Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (14)

By May 29, 2021May 30th, 2021No Comments

Tanpa terhalang dahan-dahan pohon di tempat agak lega ini bulan sangat dekat. Bara teringat film Moonstruck yang baru saja ditontonnya di Jakarta. Ia menyukai pemainnya, Cher. Bulan di atas hutan jati tak kalah menakjubkan dibanding bulan di atas Manhattan.

           When the moon hits your eye like a big pizza pie,

            that’s amore

            When the world seems to shine like

            You’ve had too much wine, that’s amore

Adriana bangkit dari jongkok setelah puas memperhatikan sepasang burung yang sangat jinak.

Tak jelas apakah sifat burung tersebut memang jinak, ataukah karena rembulan semua makhluk terlena tak peduli sekelilingnya.

“Kalau boleh tahu, bagaimana pertemuanmu dengan pendeta tadi siang?” tanya Adriana.

Bara menarik napas.

“Menurut saya dia seorang mistikus kejawen,” kata Bara.

“Apa yang dikatakannya?”

“Ceritanya agak panjang. Suatu hari salah satu jemaat datang padanya, ingin bicara berdua. Berceritalah si jemaat.

Ia merasa dihantui masa lalu. Semasa muda dia sopir truk. Pada tahun 1960an itu ia dipaksa tentara untuk mengangkut tahanan yang hendak dieksekusi. Tiap malam ia mengangkut puluhan orang. Mereka dihabisi di hutan jati.”

Adriana bergidik.

“Dia tahu bukan hanya banyak keluarga bertahun-tahun mencari kubur sanak saudara. Ia juga bertahun-tahun merasa ada roh-roh memanggilnya untuk dihubungkan dengan keluarga yang mencari.”

Bara berhenti berkata-kata.

“Lalu?” Adriana ingin tahu kelanjutannya.

“Pendeta tahu ada beberapa jemaat yang kehilangan keluarga pada masa itu. Seorang jemaat yang pernah mengungkapkan hal itu padanya ia ajak mencari bersama sopir tadi. Sekaligus untuk membuktikan kebenaran pengakuan si sopir.

Mereka ke hutan. Si sopir yang saat ini telah tua dan sakit-sakitan menunjuk sebuah tempat. Mereka gali tempat tersebut. Ternyata benar, ditemukan kerangka manusia.

Jemaat tadi yakin itulah keluarga yang ia cari.”

“Bagaimana dia tahu itu keluarganya? Bukan kerangka orang lain?” Adriana bertanya.

“Menurut pendeta, itulah makna penerangan Roh Kudus,” jawab Bara.

Adriana terdiam. Tampak berpikir.

“Begitu pun mengenai bekas sopir yang mengungkap misteri di mana para tahanan dieksekusi dan dikuburkan. Ini karena bimbingan Roh Kudus.

Saya diam mendengarkan apa saja yang dikatakan pendeta. Tidak ingin berkomentar.

Selain Roh Kudus menurut saya tentulah juga dikarenakan roh reformasi yang baru saja kita alami. Isyu PKI tidak seangker sebelumnya. Semoga roh reformasi berumur panjang.”

“Dimakamkan ulang?” tanya Adriana mengenai jemaat yang menemukan kerangka saudaranya tersebut.

“Ya, dimakamkan di makam keluarga. Kini mereka punya alamat untuk berziarah.”

Setelah terdiam beberapa saat Adriana bertanya: “Apa yang hendak Bara lakukan kini?”

“Saya perlu berunding dengan seluruh keluarga. Ada sebagian dari keluarga yang tidak ingin peristiwa itu diungkit-ungkit. Masih ketakutan, dan terlalu pahit.  Seperti saya sebut, sing wis yo uwis,” jawab Bara.

“Lagi pula tidak semua orang bisa percaya begitu saja bahwa kerangka yang ditemukan adalah saudara yang mereka cari,” Adriana mencoba berpendapat.

“Persis,” Bara menyahut. “Untuk ini saya ingat apa kata pendeta itu. Sangat menarik.”

Adriana ingin tahu.

“Pendeta ini punya pemikiran sangat menarik. Dia bilang, apa yang ditemukan itu sungguh keluarga kita atau bukan semata-mata tergantung kepercayaan kita. Kalau kita percaya bahwa itu keluarga kita, jadilah ia keluarga kita.

Itu mengingatkan saya pada berbagai pemikiran yang berhubungan dengan bagaimana orang memahami realitas.

Sejatinya yang mengepung manusia, yang dipahami banyak orang sebagai realitas, isinya tidak melulu hal-hal yang nyata. Yang tidak nyata sama banyaknya dengan yang nyata. Cukup kita percaya bahwa sesuatu itu nyata, maka jadilah dia nyata.

Persis mengenai kerangka tadi. Kalau kita percaya itu saudara kita, jadilah dia saudara kita,” kata Bara.

Terpesona Adriana mendengar ucapan Bara.

“Begitu pun sejarah. Dikarang-karang pun, kalau diulang-ulang lama-lama orang percaya bahwa yang tidak terjadi menjadi terjadi, yang terjadi menjadi tidak terjadi, yang tidak nyata menjadi nyata, dan sebaliknya.

Asas penulisan sejarah adalah konstruksi memori untuk kepentingan tertentu, umumnya kepentingan penguasa. Ada proses seleksi: mana yang harus diingat, mana yang harus dilupakan.

Yang tidak nyata kadang menjadi lebih nyata daripada kenyataan. Bukankah setelah puluhan tahun, karena narasi yang terus menerus dijejalkan dan diulang-ulang, hantu komunis menjadi lebih nyata daripada kenyataannya?”

“Pikiran yang menarik,” Adriana antusias mendengarkan Bara.

“Sebenarnya malah agak usang. Teori representasi telah banyak sekali membahas soal ini.”

“Saya agak ketinggalan kereta. Bagi saya ini hal baru.”

Menerangi hutan dan pikiran, Adriana merasa cahaya bulan kali ini bikin bahagia dan terang pikiran.

Oh ya, adakah Adriana tahu, bahwa terdapat kepercayaan, berciuman tatkala bulan purnama juga bikin awet muda?

Bara pernah dengar, namanya moonlight elixir.

Bersambung

Leave a Reply