Discourse kejujuran.
HARIS orang jujur. Pesan untuk menyampaikan salam untuk wanita yang sebenarnya telah dilupakan Frans ia anggap sebagai amanah. Ia harus menyampaikannya.
Pada kunjungan ke proyek berikutnya ia menyempatkan diri mampir ke taman baca Kirana yang panggilannya Nani.
“Frans menyampaikan salam untuk Mbak,” kata Haris.
Dia selalu menyebut wanita dengan panggilan Mbak.
Teman baik yang ia kagumi adalah Mbak Emmy, ahli perhiasan.
“Hah, dia masih ingat saya?” Nani kaget.
Melihat ekspresi Nani yang seketika menyala sumringah seperti alat elektronik yang hendak padam tiba-tiba dicharge listrik, sejenak Haris terdiam kehilangan kata-kata.
Terharu Haris. Ia tidak biasa bohong termasuk untuk hal-hal yang oleh kebanyakan orang mungkin dianggap hal kecil, tidak penting, sepele.

“Frans bilang kalau ketemu dia sampaikan salamku padanya,” Haris memilih ucapan netral.
(Di sini ia tidak bohong, cuma irit terhadap fakta).
Haris tidak memberi respons ketika Nani bertanya-tanya apa saja yang dikatakan Frans tentang dirinya.
Nani ngomong sendiri kesana kemari.
“Menurut Frans panggilan Mbak mustinya Nana, bukan Nani,” kata Haris kemudian, merasa tidak enak kalau melulu diam saja.
(Ia mengabaikan konteks ucapan Frans, bahwa Frans berucap demikian ketika putus asa tidak bisa mengingat siapa wanita bernama Kirana).
Nani tertawa-tawa bungah.
TENTANG kejujuran ini Haris pernah menguraikan lumayan panjang lebar pada Frans, begini:
Kamu tahu, mengapa sebagai Cina namaku seperti nama Jawa, Haris Setyowatjono. Setyowatjono nama bapakku, diberikan oleh engkong.
Setyo artinya setia, watjono artinya kata.
Aku senang sekali ketika pada era post modernism dulu discourse diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai wacana. Wacana lebih luas artinya, meliputi semua instrumen komunikasi seperti simbol, tanda, gagasan, dan lain-lain.
Iya tho….
Kejawen itu sebenarnya mirip Taoisme.
Engkong dan ayahku Kejawen.
Menurut Engkong, kesetiaan pada kata harus jadi pegangan keluarga.
Kami keluarga pedagang, kejujuran dan kepercayaan nomor satu.
Dulu ayahku pengusaha angkutan. Punya beberapa kendaraan.
Dari kecil aku sudah bisa nyetir, mengeluarkan memasukkan mobil ke garasi. Tidak boleh ke jalan, karena tidak punya SIM.
Begitu umur 17, punya SIM, baru turun ke jalan.
Percaya tidak, dari waktu itu sampai sekarang aku nyetir mobil, serempetan saja belum pernah.
Bagaimana dengan kejujuran menghadapi dunia dagang yang banyak culasnya, Frans bertanya.
Begini, kata Haris.
Kejujuran itu merupakan komitmen. Diucapkan oleh bibir, sumbernya hati.
Kerja keras adalah tindakan. Tercermin melalui mata, sumbernya otak.
Jangan dibolak-balik. Orang jangan kerja dengan hati. Kalau terlalu keras bikin sakit lever. Dengan otak orang akan bekerja efisien, efektif.
Orang yang giat dan rajin kerja matanya bersinar. Penuh gairah.
Nah, kami terbiasa membaca tanda-tanda tersebut.
Kami bisa mengetahui mana orang yang jujur, rajin kerja, atau cuma omdo alias omong doang.
(Di antara barang-barang antik koleksinya, Haris punya tulisan tangan penyair Rendra yang ia bingkai bagus, dia gantung di belakang meja kerja. Bunyinya: Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata)

PADA perkembangannya Nani dan Haris makin akrab. Setiap kali ke proyek Haris senantiasa mampir ke Nani.
Kadang dia membawa jajanan sebagai oleh-oleh.
Macam-macam. Maklum, keluarga pengusaha kuliner.
“Kami menang tender karena bisa memberikan tawaran lebih murah,” kata Haris kepada Nani sembari menikmati kopi.
Mereka duduk-duduk di teras.
Kali ini Haris membawa bubur sumsum.
“Enak sekali bubur sumsum ini,” komentar Nani.
“Kami bisa memberi tawaran lebih murah dengan asas seperti bisnis makanan. Orang pesta seperti mantu sebenarnya bisa lebih murah kalau hidangan bikin sendiri, tidak catering. Yang bisa dikerjakan sendiri, kerjakan sendiri. Begitu pun kami sebagai kontraktor. Kami tidak banyak melakukan subkontrak,” Haris bercerita.
Sore Haris pamit.
“Besok saya akan bawakan sosis,” janjinya.
Nani merasa Haris menyukainya.***
25/8/2025


