Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (1)

By May 14, 2021May 16th, 2021No Comments

Adriana menikmati sarapan paginya berupa irisan buah-buahan papaya, nanas, melon, serta espresso sembari memandang lapangan golf, terletak agak di bawah menyerupai lembah, membentang luas di belakang rumahnya.

Daerah mewah pinggiran Jakarta itu masih sering berkabut pada pagi hari—keistimewaan yang tak diketahui banyak orang.

Umumnya orang hanya mengenal boulevard lebar diteduhi pohon angsana di kanan-kiri untuk memasuki kawasan ini. Seandainya mobil-mobil yang melintas tidak berplat nomor B kita bisa mengecoh orang bahwa kita tengah berada di Singapura.

Sama seperti boulevard tadi, pohon angsana dan flamboyan membentengi tempat tinggal Adriana. Tempat tinggalnya  terdiri beberapa bangunan berbentuk kotak-kotak—gaya khas pengaruh post-modernisme Barat.

Salah satu pembantu laki-laki dengan tongkat aluminium panjang berujung jaring menyerok-nyerok guguran daun yang mengotori kolam renang.

Di sebelah kolam renang, bangunan terpisah, dimanfaatkan oleh Adriana sebagai galeri. Di situ tergelar koleksi karya seninya, baik dua dimensi berupa lukisan maupun art work tiga dimensi.

Jangan tanya karya siapa. Kalangan seni rupa pun tak sanggup membayangkan di situ ada karya-karya seniman dunia: Joan Miro, Picasso, Diego Rivera, Jackson Pollock, Keith Haring, Tom Wesselmann, Andy Warhol, Robert Indiana, dan lain-lain.

Ada juga karya seniman Indonesia. Dia punya selera artistik istimewa. Yang terpajang di situ adalah karya terbaik pelukis Mochtar Apin, sosok perempuan dalam sapuan biru, judulnya “Nude”.

Oh ya, ada karya Jeihan. Modelnya the one and the only: Adriana herself.

Keanggunan arsitektur tempat tinggalnya, sofistikasi karya-karya seni koleksinya, keheningan pagi dengan kabut di seberang di lapangan golf, dan tentu saja kemakmuran hidupnya, ternyata tak bisa mengenyahkan kegelisahan dan kegundahannya.

Apakah ia merasa dikerjai oleh putrinya, disudutkan untuk tidak bisa menentukan pilihan, menerima dengan terpaksa, merasa diri sebagai pecundang, atau entah apa.

Yang jelas kalau merasa bahagia agaknya tidak.

Sehari sebelumnya Stella mengirim pesan WA.

Ma, I want to have dinner with you tomorrow night. At home. Miss you lots.

Hati Adriana berbunga setiap kali putrinya menyapa dengan afeksi.

Hanya itu sumber kebahagiannya. Atau sebutlah sumber keseimbangan hidupnya. Soalnya, sedikit saja Stella berulah, ia goyah, hilang keseimbangan hidup.

Sure, dear, jawab Adriana.

We’ll be three. I’ll bring Naja with me, pesan Stella selanjutnya.

Adriana tercekat. Bertiga?

Antusismenya surut seketika. Mengapa harus dengan dia. Adriana tak pernah suka hubungan Stella dengan Najamudin.

Bayangkan, usia Naja 56 tahun, lebih muda 4 tahun dari dirinya. Usia Stella 30 tahun. Selisih 26 tahun dengan Naja.

Ya, siapa tak mau dengan putriku, batin Adriana. Cantik, anak orang kaya, lanjutnya sibuk dengan pikiran sendiri.

Sudah lama Stella tinggal sendiri di apartemen di bilangan Jakarta Pusat.

Hubungan Stella dengan Naja berjalan 4 bulan. Terbilang baru dalam ukuran Adriana.

Selama 4 bulan itu beberapa kali ia ketemu Naja. Termasuk makan siang atau makan malam. Bertiga dengan Stella.

Setiap kali ketemu Naja ia berusaha menunjukkan sikap berjarak.

Mudah-mudahan hubungan mereka segera tamat, harap Adriana.

Kali ini Stella minta dinner di rumah.

Meski enggan, Adriana mengiyakan. Ia tak pernah berdaya menghadapi Stella.

Yang tidak dia duga adalah apa yang mereka ajukan padanya di meja makan tadi malam.

Membuatnya tidak bisa memicingkan mata semalaman, membuat sarapan pagi ini tidak terasa enak.

Adriana memandang kabut dengan pikiran kemana-mana.

Brengsek.

Bersambung

Leave a Reply