Perempuan bernama Kirana.
KIRANA membuka taman baca di kediamannya di daerah lumayan jauh dari ibu kota. Di sudut lahannya yang sangat luas, dari kayu-kayu dan balok lama ia mendirikan bangunan berupa pendapa limasan. Lantai disesuaikan spirit bangunan, berupa keramik dengan motif lama.
Pohon rambutan, nangka, durian, dan lain-lain di sekelilingnya membuat taman baca ini kelihatan sangat asri.
Sehari-hari cukup banyak pengunjung, umumnya remaja dan anak-anak.
Tinggal di desa, jauh dari keramaian kota, menggiatkan literasi lingkungan, menjadi cita-cita Kirana sejak lama.

Perempuan Masa Lalu karya Wayan Sujana, diambil dari buku “Siluet Perempuan”
Dulu semasa masih tinggal di ibu kota, jadi isteri pejabat, sebagaimana umumnya ibu pejabat yang punya banyak sumber daya tapi nganggur tak tahu mau apa, ia menyibukkan diri sehari-hari dengan ke salon, creambath, shopping, arisan, dan semacamnya.
Berkat kenalan dengan seorang seniman, ia mulai menulis puisi, lanjut menerbitkannya, membacakannya, menyelenggarakan diskusi di rumahnya, dan lain-lain.
Ia juga melukis.
Kegiatan didukung teman-teman dan sejumlah seniman yang kecipratan rejeki darinya.
Aspirasinya terus berkembang. Ia ingin tinggal di desa. Membina literasi.
Ia membeli tanah luas jauh dari ibu kota, mendirikan bangunan untuk taman baca seperti diceritakan di atas.
Suaminya meninggal tak lama setelah pensiun.
Kirana kemudian lebih banyak tinggal di desa.
Rumah di ibu kota dijual.
HARIS yang pekerjaan utamanya adalah kontraktor menang tender, mendapat proyek untuk membangun kompleks perumahan dan seluruh infrastrukturnya di luar kota.
Kepada Frans ia bercerita bahwa di daerah itu ia kenal dengan perempuan yang membuka taman baca, lumayan dikenal di wilayah setempat, dan kata Haris wanita ini kenal Frans.
“Dari pembicaraan kesana-kemari ketika kusebut namamu ia ternyata kenal kamu,” kata Haris.
Frans mengernyitkan alis.
“Aku lupa,” kata Frans.
Haris memberi gambaran sosok wanita tersebut sambil menegaskan kembali namanya.
Frans mencoba mengingat-ingat.
“Katanya dia dulu temanmu sewaktu kuliah di sastra Inggris,” ucap Haris.
Sebelum meninggalkan kota lama dan kemudian kuliah filsafat di mana ia jadi berteman dengan Haris, Frans memang pernah kuliah sastra Inggris.
Frans mengerahkan seluruh ingatan.
“Mustinya cukup dekat. Ia cerita pernah ke pesta kamu boncengkan Vespa malam-malam,” tambah Haris.

File demi file dari masa kuliah Frans sisir, tetap tidak dia temukan sosok wanita yang digambarkan Haris.
Andaikata ke pesta malam-malam naik Vespa segala mustinya aku ingat, pikir Frans.
Yang muncul malah bayangan Tante Heidy.
Aih, bukan cuma berboncengan Vespa, bahkan jauh, jauhhh lebih dari itu.
(Frans buru-buru menghapus ingatan yang kini dirasanya tidak pantas).
Ia menyerah.
Sia-sia mencarinya dalam memori lama.
Mungkin dia hantu blawu.
“Panggilannya Nani,” kata Haris.
“Itu lebih absurd lagi. Namanya Kirana, tapi panggilannya Nani. Mustinya Nana. Aku merasa tidak punya teman bernama Nani, Neni, Nini, dan semacamnya. Kalau Nina punya. Cantik, di Amerika, kini anaknya tiga,” kata Frans melepaskan diri dari usaha mengingat-ingat yang melelahkan dan dirasanya tidak penting.
“Ya, mungkin dia bikin-bikin,” Haris berucap. “Zaman sekarang banyak orang halu,” ia menyimpulkan.
TAPI tunggu. Saya ingin berspekulasi tentang kasus di atas.
Yang pertama, kemungkinan Frans benar-benar lupa. Amnesia berkemungkinan menghinggapi siapa saja. Mari kita berdoa, kita tidak akan pernah mengalaminya.
Yang kedua, semua yang diceritakan oleh Kirana yang panggilannya Nani benar-benar terjadi.
Persoalannya, di sinilah rahasia memori. Dua orang yang sama, pernah mengalami peristiwa yang sama, belum tentu memori yang tertinggal pada keduanya serupa, persis sama.
Bisa berbeda sama sekali. Bahkan bisa pula yang satu mengingat sampai ke detil-detilnya, satunya lagi sama sekali tak punya ingatan tentangnya, peristiwa masuk dalam wilayah oblivious.
Terlupakan.
Saya sering membicarakan soal memori dengan Chrisye, teman dari kota lama.

Foto: Ariel Heryanto. Sekaligus mohon ijin.
Chrisye banyak mengamati psikologi dan memori manusia karena itu berhubungan dengan profesinya, yakni pengacara. Chrisye adalah pengacara terkenal, kaya raya pula.
Yang ketiga, peristiwa tadi mungkin tidak pernah terjadi.
Kirana yang panggilannya Nani pernah mendengar cerita serupa, atau bisa pula ia membikin-bikinnya.
Peristiwa yang tidak pernah ada kemudian bertransformasi menjadi nyata, lebih nyata dari yang nyata.
Ahli semiotika Umberto Eco menyebutnya hyper-real.
Frans berucap pada Haris: “Terus terang aku lupa. Tapi untuk menyenangkannya, kalau ketemu dia tolong sampaikan salamku padanya.”***
22/8/2025
Catatan:
Baca Travels in Hyperreality karya Umberto Eco.


