Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (24)

By June 10, 2021No Comments

Revelation, revelation.

Saking terang pikirannya, tiba-tiba Adriana bahkan serasa bisa menghitung jumlah daun di pohon.

Inikah hari baik, saat aku harus memasang bendera-bendera doa?

Angin berhembus.

Seakan membisikkan mantra: semua datang tepat pada waktunya. Terselenggara sesuai kemauan alam, bukan penjadwalan oleh diriku yang terlalu banyak kemauan.

Saatnya aku belajar melepas kemauan sendiri.

Anakku telah menentukan pilihannya.

Bagaimana dengan masa depannya?

Mengapa aku hendak menentukan masa depannya?

Keberadaan kita bukanlah masa depan yang tidak kita ketahui, melainkan jejak masa lalu, kenangan kita, sejarah kita.

Kita takut mati bukan karena takut kehilangan masa depan, tetapi takut kehilangan masa lalu—apa yang pernah dan tengah kita hidupi.

Mati tidak mengubah seseorang, kecuali membekukan jejak perbuatannya.

Pendakianku ke Taktsang dulu sempat terasa berat karena aku melulu menatap ke atas, melihat kuil di tubir karang, yang tampak dekat, ingin aku bergegas agar segera sampai padanya.

Itu yang membuatku kehabisan napas, sebelum pemandu mengingatkanku agar aku melupakan kapan sampai.

Lihatlah sekeliling yang bisa engkau nikmati. Merasakan jengkal demi jengkal jalan setapak, bagaimana kakimu mengatasi jalan terjal ini, tanpa terlalu pusing kapan sampai kuil di atas.

Lepaskan beban.

Ya, selama ini hidupku sepeti mendaki bukit dengan beban mendorong batu besar ke atas. Batu yang hendak kudorong-dorong itu adalah Stella.

Aku seperti legenda kuno Sisyphus, mendorong-dorong batu karang ke atas bukit dan setiap kali batu bergulir kembali ke bawah.

Saatnya aku berhenti jadi Sisyphus.

Hanya dengan itu aku akan sampai ke kuil di tubir bukit, bertemu pendeta yang akan memberi doa pada bendera-bendera yang kubawa, agar saat dihembus angin berkibar-kibar, menyebar mantra bagus kepada siapa saja.

Kekeliruanku selama ini, merasa hidup ini baik-baik saja sejauh semua yang kuingini terpenuhi, semua rencana tercapai.

Ketika apa yang kuharapkan tidak terlaksana, seketika aku merasa dilanda badai, tidak bisa tidur.

Adriana ingat ucapan pendeta di Taktsang: kalau engkau semata-mata ingin merasa nyaman, kenapa jauh-jauh kemari? Pijat sambil mendengarkan musik saja.

Dharma adalah upaya membuka diri yang kadang mendatangkan rasa sakit.

Apa itu kebahagiaan?

Sama seperti mimpi jutaan orang, mereka mengira kebahagiaan adalah punya banyak uang, mobil mewah, tinggal di Revolutionary Hill….

Adriana ingat, ia serasa disambar geledek pendeta mengucapkan kata ‘Revolutionary Hill’.

Mengapa bisa sama persis seperti ia baca dalam novel yang jelas ditulis oleh Bara, mengenai hubungan indah kami yang bermula dari hutan jati di Blora.

Bukankah pendeta bisa mengucap Beverly Hill, yang jelas lebih populer. Mengapa Revolutionary Hill?

Apakah dia membaca diriku?

Mengapa aku baru menyadarinya sekarang.

Waktu itu pendeta mengingatkan, kita tidak bisa mendengar secara intens karena pikiran kita terkacaukan oleh keinginan sendiri. Ketika kita mendengar sejatinya kita tidak mendengar. Akhirnya kita gagal melihat sesuatu dari sudut berbeda.

Ia ingat Stella yang menuduhnya tak pernah mendengarkan orang lain.

Ketika itu Adriana sempat tergugah saat pendeta mengatakan, dengan menjernihkan pikiran kita bisa melihat sesuatu lebih jelas, daun-daun yang gugur, flamboyan yang berbunga, dan lain-lain.

Adriana tergerak.

Seketika ia bangkit dari tempat duduk.

Apa yang kulihat telah dinubuatkan oleh biksu tadi.

Apa yang kulihat saat ini, detik ini: asisten membersihkan kolam renang dari guguran daun-daun. Di atas, flamboyan berbunga merah-merah.

Adriana meninggalkan tempat makan.

Ia merasa pikirannya terang benderang.

Bukan karena espresso, tetapi karena pencerahan.

Ia melangkah ke ruang kerja, menuju tempat dia menyimpan prayer flags dari Paro.

Inilah hari baik bagiku untuk memasang prayer flags.

Mengerahkan para asisten, terpasanglah untaian bendera doa, menyilang dari sudut bangunan ke sudut lain, dari satu pohon ke pohon lain, warna-warni berkibar-kibar ditiup angin.

Spirit bulan Juli, seperti tatkala jati berbunga.

Dia menelepon Stella, meminta agar segera datang.

Stella muncul dengan mata bertanya-tanya.

“Mama hanya ingin bertanya, kapan ibunda Naja datang melamarmu my love?” ucap Adriana dengan senyum bahagia.

Terbeliak mata Stella.

“Is it the answer?” tanya Stella seperti tidak percaya.

“Definitely yes,” jawab Adriana.

Stella memeluk Adriana kuat-kuat.

“I love you, ma,” seru Stella.

Adriana berbisik membalas: “I love you too, dear.”

Bersambung

Leave a Reply