Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (2)

By May 15, 20212 Comments

Turning back the clock. Pikiran Adriana kembali ke masa lalu.

Stella bertumbuh bersama apa yang dicapainya kini.

Ia ingat pesta ulang tahunnya ke-30. Suaminya, Lambang Adilukito, merayakan secara besar-besaran. Teman, sahabat, crème de la crème Jakarta, tumplek di kediaman mereka kala itu di Menteng.

Semua mengangkat gelas champagne saat Lambang basa-basi menyambut tamu serta mengucapkan selamat ulang tahun baginya.

Hanya dirinya tidak menenggak champagne. Saat itu ia hamil muda. Stella telah menghuni rahimnya.

Usai pesta yang ingar bingar, di kamar berdua dengan Lambang ia melepas pakaian sehelai demi sehelai. Telanjang bulat. Pesta menggelorakan hasrat untuk bercinta. Hamil muda katanya lagi hot-hotnya.

Ia harap Lambang menangkap isyarat. Ternyata tidak. Suaminya langsung jatuh tertidur.

Inikah kewajaran perkawinan, ia bertanya-tanya.

Perlahan-lahan ia paham, love you till dead hanya ada di novel, film, atau tontonan yang ia gemari berupa musikal di West End London atau Broadway New York ketika mereka melancong berdua.

Waktu cenderung membikin layu segalanya.

Suatu ketika tanpa diduga ia menerima telepon teman lama semasa SMA.

Namanya Elina. Elina yang kini tinggal di Amerika bilang baru beberapa hari di Jakarta dan mendapatkan nomor teleponnya.

“Ketemu yukkkk,” kata Adriana girang tiada tara.

“Kapan?” tanya Elina.

“Seabad lagi,” jawab Adriana. “Kamu menghilang seabad, sekarang tanya kapan mau ketemu. Kalau perlu seabad lalu.”

Elina tertawa kencang. Gaya Adriana tidak berubah. Lugas, ceplas-ceplos, kadang kocak. Banyak yang naksir.

“Di mana? Aku tidak tahu perkembangan Jakarta,” ucap Elina.

Adriana menyebut kafe/restoran sebuah hotel.

Sama tidak diduga oleh Adriana, di restoran di mana Elina telah menanti ternyata ia mendapati suaminya tengah makan siang di situ.

Bersama Sandra, seorang konsultan keuangan independen.

Tidak ada yang istimewa. Dia mengenal Sandra cukup baik. Waktu ulang tahunnya Sandra juga hadir. Suaminya sering ketemu Sandra untuk urusan bisnis.

Diperkenalkannya Elina kepada suami dan Sandra.

“Why don’t you join us?” Lambang mengajak mereka duduk bersama.

Adriana menolak. Ia ingin ngobrol berdua dengan Elina.

Lambang tertawa.

“Enjoy the nostalgia,” ucap Lambang.

Mereka mencari tempat di pojok. Lalu berebutan bicara. Begitu seru. Mata, wajah, tubuh, semua ikut bicara.

Adriana bilang kini ia ibu rumah tangga, tidak ada yang dikerjakan kecuali memanjakan kesenangan mengoleksi benda-benda antik. Kesukaan itu tumbuh karena keluarga suami kolektor barang-barang antik. Juga lukisan.

Elina menceritakan kesehariannya di Baltimore. Sama, kesibukannya adalah urusan rumah tangga.

Suaminya, dokter dan peneliti di John Hopkins, sehari-sehari sibuk. Urusan rumah tangga di tangan Elina. Dari masak, bersih-bersih rumah, sampai mengantar anak-anak ke sekolah. Anaknya dua.

“Harus aku antar sendiri. Baltimore rawan. Kriminalitas tinggi,” kata Elina.

Pembicaraan mereka terpotong sebentar saat Lambang menghampiri. Lambang pamit pulang ke kantor terlebih dahulu.

Mata Elina memperhatikan wajah Lambang dan Adriana berganti-ganti.

Diam-diam ada tanda tanya besar di dalam kepalanya.

Lambang berlalu.

Mereka melanjutkan acara kangen-kangenan.

Hanya saja ada yang disembunyikan Elina.

Ia memutuskan menelan untuk diri sendiri.

Sebelum Adriana datang tadi, ia sempat melihat Lambang dan Sandra pegang-pegangan tangan.

Bersambung

Join the discussion 2 Comments

Leave a Reply