lagi yang Frans tahu, keluarga besar Haris banyak yang buka usaha restoran dan catering.
YANG saya sendiri tidak duga tentang hal-hal tidak penting yang hendak saya ceritakan kali ini, ketika Frans jalan-jalan di mal untuk merestorasi mood atawa suasana hati, ia menemukan pengalaman tak terduga.
Bosan cuci mata dan menjelajahi semua sudut mal, Frans berdiri di gerbang lobi utama. Ia bingung memutuskan hendak kemana lagi.
Ia memperhatikan orang keluar-masuk.
Taksi warna biru berhenti di depannya.
Pintu belakang sebelah kiri terbuka, disusul kaki jenjang terjulur keluar.
Kaki yang bagus, dengan sneakers biru muda, Frans memperhatikan.

Ketika si empunya kaki muncul, bukan alang-kepalang kagetnya Frans: Emma.
“Oom…,” seru Emma.
Seperti kepada Haris, Emma memanggil Frans oom.
Frans bengong.
“Oom seperti orang hilang. Mau kemana?”
“Tidak tahu. Saya habis jalan-jalan, bingung menentukan hendak kemana.”
Emma tertawa.
“Mengapa tidak ngopi berdua saya?” ucap Emma.
Sebagaimana pengalaman konkrit yang pernah saya alami, Frans bungah mendengar tawaran Emma.
Dia mengikuti langkah Emma.
MENGINGAT tulisan saya pada episode sebelumnya, bagaimana kira-kira Frans merefleksikan pertemuannya yang tak terduga dengan Emma?
Frans kaget ketika sadar bahwa tempat dia berdiri tadi adalah Pearl Gate, dekat Le Sebastian Café, tempat dia menunggu Sisca beberapa tahun lalu.
Yang pertama kali ia perhatikan ketika Sisca tiba ketika itu adalah kaki yang terjulur keluar dari pintu belakang sebelah kiri Mercedes hitam.
Ia terpukau oleh kaki dengan dengan selop hitam berhias rantai keemasan dengan asesori bulatan-bulatan serupa mutiara.
Kali ini, kaki dengan sneakers biru muda.

Entah bagaimana—ini sangat tidak penting—mereka melangkah ke kafe yang sama seperti dengan Sisca dulu.
Emma memesan gelato.
Frans memesan espresso.
“Apakah Emma bisa renang?” tanya Frans.
Emma terbelalak, tidak habis pikir mengapa tiba-tiba muncul pertanyaan serupa itu.
“Tentu saja,” jawab Emma. “Waktu kecil saya belajar loncat indah. Orangtua ingin saya jadi atlet loncat indah.”
Frans menarik napas lega.
“Apakah Oom Frans hobi renang?” Emma balik tanya.
“Tidak,” jawab Frans. “Saya bahkan tidak bisa renang.”
“Tidak masalah. Entah di sungai, danau, laut, Oom aman bersama saya. Saya bisa menyelamatkan Oom,” ucap Emma dibarengi tawa ramai.
KIRANYA jelas, pertanyaan tadi muncul karena Frans melihat betapa serupanya pengalaman kali ini dengan yang ia alami bersama Sisca bertahun-tahun sebelumnya.
Bedanya Sisca memakai selop kulit dari brand ternama, Emma dengan sneakers yang boleh jadi juga dari brand ternama (ia kurang mengikuti perkembangan sneakers yang sedang menjadi trend).
Kaki mereka sama-sama indah.
Keduanya memakai one piece dress.
Pada wanita yang tepat OOTD[1] seperti itu memberi kesan anggun.
Menyamarkan rasa ingin tahu melalui pembicaraan ringan, Frans jadi tahu zodiac Emma sama persis zodiac Sisca.
Tiba-tiba Frans khawatir pada kebenaran hipotesis bahwa hidup tidak berjalan linear melainkan berupa siklus.
Pengalaman yang sama akan terulang.
Itulah yang mendorong Frans bertanya apakah Emma bisa renang, dan lega ketika tahu bahwa Emma bukan hanya bisa, tapi jago.
Emma tak akan mati tenggelam di sungai seperti Sisca.
Beberapa hari kemudian Frans bertemu Haris.
“Kamu ketemu Emma?” tanya Haris.
“Ya. Kami ngopi berdua.”
“Ngobrol apa saja? Dia pintar bikin cake,” kata Haris.
“Itu tak penting bagiku. Yang penting dia bisa renang,” ucap Frans.
“Oh dia cerita juga. Dulu ia digadang-gadang jadi atlet loncat indah. Ia juga pintar ballet,” kata Haris.***
16/8/2025
[1] OOTD singkatan outfit of the day


