Skip to main content
Cerita

Hal-hal tak Penting Episode 7

By August 27, 2025No Comments

Merayakan pertemanan.

SEJAK kuliah Frans gemar bermusik. Sebenarnya ia pengin kuliah theologi, tapi nyasar ke sastra Inggris.

Pada masa kuliah dia membentuk band kampus, namanya The Gosyen, artinya—seperti ia terangkan pada teman-temannya—“tanah perjanjian”.

Dia menjadi front man, memegang lead guitar sekaligus vokalis.

The Gosyen cukup terkenal, bukan saja di kampus tapi juga di kota kecil di mana kampus itu berada.

Ya, Gosyen.

Yang pernah tinggal di kota tadi pada masa itu niscaya akan ingat, mereka tak pernah absen membawakan lagu Uriah Heep July Morning.

Di situ Frans menunjukkan kepiawaian memainkan riff gitar yang kompleks pada intro maupun pertengahan lagu tersebut.

Penonton bertepuk riuh.

Dengan khidmat seperti mengucap doa Frans mendaraskan lirik:

There I was on a July morning

Looking for love…

 

Ada yang bilang, orang pintar nyanyi mudah membikin orang jatuh hati.

Istilahnya, jadi heartthrob.

Adakah salah satu yang jatuh hati dulu Kirana?

LULUS sarjana muda Frans meninggalkan kuliah, makin aktif bermusik, tapi tidak lagi dengan band tadi. Ia banting setir membentuk grup dangdut namanya Tumapel.

Kenapa Tumapel?

Adakah tanah perjanjian yang dibayangkannya adalah Tumapel?

“Tumapel menyimpan narasi menarik. Di situ dulu Ken Arok kontan jatuh hati demi melihat betis Ken Dedes. Sejarah panjang Tumapel yang kemudian jadi Singasari berawal dari pandangan pertama terhadap betis,” kata Frans seperti dikutip koran ketika grup dangdutnya kian terkenal.

Penyanyinya cantik-cantik. Betisnya rata-rata indah. Semua memakai heel di atas 13 cm.

Apakah para penyanyi diseleksi berdasar keindahan betis?

“Yang pertama tentu suara dan teknik nyanyinya, tapi tak bisa dipungkiri sensualitas perempuan terletak pada kakinya,” demikian penjelasan Frans pada koran tersebut.

(Wartawan yang mewawancarainya sebenarnya teman semasa kuliah. Terang saja tahu belaka apa yang musti ditanyakan. Termasuk soal betis. Ini sebenarnya kongkalingkong. Koran dijadikan tempat main-main.)

Dengan makin larisnya Tumapel, Frans mulai berinvestasi peralatan musik maupun sound systems.

Yang tidak dia duga, sound systems (dan lighting) malah menjadi bisnis baru melebihi Tumapel.

Dia tidak lagi naik panggung bersama Tumapel.

Urusan Tumapel ia serahkan pada anak buah.

Persewaan sound systems membawanya kemana-mana, dari penampilan grup musik di berbagai tempat, acara-acara pesta, sampai festival disco pada zamannya di pinggir pantai Kuta. Penyelenggaranya kala itu Madame Jais Hadiana.

Ketika jaringannya tambah luas, Frans pindah ke ibu kota.

Di sela-sela bisnis persewaan sound systems (kata dia urusan sound systems mudah didelegasikan pada anak buah) Frans kuliah lagi.

Kali ini ia belajar filsafat.

“Kalau aku nanti wisuda doktor seluruh penyanyi dangdut kuundang,” tekad Frans.

Merayakan pertemanan

EVA menelepon Frans. Dia event organizer (EO) acara-acara ekslusif dari pesta orang-orang berduit sampai acara-acara perusahaan terkenal.

“Mas Frans apa kabar?” kata Eva melalui sambungan telepon.

“Evaaaa, lama kita tidak ketemu,” Frans menjawab hangat.

Mereka berteman telah lama. Frans mengenal Eva sejak wanita single mother ini merintis usaha kecil-kecilan, memanfaatkan jaringan keluarga, terutama salah satu famili yang kaya raya—kalau tak salah tantenya—yang dekat dengan dirinya.

Melihat perjalanan Eva dalam beberapa hal Frans melihat perjalanan dirinya.

Eva juga bisa nyanyi, meski tidak pernah menjadi penyanyi, anak band seperti dia.

Pernah dulu mereka berdua hang out di sebuah kafe.

Malam itu sedang ada live music oleh home band kafe tersebut.

Awak band bertanya siapa pengunjung yang ingin naik panggung nyanyi.

Frans berdiri, mengajak Eva.

Dengan agak tersipu Eva bangkit dari kursi.

Mereka berduet menyanyikan Tonight I Celebrate My Love.

(Kalau pernah dengan suara penyanyi Iga Mawarni nyanyi lagu Kasmaran, seempuk itulah suara Eva).

Seluruh pengunjung terkesima.

Ini bukan duet main-main.

“Saya akan ada acara. Pesta nikah. Tamunya terbatas, di The Tuxedo,” kata Eva menyebut tempat sangat ekslusif.

“Tanggal berapa?” tanya Frans.

“27 November. Acaranya memakai electric light orchestra. Saya tidak tahu menahu kebutuhan sound untuk acara seperti itu. Saya serahkan semua ke Mas Frans,” ucap Eva.

“Nanti kita ketemu untuk membicarakan detilnya,” jawab Frans.

“Baik Mas. Bagaimana kalau sambil ngopi di Sebastian…,” Eva menyebut kafe di mal yang ia tahu diakrabi Frans.

Frans mengiyakan.  Ia tahu Eva orang sangat sibuk, mengurus perusahaan dan anak.

“Kapan?” tanya Frans.

“Besok sore bisa?”

“Bisa.”

Dia senang hendak ketemu Eva.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana penampilan Eva.

Saya jawab singkat: betisnya bagus.***

28/8/2025

Leave a Reply

(enter the number only)