Skip to main content
Cerita

Hal-hal tak Penting Episode 6

By August 26, 2025No Comments

 

Tentang ketidakberesan kognitif.

APAKAH benar Haris menyukai Kirana yang panggilannya Nani? Menyukai dalam pengertian jatuh hati, jatuh cinta.

Kirana tergolong wanita yang supel. Temannya banyak, bejibun.

Saat lawan bicara menyebut nama seseorang, tak jarang ternyata Kirana kenal nama tersebut.

“Siapa? Tanto? Orang Magelang? Ohhh, saya kenal,” demikian kira-kira sambutan Kirana atas nama yang disebut oleh lawan bicara.

Itu bisa membuat lawan bicara terperangah.

Bagaimana Kirana kenal nama yang disebut tadi, karena terdapat jarak cukup jauh baik menyangkut geografi; domain pergaulan; field of interest; dikotomi urban-desa, elit-kampungan, klasik-dangdut; dan lain sebagainya yang membuat tidak terbayangkan Kirana terhubung dengan Tanto.

“Iya, saya mengenalnya ketika saya sekolah di Paris. Dia membawa rombongan jatilan ke Perancis,” demikian contoh hal tak terduga yang bisa muncul ketika bercakap-cakap dengan Kirana.

“Ooh, Sisca? Yang mati tenggelam di sungai tengah kota? Saya kenal. Dulu pacar dia teman kuliahku. Pernah naksir aku juga,” ini contoh lain lagi tentang Kirana.

Cukup sering Kirana menyebut nama, yang kemudian—seperti contoh di atas—dia sebut “pernah naksir dirinya”.

Adakah itu yang terjadi ketika dulu Haris menyebut nama Frans?

Sementara Frans mengaku tak ingat sama sekali wanita bernama Kirana yang panggilannya Nani?

SAYA ingin melanjutkan spekulasi tentang memori dan sistem kognitif manusia.

Seperti pada Kirana yang mengaku pernah dekat dengan Frans, pernah datang ke sebuah pesta, malam-malam dibonceng Vespa, tidak perlu dicurigai bahwa Kirana mengarang-ngarang atau bohong.

Dia jujur mengemukakan apa yang ada dalam sistem memorinya.

Apa yang dianggap tidak penting dan dilupakan Frans, diingat oleh Kirana sampai detil-detilnya.

Saya ingin mengutip Rolf Dobelli, pengarang banyak buku, yang paling terkenal The Art of Thinking Clearly.

Menurut dia, kita semua rawan mengalami ketidakberesan kognitif, atau dalam bahasa dia cognitive error. 

Ketidakberesan kognitif umumnya dimulai dari prasangka, misalnya seperti prasangka Kirana bahwa Haris menyukainya, mungkin dulu ia juga mengira Frans menyukainya, naksir dirinya.

Kalau tidak, kenapa pada hari itu, Kirana ingat pada Sabtu pagi di kampus, Frans bertanya padanya malam Minggu ada acara atau tidak?

Kirana menjawab akan ke pesta ulang tahun Lucya.

Bagaimana kalau kita sama-sama, Kirana ingat Frans menawarkan diri.

Ia ingat, saat mengantarnya pulang lewat tengah malam Frans mencium pipinya di depan pintu rumahnya yang gelap, sebelum tiba-tiba pintu terbuka.

Ayah Kirana yang mendengar bunyi langkah di depan, membuka daun pintu.

Keduanya kaget.

Terutama Kirana.

Apakah ciuman akan lanjut kalau ayah tidak keburu membuka pintu?

Mungkin tidak, karena ciuman Frans bisa jadi cuma ekspresi kesantunan, just courtesy dari seseorang yang punya kebiasaan demikian.

Tidak akan lanjut seperti diduga Kirana.

Yang terjadi di situ adalah bias prasangka, yang bisa menjadi lebih problematik kalau terjadi bukan pada domain personal tapi politik ideologis.

Aksi kecil itu bisa menjadi konfirmasi, bahwa Frans menyukai Kirana.

Sama seperti rakyat yang berprasangka penguasa akan menyejahterakannya, serentak menjadi percaya dan lebih percaya lagi ketika penguasa setiap kali pidato berseru demi rakyat, untuk rakyat, rela mati untuk rakyat.

Ditambah amplifikasi media dan pendapat para ahli, bahwa penguasa itu mengedepankan populisme, terbentuklah kesadaran palsu.

Bias prasangka dan bias konfirmasi mengaburkan kejernihan berpikir.

AKHIR pekan Haris datang lagi ke proyek. Ia berencana menginap di hotel sederhana yang tersedia di daerah itu.

Yang penting bersih, begitu prinsip Haris dalam memilih penginapan.

Salah satu pegawai Haris yang berasal dari daerah setempat, rumah orangtuanya tak jauh dari lokasi proyek, memamerkan Vespa yang baru saja dibelinya pada Haris.

“Piaggio, bikinan Itali, sekarang otomatis tidak pakai kopling seperti dulu,” Ryan, nama pegawai itu pamer.

“Bagaimana kalau aku pinjam?” ucap Haris.

Dia selalu ingat cerita Frans tentang film Roman Holiday bagaimana Gregory Peck memboncengkan Vespa Audrey Hepburn.

“Boleh, Pak,” jawab Ryan bungah bos ingin mencoba Vespa barunya.

Sore Haris datang ke taman baca Kirana dengan Vespa.

Kirana kaget.

Haris menjelaskan bahwa Vespa itu milik anak buahnya. Ia jelaskan pula bahwa malam ini ia akan menginap.

Disodorkannya oleh-oleh sosis yang dibawanya.

“Banyak banget,” seru Nani.

“Bisa disimpan di freezer. Sosis ayam. Halal,” ucap Haris.

Nani tambah yakin Haris suka padanya.***

 

26/8/2025

Leave a Reply

(enter the number only)