Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (10)

By May 25, 2021No Comments

Bara menyisip wine sebelum bicara.

“Saya berasal dari daerah ini,” katanya serius.

Matanya menatap lantai.

“Di ID saya lihat lahir di Surabaya,” Adriana berucap.

“It’s a part of the story,” kata Bara. “It’s a part of the whole me.”

Dia menarik napas, kemudian melanjutkan.

“Saya ke sini untuk mencari tahu di mana ayah saya dikuburkan. Ayah saya menjadi korban peristiwa tahun 1965. Dibunuh di daerah hutan entah di mana persisnya. Kami, sebagaimana banyak orang lain, memendam perasaan ingin tahu di mana kira-kira para korban dikubur.”

Bara berhenti, ingin melihat reaksi pendengarnya. Kalau cerita ini menimbulkan apriori, ia tidak akan melanjutkan.

Adriana menatap penuh tanda tanya.

Sejenak suasana beku.

“Peristiwa sangat kelam. Pramoedya juga berasal dari sini. Buku-bukunya dimusnahkan. Bagi  pengarang buku adalah anak-anaknya,” Adriana buka suara menunjukkan empati.

Bara lega. Setidaknya makhluk ini bukan jenis sebagian besar makhluk yang dibutakan oleh sejarah. Menelan mentah-mentah sejarah yang dinarasikan penguasa.

Apalagi ucapan tadi: bagi pengarang buku adalah anak-anaknya. Couldn’t agree more.

Siapa sejatinya ratu di tengah hutan ini, ada tanda tanya di otak Bara.

Titisan Ratu Kalinyamat? Dalam perspektif Mataram, Jipang termasuk Blora adalah entitas antikemapanan. Bagi wilayah ini Arya Panangsang adalah pahlawan.

“Belakangan saya mendapat informasi, seorang pendeta di sini memiliki informasi di mana para korban dikubur,” lanjut Bara.

“Bagaimana dia bisa tahu?”

“Itulah yang saya ingin ketahui. Saya mendapat nomor teleponnya dan menghubunginya. Ia meminta saya datang menemuinya.”

“Di mana tinggalnya?”

Bara menyebut nama gereja Kristen Jawa  berikut daerahnya.

Adriana tahu. Ia pernah melewati gereja tersebut. Sebuah gereja tua. Anggun dan teduh.

“Ya, mungkin gereja itu bagian dari masa awal Kristenisasi di Jawa. Pelopor penginjil di Jawa, Kiai Tunggul Wulung dan muridnya yang terkenal Kiai Sadrach sama-sama berasal dari Jepara,” kata Bara.

Dari semula, sejak sang tamu ini mengomentari lukisan Chu Teh-Chun, Adriana terpikat pada pengetahuannya. Ia menyukai lelaki yang cerdas dan berpengetahuan.

“Bagaimana Bara mengetahui begitu banyak hal?”

“Buku. Saya baca baca baca. Bacalah walau satu ayat. Semua orang bisa mengetahui segala hal dari buku, kecuali satu hal.”

“Apa satu hal itu?” Adriana terpancing pengin tahu.

“Cinta,” jawab Bara.

Seketika Adriana mengunci mulut.

Sialan, ucapnya dalam hati.

Sama seperti Bara yang menyimpan banyak tanda tanya tentang Adriana, Adriana bertanya-tanya apa latar belakang pendidikan tamu ini dan apa pekerjaannya.

“Bagaimana dengan Surabaya tadi?” Adriana bertanya hal lain.

“Oh ya, sangat sulit bagi keluarga yang salah satu anggotanya dituduh terlibat PKI. Saya tidak tahu ayah saya PKI atau bukan. Yang saya tahu dari cerita keluarga dia pedagang. Orang Jawa. Ibu saya Tionghoa.

Tahun 1965 saya belum lahir. Saya lahir tahun 1966. Pembersihan di berbagai daerah di Indonesia terjadi dari tahun 1966 dan seterusnya.

Pada mulanya katanya keluarga kami baik-baik saja. Tidak merasa diri PKI.

Tiba-tiba, tahun 1967, jadi saat saya umur satu tahun, malam-malam ayah diambil tentara. Katanya ayah saya Baperki. Tidak jelas, apakah gara-gara menikahi Tionghoa lalu Baperki.”

Adriana menangkap satire dalam ucapannya.

“Singkat cerita, mulai saat itu ayah tidak kembali lagi. Menurut informasi bersama para tahanan lain ia dihabisi di hutan jati.”

Adriana terkesiap.

Kembali Bara mengangkat gelas meminum wine-nya.

“Perkembangan kian sulit. Saya dititipkan pada saudara mama di Surabaya. Saya diangkat anak, menjadi anak dia, lahir di Surabaya.”

Adriana mengangguk-anggukkan kepala. Ia paham.

“Soalnya sulit menjadi anak PKI. Tidak akan bisa bekerja di mana-mana. Itulah sebabnya jati diri saya diubah. Ibu pun kemudian pindah ke Surabaya. Dia tidak ingin lagi menginjak Blora. Seluruh anaknya, saya tiga bersaudara, dilarang sama sekali untuk menginjak Blora. Blora telah menjadi kenangan pahit dan menakutkan baginya. Menacing.

“Ibu masih ada?” tanya Adriana.

“Meninggal dua tahun lalu. Andai ibu masih hidup, tidak akan saya dia izinkan kembali ke Blora, apalagi mencari tahu di mana ayah dikuburkan. Ia menjadi seperti orang Jawa pada umumnya. Sing wis yo uwis.

“Apa itu artinya?”

“Yang sudah ya sudah.”

“Kalau boleh tahu, apa pekerjaan Bara?”

“Saya tengah di persimpangan…,” jawab Bara.

Adriana menanti penuturan selanjutnya.

Bersambung

Leave a Reply