Skip to main content
Cerita

Hal-hal tak Penting Episode 8

By August 30, 2025No Comments

Semesta alam, semesta cerita.

 

SCARLET Minivet (Pericrocotus speciosus) adalah burung hutan di Asia, terkenal dengan warnanya yang indah. Kepalanya biru, dada dan tubuhnya semburat kemerahan (scarlet), pendeknya warnanya sangat vibrant.

Jenis serupa terdapat di Amerika Selatan, namanya Scarlet Ibis.

Burung di Tangan di Tepi Malam karya Hari Budiono

Latar belakang demikian tentu tak diketahui oleh Eva (memang apa pula urusannya bagi Eva), tatkala ia bercerita tentang Vita pada Frans sore itu sambil ngopi di Le Sebastian Café.

Ia bercerita tentang anak buahnya di kantor yang namanya Vita.

Setiap kali ada acara, apalagi acara besar, perusahaan membutuhkan banyak part timer. Ia cenderung memilih  part timer yang cantik dan ganteng.

Dulu Vita dibawa oleh salah satu stafnya.

Selanjutnya, Vita selalu muncul setiap kali perusahaan membutuhkan part timer.

Eva menyukainya.

Vita rajin, cantik, tak banyak ulah.

Lama-lama Eva mengangkat Vita sebagai staf.

“Aspirasinya sederhana, dapat pacar, suami bule,” kata Eva tertawa.

Eva bercerita bagaimana cewek lulusan SMA ini mendapatkan nama Vita,  yang lengkapnya: Scarlet Vita.

“Katanya mereka tinggal di dekat rumah seorang pengarang. Saya tidak tahu siapa nama pengarang dimaksud, tapi ayah dia sering diminta membantu untuk urusan taman, kebon, kolam, dan sebagainya. Ketika ia lahir, ayahnya minta dibikinkan nama untuk bayinya, dan  diberikanlah nama, Scarlet Vita,” tutur Eva.

“Saya pernah mendengar nama seperti itu. Nama burung, Scarlet Minivet, menggambarkan kecantikan,” Frans menimpali.

“Oh, begitu…,” ucap Eva.

“Mungkin pengarang itu sedang minum vitamin atau entah apa, spontan mengganti kata Minivet jadi Vita. Pengarang umumnya peka terhadap irama kata,” ujar Frans.

Kisah berlanjut.

Suatu saat perusahaan EO Eva menangani acara pesta nikah di The Tuxedo.

Semua staf sibuk, tak terkecuali Vita.

Rupanya ada teman dekat atau saudara yang punya hajat yang memperhatikan Vita, lelaki Belanda.

“Di situlah Vita kemudian kenal Hans, lelaki bule yang terus-menerus memperhatikannya tadi. Hans orang kaya. Umurnya jauh di atas Vita. Punya hotel di Rotterdam. Mereka ini yang akan pesta di The Tuxedo nanti,” cerita Eva. “Kesampaian keinginan Vita, dapat suami bule. Sebenarnya banyak yang naksir dia, tapi dia ingin bule,” tambahnya sambil tertawa.

Menarik sekali cerita ini, Frans membatin.

“Daya kata-kata. Keindahan namanya yang mungkin membawa Hans terpikat padanya. Scarlet Vita. Ada lagu dari grup band Belanda The Cats berjudul Scarlet Ribbons,” kata Frans.

“Hah, kok tahu sih…,” Vita berseru kaget. “Hans memang berkata Scarlet Vita seperti Scarlet Ribbons. Dia suka menyanyikan potongan lagu itu,” Eva terheran-heran bagaimana Frans bisa menebak semuanya.

Frans menyeruput espresso.

Lalu mendendangkan sepotong lirik Scarlet Ribbons.

 

Lovely ribbons, scarlet ribbons

Scarlet ribbons for her hair

 

“Ya itu lagunya. Bagaimana Mas Frans bisa tahu?” tanya Eva.

“Tentu saja saya tahu. Saya hidup pada zaman itu. Scarlet Ribbons, Lea, Marian, Maribaja, dan lain-lain. Maribaja menurut teman saya wartawan musik Frans Sartono, dapat inspirasi dari Indonesia ketika mereka mengunjungi negeri ini dan melewati hutan di pantura, namanya Maribaya,” Frans bercerita.

“Saya suka kalau Mas bercerita,” kata Eva.

Ia menatap kagum lawan bicaranya.

“Pada alam semesta ini semuanya saling terhubung. Begitu pun dalam universe cerita. Semua terhubung, termasuk hal-hal kecil dan tampak kurang penting. Itu sebabnya nama burung di Borneo bisa hinggap jadi nama seorang gadis, di mana si gadis  kemudian ketemu jodoh pria Belanda bernama Hans.”

Foto: Wafida

“Tidak ada yang kebetulan?” Eva menyela.

“Tidak ada yang kebetulan kalau kita paham bahwa diri kita adalah sebuah kosmos, sebuah jagad kecil. The God of Small Things. Eh kita lama sekali tidak pernah keluar malam lagi seperti dulu,” kata Frans.

“Iya. Kita lama tidak ke pub itu,” Eva menyebut nama pub yang dulu mereka pernah hang out bersama, termasuk naik panggung nyanyi Tonight I Celebrate My Love.

“Kafe itu masih ada? Sudah lama sekali,” Frans bertanya-tanya.

“Masih. Salah satu yang mampu bertahan setelah Covid. Saya sering lewat,” kata Eva.

“Yuk kita kesitu kapan-kapan. Ngebir,” Frans berucap.

“Yukkkk….”

“Sumpe?”

“Sumpeeeee…,” tukas Eva diiringi tawa renyah.

Petang yang menyenangkan.***

 

30/8/2025

 

Leave a Reply

(enter the number only)