Skip to main content
Cerita

Pada Suatu Musim Semi

By July 30, 2026No Comments

PADA hari kedua libur massal untuk merayakan tibanya musim semi, muncul kabar mengagetkan yang dengan seketika membuat rakyat meledak dalam kegembiraan: presiden mati pagi ini. Peristiwa tahunan perayaan musim semi yang biasanya berupa acara keluarga, semua orang pulang kampung berkumpul dengan sanak saudara dan handai taulan, berubah jadi acara sosial. Seluruh penduduk kota di mana saja, besar-kecil, tua-muda, anak-anak-orang tua, laki-perempuan tak pandang status, pangkat, derajat, menghambur ke jalan, lapangan, taman, terminal, dan tempat-tempat umum lainnya.

Histeria pecah di mana-mana. Mereka menyanyi, joged-joged, saling rangkul dan bergandeng tangan, berguling-guling, koprol, ngayang, menceburkan diri di kolam, berenang di lumpur, adu seruduk dengan kambing, ada pula yang saking gembira menangis tersedu-sedu, selain yang pilih menyepi dan mengucap doa. Kecoa dan tikus dari gorong-gorong yang tak terurus keluar ke jalan-jalan, tak ada penduduk merasa terganggu karena lingkungan jorok dan kotor merupakan bagian sehari-hari kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar penduduk di seluruh negeri.

Presiden tinggal agak di pinggir ibukota, di atas bukit dikelilingi benteng dengan pintu gerbang besi. Di dalam kompleks—entah benar atau tidak karena tidak banyak yang memiliki privilege bertandang ke situ—berdiri beberapa bangunan. Bangunan utama adalah tempat presiden biasa menerima para menteri dan tamu, lalu ada tempat tinggal para pembantu dan pengawal, arena rekreasi, olahraga dan latihan tempur, kebun binatang disertai kandang macan, serta garasi berisi beberapa mobil pribadi, truk, dan panser.

Kamar tidur presiden berada di bangunan bekas kandang kuda. Selain kamar tidur terdapat ruang tamu, ruang bersantai, ruang makan, serta taman yang tersambung jalan setapak menuju kolam dan kandang burung merak. Tidak ada ruang baca apalagi perpustakaan karena presiden konon tidak bisa baca tulis, ia memerintah melalui seruan kata-kata dan kekuatan fisik. Pintu utama terbuat dari lembaran kayu ulin utuh yang lebarnya tak akan bisa ditemui lagi pohonnya pada abad ini dari hutan negeri yang kian menipis. Kunci pintu hanya satu di tangan presiden tak ada kunci cadangan.

Dibutuhkan panser untuk bisa mendobrak pintu tersebut tapi pagi itu seorang pembantu yang bertugas memelihara taman melihat daun pintu sedikit terkuak. Beberapa hari presiden tidak menampakkan diri. Dia dengan menggubah nyali tukang taman menjadi nyali macan mendekati pintu, mengintip ada apa di dalam. Iseng, cuma dengan dorongan jari telunjuk, daun pintu terkuak lebar.

Petugas taman melihat sosok yang dikenalnya sebagai presiden, mengenakan pakaian seragam warna hijau lengkap bersepatu, tertelungkup di lantai. Apakah tuan presiden biasa tidur seperti itu, pikirnya. Presiden tinggal sendiri tanpa anak maupun istri. Tidak ada yang tahu apakah di bangunan tanpa kunci cadangan ini presiden punya kebiasaan tidur di ranjang, sofa, kursi, atau bahkan di lantai seperti ini.

Lagi-lagi dengan mengerahkan segala keberanian dan bibir komat-kamit merapal mantra penjinak binatang ia jalan sedikit berjinjit, pelan-pelan mendekati tuannya. Presiden tidak bergerak. Kepala bertele di atas tangan kanan. Presiden mengenakan arloji di tangan kanan. Tidak  ada tanda-tanda bernapas. Petugas taman melihat ada sedikit buih dan darah menggenang di lantai di bawah mulut  presiden.

Dengan panik ia berbalik berlari keluar dan berteriak: presiden meninggal. Kesigapan seluruh penjaga dan pengawal bangkit. Mereka berhamburan menuju wisma tidur presiden. Bersamaan dengan itu kabar menembus dinding kastil. Seperti bola salju ia menggelinding dari atas bukit berubah menjadi berita besar, bahwa presiden telah meninggal dunia.

Keheningan kelopak bunga yang mekar pada musim semi robek oleh hiruk pikuk kabar meninggalnya presiden. Entah mendapat tambahan dari mana, rakyat menerima kabar bahwa presiden meninggal bukan karena jatung atau darah tinggi seperti mereka harapkan melainkan karena prostat dan epilepsi.

UMUR berapa presiden tak ada yang ingat tapi yang pasti telah tua sekali, banyak yang lahir seusai masa perang mengira dia satu-satunya presiden dan berpikir bahwa di seluruh dunia presiden memang cukup satu untuk selamanya. Sepanjang waktu sepanjang masa penampilan presiden seperti itu-itu saja, mengenakan seragam hijau militer dengan banyak bintang dan tanda pangkat, baret kotak-kotak hitam putih seperti papan catur, berkacamata hitam menutup tiga perempat wajah.

Tidak ada yang tahu persis wajah presiden termasuk adakah kerut-kerut di muka karena seluruh rakyat hanya bisa melihat dari jarak jauh ketika presiden tampil di podium di lapangan depan istana, berpidato dengan suara serak. Pidato dan perintah presiden selalu disiarkan oleh radio penguasa, biasanya disusul pemberitaan oleh kantor berita resmi milik pemerintah. Seluruh koran memberitakan sama sampai ke titik koma, mengutip kantor berita resmi.

Pernah dalam suatu acara ketika musim angin kencang, baret presiden lepas tertiup angin. Dengan sigap ajudan mengenakan kembali baret di kepala presiden. Hanya dia satu-satunya makhluk hidup punya hak menyentuh kepala presiden. Tak jelas apakah baret yang dia tutupkan kembali ke kepala presiden merupakan baret yang sama, atau baret lain yang telah disiapkan. Andaikata yang terjadi adalah yang kedua berarti tugas ajudan termasuk membawa cadangan baret, kacamata, tanda pangkat dan lain-lainnya karena dengan copotnya satu atribut dianggap presiden tidak lagi seperti presiden.

Sebelum beredar kabar meninggalnya presiden ratusan burung pemakan bangkai berterbangan di atas bukit tempat tinggal presiden. Banyak orang melihatnya tapi tidak ada yang mengira bahwa itu merupakan pertanda akan meninggalnya presiden. Saking lamanya hidup dan berkuasa, rakyat mengira bahwa dengan tim dokter berikut kecanggihan teknologi medis ditambah lagi mukjizat langit presiden bakal hidup selamanya.

Pesta rakyat merayakan kematian presiden makin panas. Ada yang meledakkan petasan, rakyat jelata mencopot kalender bergambar presiden di dinding rumah reot mereka, membawa ke jalan dan membakarnya. Mereka lupa, sampai sejauh ini pihak istana sama sekali belum mengeluarkan pernyataan resmi bahwa presiden meninggal dunia.

Kaget seluruh rakyat negeri ketika menteri pertahanan mengeluarkan pernyataan resmi melalui radio yang segera diiikuti semua koran dengan stop press bahwa presiden dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa.

Pesta rakyat layu seketika. Semua orang tertunduk lesu kembali ke rumah masing-masing. Kota menjadi sepi, tidak ada sepotong makhluk di jalanan, yang tersisa hanya sampah, daun kering diterbangkan angin, melankolis seperti tanah harapan yang tiba-tiba ditinggalkan penghuninya.

Pagi berikutnya, usai libur massal musim semi, presiden tampil di podium depan istana, meminta rakyat untuk menjaga ketenangan. Apa yang terjadi kemarin ia lihat sebagai ungkapan cinta rakyat terhadapnya. Bisa dipahami rakyat meluapkan kesedihan di jalanan karena berada di dalam rumah, sunyi dalam suasana duka, akan membuat hati kian nelangsa. Keramaian kemarin adalah bukti dari perasaan duka cita yang mendalam. Ia mengucapkan terima kasih atas cinta rakyat padanya.

 

MUSIM berganti. Setiap musim semi tiba, banyak orang teringat peristiwa tadi. Bahkan jauh di kemudian hari ketika ribuan musim berganti dan sebagian rakyat yang menjadi saksi kejadian tersebut telah kembali ke alam baka, presiden tetap hidup, tak ada yang berkurang pada dirinya termasuk tanda pangkat, bintang, lencana, baret, dan kacamata.

Berkali-kali rakyat melihat gugusan burung pemakan bangkai melayang-layang di atas bukit tempat kediaman presiden, tapi mereka sudah tidak lagi percaya bahwa gejala ini merupakan pertanda akan tibanya kematian. Kekuasaan boleh jadi bau bangkai, tapi nyatanya bisa bertahan hidup sepanjang masa.***

 

 

Leave a Reply

(enter the number only)