Skip to main content
Cerita

Bathari Kilisuci

By December 31, 2022No Comments

Mungkin karena tidak dianggap sesuatu yang istimewa, atau juga terbiasa tidak mencampuri urusan orang lain, di distrik Ekkamai-Ramintra, Bangkok, warga setempat tak terlalu peduli pada lelaki berambut putih yang sering mereka temui di stasiun Ekkamai.

Kereta datang dan pergi.

Ia senantiasa duduk di situ, di bangku beton di atas peron menghadap arah kuil Wat That Thong.

Kadang bicara sendiri, dengan bahasa yang tidak dimengerti orang yang kebetulan mendengarnya.

Apa pula istimewanya. Di sini banyak ekspatriat dari berbagai negara dengan bahasa berbeda-beda. Jepang, Korea, India, dan lain-lain termasuk dari Eropa dan Amerika.

Jika di sebuah kota dengan berjalan kaki lima menit dari tempat tinggal kita menemukan kafe, supermarket, stasiun, dan fasilitas publik lainnya, kota tersebut disebut “liveable city”.

Sebaliknya kalau lima menit melangkah dari tempat tinggal menemukan bar dan kios jualan ganja, kota itu “loveable city”.

Love. Kiss.

Di distrik Ekkamai-Ramintra tinggal manusia dengan berbagai latar belakang.

Termasuk lelaki Amerika, panggilannya Arnie, mengaku penulis, katanya tahun 1967 ikut meliput Woodstock.

Joan Baez, Carlos Santana, Ravi Shankar, Joe Cocker, Janis Japlin, Jimi Hendrix, CCR, ia ngoceh menyebut nama-nama pemusik.

“Saya masih ingat, Martin Scorsese ikut-ikutan mengabadikan pesta musik itu dengan kamera film. Masih muda sekali, sama sekali belum terkenal. Dia kelelahan dan tertidur di pinggir panggung,” Arnie bercerita.

Entah benar atau tidak, soalnya pada saat bercerita pria gaek tadi sambil mengisap ganja di pub di Phra Khanong tak jauh dari sini.

Mungkin dia tidak sadar bahwa ini abad ke-21, bukan zaman Grateful Dead.

Lelaki di stasiun Ekkamai senyum-senyum sendiri mengingatnya.

“Mengapa engkau senyum-senyum sendiri I Put a Spell on You….”

Terdengar suara yang sangat ia akrabi.

Cahaya, yang telah diberinya nama Since I’ve been Loving You, muncul.

Hanya cahaya memanggil lelaki itu I Put a Spell on You.

Seperti biasa cahaya langsung duduk di sebelahnya.

Menumpangkan kaki. Kakinya bagus.

Agak chubby.

“Engkau tidak merayakan tahun baru?” tanya lelaki itu pada Since I’ve been Loving You.

Malam ini persis tanggal 31 Desember.

“Kategori tahun lama tahun baru hanya berlaku pada manusia wadag. Di dunia cahaya waktu tidak mengenal sekat, kemarin, esok, hari ini sama saja. Infinite, tidak terbatas,” kata Since I’ve been Loving You.

I Put a Spell on You tertarik pada ucapan lawan bicaranya.

“Tapi engkau seakan-akan punya jadwal. Kapan datang dan pergimu telah menjadi rutin bagiku,” ucap I Put (untuk kepraktisan, sekarang begitu saja saya menulisnya).

“Itu beda,” tukas Since (dengan alasan sama mari kita singkat nama cahaya dengan Since—boleh dibaca sebagai Sin-ce sebagaimana kalian mengucapkan Lince, Nance, Diece, Hance, dan lain-lain). “Kami semata-mata mengikuti siklus alam. Di dunia cahaya yang tidak mengikuti siklus alam akan terpental keluar dari galaksi kehidupan. Hilang entah kemana.”

“Ooh, aku jadi paham. Yang tidak setia pada jalannya alam akan kewalahan.”

“Tentu saja engkau paham. Mengapa sebagian besar kalian makhluk wadag tidak bisa ketemu cahaya karena mereka telah meninggalkan alam sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dikuasai science. Science before matters, bukan sebaliknya, matters before science.

Kenyataan adanya di alam, makanya seperti itu tadi, ilmu sumbernya di alam, oleh karenanya ilmu juga harus dikembalikan ke alam.

Bagaimana cara mengembalikannya? Melalui masyarakat dan kebudayaan.”

Since berhenti sejenak.

I Put terpana, tidak mengira Since secerdas ini.

Seingatnya, sebelumnya Since tidak pernah bicara panjang lebar.

“Sebelumnya engkau tidak pernah berkata panjang lebar,” I Put mngemukakan apa yang ada dalam pikirannya.

“Karena engkau tidak bertanya. Yang kelewat bertanya tidak memperoleh jawaban, yang tidak bertanya tapi melakukannya dengan tekun dan setia akan menemukan jawaban,” kata Since.

I Put kian terpesona, ingat semasa retreat di kuil Shaolin di Zengzhou.

Itu tadi adalah ucapan guru Zen.

“Bolehkah aku tahu asal-usulmu. Dulu kamu menyebut diri berasal dari Cungko. Lalu pindah ke Jawa Timur, Trowulan. Apakah dirimu bagian dari sejarah hubungan kekuasaan pada masa itu?”

“Tidak,” tukas Since. “Sama sekali tidak ada hubungannya. Aku datang beratus-ratus tahun sebelumnya tatkala sesuai sifat alam pula, semua makhluk, all the sentient beings, tidak dibeda-bedakan.

Pada masa yang engkau sebut tadi, yang datang dari Cungko kemana-mana termasuk ke negerimu hanya kaum laki-laki. Telah beristri atau pun perjaka ting-ting, kemudian mereka mengawini perempuan setempat.

Lahirlah yang kalian sebut Peranakan.

Cantik-cantik, tetapi tetap beda dengan diriku.

Aku asli, berasal dari Suzhou, kota wanita cantik, datang dari negeriku atas kehendak sendiri sembari menari-nari.”

“Oooh ya, aku jadi ingat. Dulu kamu telah mengatakan padaku datang ke sini dengan menari,” kata I Put. “Bagaimana bisa semerdeka dulu itu kalau mengingat dirimu perempuan?”

“Pertanyaan menarik. Seperti kukatakan tadi, alam tidak membeda-bedakan segala makhluk. Dikarenakan sistem kepercayaan, agama, dan kekuasaan, kemudian muncul perbedaan-perbedaan.

Jadi perbedaan-perbedaan itu tidak natural atau alami, tapi kultural.

Manusia yang menciptakannya.

Melalui rekayasa kebudayaan.

Di negerimu praktik pembedaan kian gawat. Wanita dianggap liyan. Gara-gara terpengaruh kultur gurun.

Ingatkah engkau bahwa ratusan tahun lalu kalian punya Ratu Shima, wanita yang sangat berkuasa, adil, menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran. Yang mencuri dipotong tangannya, bukan malah diampuni dan disembah-sembah.

Kebobrokan bukan dibenahi kini tapi ditutup-tutupi.

Kalian sekarang terlalu jauh dari masa itu. Kalian menjadi munafik, pembohong, tidak jujur, culas. Dari segi moral dan nilai kalian telah hancur.”

I Put a Spell on You terkesiap.

“Terpaksa semua ini kukatakan padamu karena aku prihatin melihat kehidupan negerimu,” ucap Since.

Sontoloyo memang,” I Put mengumpat.

“Jangan suka mengumpat. Jagalah mantramu,” Since memperingatkan.

Baginya Since I’ve Been Loving You tambah menarik.

Bukan hanya kakinya, tapi juga pikirannya.

“Kalau bukan sebagai bagian dari kekuasaan kerajaan, lantas apa yang engkau lakukan pada masa itu?” tanya I Put.

“Aku pedagang,” jawab Since.

Aneh.

“Penari dan pedagang?” tanya I Put.

Since I’ve been Loving You tertawa.

“Aku membuka gudang di pelabuhan penting negerimu tak jauh dari Trowulan. Seluruh perdagangan berlangsung di situ, sebelum kemudian Portugis menguasai Malaka dan pusat perdagangan berpindah ke sana.

Saat itu aku sebenarnya juga telah mulai lelah. Perlahan-lahan aku  mengundurkan diri dari perdagangan.

Aku menyepi, menentukan untuk bertapa. Di sebuah lembah diapit tiga gunung. Gunung Anjasmoro, Gunung Penanggungan, Gunung Welirang.

Mengikuti jejak perempuan agung negerimu yang pernah kudengar namanya: Kilisuci.”

Angin subtropik berembus.

Dingin dan kering.

Edan, pikir I Put a Spell on You.

Ada wanita dengan jejak sedemikian luar biasa.

Ia tidak tahu harus berkata atau bertanya apa.

“Bagaimana dengan gudang-gudangmu?” ucapnya asal-asalan.

“Kujual. Gudangnya banyak. Tidak satu dua. Semua kujual.”

“Sayang…,” komentar I Put.

“Tidak ada yang perlu disayangkan. Detachment. Melepaskan.

Zaman juga perlahan-lahan berubah.

Aku sudah melihat tanda-tandanya ketika itu. Dan benarlah, ratusan tahun setelah itu masuk agama baru, melindas dan meniadakan segala hal yang lama.

Segala yang berbeda dipersekusi, dibasmi.

Kerajaan pindah ke pedalaman.

Kemunduruan demi kemunduran terjadi.

Perempuan kian disingkirkan.”

I Put a Spell on You kehilangan kata-kata.

Malu.

“Aku tidak menyangka di malam tahun baru engkau muncul dan berkata-kata seperti ini,” ucapnya. “Seharusnya aku tidak memberimu nama Since I’ve been Loving You.”

“Suka-suka kamu. Andai kamu mau mengubahnya pun gak papa,” katanya.

“Aku senang kalau engkau nurut,” kata I Put a Spell on You.

Since I’ve been Loving You tertawa. Ia pikir lawan bicaranya ini memang agak sedikit gesrek.

Masak sosok dari dunia cahaya dia kira nurut padanya.

Dasar Min Kebo, pikir Since. Pantas panggilanmu Min Kebo, disingkat MK (tanpa diketahui banyak orang, MK sejatinya dimaksud oleh lelaki rambut putih itu adalah Milan Kundera).

“Jadi akan engkau ubah apa namaku?” tanya Since I’ve been Loving You penasaran, pengin tahu lebih lanjut ilmu pengawuran lawan bicaranya.

“Mulai tahun ini namamu adalah Bathari Kilisuci,” kata MK.

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon.

Persis pada saat itu langit Ekkamai menyala.

Keduanya menengok angkasa.

Kembang api meletus di mana-mana menciptakan cahaya warna-warni di seluruh langit Bangkok.

Toh ada cahaya lebih terang.

Cahaya mahacahaya.

Namanya kini Bhatari Kilisuci.***

31/12/2022

Happy New Year untuk kerabat Lima Gunung; Palmerah; Kebon Jukut/Tugu; Banjarsari; Jombang; Mojosari; Hongkong; Melbourne; Sydney; Amsterdam; Malang; Salatiga; Yogya; Bangkok; Laos; Vietnam; Guangzhou; Gunung Kidul; Keramas; Canggu; Negara; Payangan; Cirateun; Solo; Magelang—dan lain-lain dan yang di sarang angin. 

Leave a Reply