Wilayah oblivious.
DI daerah pinggiran antara ibu kota dengan daerah baru yang berkembang pesat, terdapat sepotong wilayah lawas yang tak lama lagi dipastikan akan tertelan pembangunan menjadi bagian kota mandiri, menjelma jadi city hub baru.
Demikian selama ini pola perkembangan kota.
Di wilayah antah berantah tersebut ada warung sambel tumpang atau sambal koyor, masakan khas langganan komunitas yang berasal dari suatu kota kecil yang tinggal di ibu kota.
Sejauh-jauh orang terbang, dalam kopornya isinya sebenarnya cuma dua: nostalgia dan makanan lama.

Foto: Yuli
FRANS ke situ bersama sopirnya, Asep, yang lebih pandai membaca google map dibanding dirinya.
Keduanya makan bersama.
Citarasanya pas, seperti yang dulu.
“Mas Frans…,” seseorang menegurnya.
Frans menoleh.
Wanita yang menegurnya tersenyum.
Saha eta…
Berkacamata, ada tahi lalat di atas bibir, berhijab, Frans mencoba mengingat-ingat siapa gerangan dia.
“Tika. Tumapel,” wanita itu menjelaskan diri.
“Tikaaa,” Frans ingat seketika.
Dulu Tika adalah penyanyi Tumapel. Termanis di antara yang manis penyanyi-penyanyi lainnya. Dulu rok ketat, sepatu hak tinggi, sekarang sepatu kets.
Frans memperhatikan dari atas sampai bawah.
Masa itu zaman sexy, masa sekarang zaman beriman.
Ia ketawa dalam hati.
Ingat gambar gadis di bak truk dengan tulisan: Sexy Tapi Beriman.
“Kamu tambah manis. Dan beriman,” Frans melontarkan apa yang ada di benak.
Tika tergelak.
“Mas Frans tidak berubah. Tetap kocak. Tadi saya perhatikan dari belakang, kok seperti Mas Frans. Saya kemudian yakin, apalagi berada di tempat ini,” kata Tika yang berasal dari kota yang sama.
Demikianlah, orang mudah dikenali kalau ada konteksnya.
Tanpa konteks, agak susah mengingat-ingat manusia.
Yang tetap merupakan misteri bagi Frans adalah Kirana yang panggilannya Nani.
Melalui Haris ia tahu konteks sosok ini: sastra Inggris, pesta, Vespa, Rex, dan beberapa hal lagi.
Oleh Haris ditunjukkan foto Kirana yang panggilannya Nani.
Frans perhatikan foto: bersedekap tangan, rambut hitam lurus, terurai di dada agak di bawah bahu.
Bibirnya tipis, hidung mancung.
Toh Frans tetap tidak bisa menemukan dia.
Bagaimana Kirana alias Nani bisa sama sekali lenyap dari memorinya, bahkan ketika sosoknya ada dan konteksnya tersedia.
Dia telanjang pun jangan-jangan saya tidak mengenalinya, pikir Frans.
(Jelas pikiran Frans ngaco. Yang bikin orang ingat atau pangling adalah busana, bukan ketelanjangan alias wudoh).
TENTANG apa yang dialami Frans saya ingin memaparkan pengalaman pribadi. Lebih dari 30 tahun jadi wartawan, saya menyimpan kliping-kliping tulisan lama. Bukan dalam bentuk digital, tapi konvensional.
Tulisan di koran dipotong, ditempel pada kertas, diberi keterangan tanggal dan tahun pemuatan. Pekerjaan itu dulu dilakukan office boy.
Saat pensiun, kliping-kliping yang telah dibendel diberikan saya, selain sebagai tanda mata, juga karena kantor tak punya tempat untuk menyimpannya.
Jumlahnya ribuan. Saat mengangkut dari kantor saya ingat bagasi mobil hampir tak muat.
Sesekali membuka-buka kliping tersebut sekarang ini, sering saya mendapati tulisan tentang tokoh atau apa saja, yang meski lengkap narasinya, saya tidak mampu mengingat bagaimana saya di tengah itu semua.
Tentang tokoh terkenal, bintang film cantik sekali misalnya, disertai foto dan wawancara dengannya, saya tidak bisa mengingat bagaimana waktu itu peristiwa terjadi (padahal menyangkut wanita cantik biasanya saya gampang ingat).
Lengkap dengan konteks mengapa dan di mana wawancara dilakukan pun kadang saya tetap tidak merasa terhubung dengan peristiwa tersebut.
Meski runtun penuturannya, semua seperti bukan pengalaman saya.
Seperti pengalaman orang lain.
Padahal jelas, di situ tertulis nama saya sebagai penulisnya.
Kredit foto pun atas nama saya.
Apakah saya tengah terasing dari pengalaman sendiri?
Atau—ini yang paling mengkhawatirkan saya—adakah peristiwa yang saya tulis sebenarnya tidak pernah terjadi, tidak pernah ada?
Dengan kata lain saya cuma mengarang-ngarang?
Apakah sebetulnya selama puluhan tahun yang namanya fakta sebenarnya cuma karangan saya.
Dalam hal itu, apakah benar inti ajaran sistem kepercayaan yang saya menjadi simpatisannya, bahwa dunia sejatinya cuma ilusi?
Termasuk fakta, data, angka, hasil survei, semua hanya ilusi?

“Mas Frans masih sering ketemu teman-teman lama? Mbak Ratih, Mbak Lastri, Ira, dan lain-lain…,” tanya Tika.
Frans berpikir sejenak.
“Penginnya demikian, tapi tidak banyak yang bisa saya ingat sebagaimana tadi seketika saya mampu ingat Tika,” jawab Frans serius.
“Mas Frans tetap seperti dulu. Gomballl.”
“Saya serius,” Frans membela diri.
“Ih….”
Kebiasaan Tika berekspresi demikian pun, sumpah, Frans ingat.***
31/8/2025


