Skip to main content
Cerita

Pulang dari Roma

By April 15, 2024No Comments

BIR terenak di dunia konon adalah bir dari Belgia, lebih khusus lagi bikinan para biarawan dari biara atau trapis alias tarekat religius di negeri itu.

Mampir sowan Dubes RI untuk Vatikan di Roma, Michael Trias Kuncahyono, teman baik ini menyodorkan botol bir berbentuk gendut pada saya.

Saya amati label merah pada botol berukuran tak seberapa besar ini:

Peres Trappistes. Ale brewed in Belgium at Scourmont Abbey.

Saya kaget. Inilah bir yang selama ini cuma saya dengar namanya, dibikin para biarawan di biara di dataran tinggi Scourmont, bagian dari provinsi Chimay, Belgia.

Tak perlu saya tanyakan dari mana Pak Dubes mendapatkannya.

Sebagai dubes untuk Vatikan, seluruh warga yang ia urusi adalah para biarawan dan biarawati.

Dia sering mengunjungi biara-biara di berbagai kota di Itali.

Tahu banyak soal kontemplasi, pengabdian, dan kekaryaan mereka.

Dalam hati saya doa panjang sekali sebelum meminum bir pemberian Pak Dubes laksana meminum air suci.

(Tanah untuk kaki/kapak untuk tangan/bunga untuk mata/burung untuk telinga/jamur untuk hidung/senyum untuk bibir/lagu untuk paru-paru/keringat untuk kulit/bir untuk pikiran… yang mengajari mantra ini Tanto Mendut)

Diberinya saya beberapa botol yang sebagian saya bawa pulang ke Tanah Air dengan doa tidak akan akan menimbulkan masalah di bandara—dan nyatanya memang tidak.

Dubes Trias berdoa di Gereja Santa Andrea, Orvieto

PULANG kembali Tanah Air dua hari sebelum Lebaran saya melihat arus mudik kendaraan di jalan-jalan. Beberapa membawa bontotan di atas kap mobil.

Saya merasakan getaran kebahagiaan pulang kampung.

Merasa bakal hanya saya yang tertinggal, di rumah sendirian di Jakarta.

Jetlag pula.

Jadwal tidur kacau, kehilangan orientasi ruang dan waktu.

Saya coba atasi dengan bir yang saya bawa dari Roma, sebelum kemudian saya menemukan kebahagiaan, suasana hangat di tengah keluarga di kota kecil kampung halaman.

Ya, pulang kampung.

Seluruh keluarga, kakak-kakak, sepupu, dan keponakan-keponakan termasuk anak-anak mereka semua berkumpul di rumah pusaka.

Orangtua kami telah lama tiada.

Saat berkumpul seperti ini pada beberapa keluarga ada kebiasaan yang miskin di dapur yang banyak duit ngobrol di ruang tamu.

Itu tidak berlaku di keluarga kami.

Kami sosialis: semua tak pandang pangkat dan status berkumpul bersama di ruang keluarga.

Ponakan maupun cucu saya ada yang jadi guru, dosen, arsitek, camat, staf NGO berkedudukan di Bangkok, pendeta, pedagang mebel, dan lain sebagainya.

“SAYA perhatikan Om sangat sering melakukan perjalanan,” seorang keponakan angkat bicara.

“Perjalanan adalah cara untuk mencari pemahaman tentang kebudayaan,” saya menukas.

“Pemahaman kebudayaan macam apa yang Om dapat kali ini?”

“Roma,” kata saya, “tidak dibangun dalam semalam. Ia adalah produk Renaissance atau kebangunan pikiran dari abad pertengahan yang kemudian menemukan pencerahan. Pencerahan ini yang membawa Eropa menuju Modernisme.”

DI meja banyak sekali makanan.

Yanti, keponakan dari Malang, membawa secangkir kopi untuk saya.

“Vodka mau Om?” ucapnya bercanda.

“Boleh juga,” jawab saya.

Dia muncul lagi membawa gelas.

“Ini air putih setelah kopi Dampit yang khusus saya bawa dari Malang itu. Bukan vodka,” katanya tertawa.

Dari keluarga kami saya amati banyak yang berbakat jadi pelawak.

“Wujud Modernisme macam apa yang paling mengesankan Om?” ponakan tadi mencecar.

Saya bangga.

Dia cerdas.

Pakde-pakde saya dulu ada yang jadi dokter, profesor, pendeta, hanya ayah saya yang pernah jadi laskar bersenjata.

Mungkin ia ingin jadi Che Guevara.

Menjawab pertanyaan keponakan tadi saya mulai ngomyang:

“Modernisme dalam ekspresinya yang paling subtil, yakni karya seni.

Modernisme menyimpan kegamangan setelah orang meninggalkan Abad Pertengahan di mana Tuhan atau kuasa langit mendominasi Eropa pada masanya.

Rasionalisme menggantikannya.

Itu semua, selain membawa kemajuan, di lain pihak mengkorting manusia dari keutuhannya.

Manusia menjadi the forgetting being.

Dari human being jadi human bingung.”

Semua tertawa.

Mereka paham saya penggemar ludruk.

“Pergulatan untuk mencari kemanusiaan yang hilang terus terjadi dari waktu ke waktu. Kalau Renaissance dan era sesudahnya merayakan pemikiran, logika dan rasionalitas, pada era digital pemikiran tidak diperlukan lagi. Yang penting cuma jempol dan AI. Iya kan…,” ucap saya menunjuk cucu yang dari tadi bermain HP.

Ada cucu yang lain lagi, perempuan, kuliah di UMN bagian desain komunikasi visual, datang di acara keluarga ini bersama pacarnya.

Ia tertarik dunia seni rupa dan jago melukis.

Saya sempat ke Wina (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada ikut-ikutan sebutan bahasa Inggris, Vienna. Orang Austria sendiri menyebut ibukotanya Wien).

Padanya saya perlihatkan foto di handphone karya Gustav Klimt di museum modern di Wina.

“The Kiss,” serunya menyebut judul lukisan terkenal yang saya perlihatkan padanya.

“Betul, inilah ciuman yang mendunia. Cara melukisnya dengan prada emas itu adalah teknik zaman Renaissance yang biasa digunakan untuk menghias altar dan langit-langit gereja. Di sini ia gunakan teknik tersebut bukan lagi untuk mengungkapkan sesuatu yang transenden tetapi yang imanen alias duniawi. Karya yang menjadi salah satu tonggak penting Modernisme,” saya menerangkan padanya.

Beruntung punya cucu yang bisa diajak diskusi semacam ini.

“Judulnya mustinya bukan The Kiss,” kata dia.

“Apa?” saya bertanya heran.

“Kalau zaman ini judulnya The Muah,” ia berkata sembari tertawa-tawa.

Saya garuk-garuk kepala.

“Boleh juga,” ucap saya tertawa.

Saya tunjukkan foto-foto saya bersama Dubes Trias di Basilika Santo Petrus.

Dia membawa saya masuk ke lorong bawah tanah di basilika tersebut tempat disemayamkannya Santo Petrus.

Dengan hak istimewanya sebagai dubes ia bisa membawa saya kemana-mana.

“Makam  Santo Petrus ini persis berada di bawah altar,” kata Dubes Trias waktu itu di depan makam Santo Petrus yang sangat indah sambil menunjuk langit-langit di atas saya.

Saya merinding.

Bahasa meluncur dari puncak-puncak katedral seperti simbol menyeruak pada daun-daun dari pohon-pohon di hutan.

“Perjalanan yang mencerahkan,” keponakan yang pendeta menyela.

Ia menjadi pendeta gereja Kristen di Solo sejak lulus dari theologia di Jakarta.

“Betul. Keindahan adalah tempat persembunyian dari truth atau kesunyatan. Kasunyatan ini yang akan membersitkan cahaya,” kata saya membenarkan.

Kosa kata kasunyatan saya sadari sering saya pakai.

MENDADAK saya melihat cahaya terang benderang.

Menyilaukan.

Terhenyak saya seketika.

Adakah Roh Kudus datang?

Busyet, ternyata saya tertidur di siang hari bolong.

Di sofa, di rumah, tidak di kampung halaman.

Bahkan kami sudah tak punya lagi rumah pusaka.

Ini pasti akibat jetlag.

Atau jangan-jangan efek bir dari biara.

Dari semua perjalanan, semua orang sejatinya hanya bermimpi untuk pulang.***

15/4/2024

Untuk Bude Maria

 

 

Leave a Reply