Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (6)

By May 20, 2021May 21st, 2021One Comment

Sebagai ibu Adriana memendam keinginan agar Stella segera menemukan jodoh, menikah. Ia punya kriteria, menantu seperti apa yang diam-diam diimpikannya. Menantu macam apa? Yang jelas tidak seperti semua cowok yang pernah berpacaran dengan Stella.

Kian hari keinginan makin membengkak. Bikin sesak napas.

Sebagian besar teman Stella telah menikah. Beberapa telah punya anak. Termasuk geng RASCAL. Yang namanya berawal huruf R bahkan hamil tatkala SMA. Orangtuanya buru-buru menikahkannya. Ia kini tinggal di Bali. Anaknya bertambah jadi 3.

Adriana menjadi lebih realistis. Biar dengan siapa saja Stella menikah, asal saling cinta.

Hanya saja serealistis-realistisnya Adriana tidak membayangkan Stella bakal menikah dengan pria yang usianya terpaut lebih dari seperempat abad.

Entah mengapa, justru dengan orang yang lebih pantas jadi ayahnya ini Stella mabuk kepayang.

Apakah pada bawah sadarnya Stella merindukan figur ayah, Adriana bertanya-tanya.

Tiap detik mereka saling telepon. Siang hari kadang Stella masak. Naja meninggalkan kantor, makan siang bersama Stella di apartemen.

Beberapa kali bertemu keduanya, Adriana melihat mereka selalu saling genggam. Jari-jari keduanya tak pernah lepas.

Naja adalah general manager hotel internasional. Sebelum menempati pos Jakarta, dalam kedudukan serupa ia pernah di Dubai dan Bangkok.

Statusnya duda. Tentang hal ini Adriana telah melakukan investigasi dan check and recheck kemana-mana. Ia punya banyak teman kalangan perhotelan.

Istri Naja dulu orang Medan. Mereka punya 2 anak, lelaki dan perempuan. Yang lelaki kini sekolah di London. Yang perempuan ikut ibunya di Medan.

Adriana benar-benar seperti Sherlock Holmes.

Tentang sebab-musabab perceraian Adriana merasa tak perlu tahu. Dia telah belajar, tak bisa disalahkan pada satu pihak. It takes two to tango.

Najamudin orang Aceh. Nama lengkapnya Najamudin Daudsyah.

Dia tahu sampai detil daerahnya yakni Sigli, kabupaten Pidie.

Sepelosok apa Sigli, Adriana tidak sanggup membayangkan. Yang pernah dia dengar cuma Banda Aceh dan Lhokseumawe.

Pada makan malam bertiga seperti direncanakan, usai menikmati dessert Stella berkata bahwa Naja hendak menyampaikan sesuatu.

Gaya bicara Stella formal.

Jantung Adriana berdegup keras.

“Ibu, I want to propose Stella. It’s a preliminary proposition. Next my mother will come to visit for the real proposal,” kata Naja.

Adriana kaget. Sama sekali tidak mengira bakal ada pebicaraan semacam ini.

Mengapa Stella tidak memberi tahu sebelumnya, bahwa Naja hendak melamar.

Ia merasa di-fait accompli.

Harus bicara apa aku….

Baru kali itu ia mendengar istilah “preliminary proposition”.

Helloooo, adakah orang lain pernah mendengarnya?

Apakah sebelumnya Naja pernah berlutut, mengajukan lamaran kepada Stella sambil menyodorkan cincin? Stella belum pernah cerita. Cincin yang dipakai Stella tetap cincin pemberiannya, berlian 2,5 karat diikat platinum. Ia dulu mendapatkannya dari balai lelang terkemuka di London.

“Saya ingin membahagiakan Stella. Stella sangat mencintai ibu. Saya ingin Stella bahagia, dan ibu juga bahagia,” lanjut Naja.

Keheranan Adriana bertambah-tambah. Apa-apaan ini?

Bukan soal dia ingin membahagiakan Stella, tetapi ucapan “Stella sangat mencintai ibu”.

Adakah seorang ibu harus diberitahu bahwa anaknya mencintainya?

Kemudian juga ucapan bahwa ia ingin ibu bahagia.

Seberapa jauh dia tahu aku bahagia atau tidak, bakal bahagia atau tidak?

Ia sedang gencar mempelajari Vajrayana. Tentang jalan kebahagiaan. Tidak ada manusia bisa membahagiakan manusia lain.

Adriana merasa berhadapan dengan motivator televisi yang menjual eceran kebahagiaan, seolah bahagia ada resepnya.

Kalau bahagia ada resepnya, niscaya dunia telah terbebas dari samsara sejak berabad-abad lampau.

Sumpah mati Adriana kehilangan kata-kata.

Naja diam menanti jawabannya.

Stella senyum-senyum, tahu belaka mama pasti bilang ya.

Lama Adriana terdiam. Ia menopangkan dagu di atas tangan—gaya khas dia tatkala berpikir keras. Oh ya, dari fitur wajah yang istimewa, dagu Adriana merupakan bagian terbagus.

“Saya memerlukan waktu untuk berpikir,” kata Adriana kemudian.

“I love you, ma,” Stella berucap.

“I know, I love you too,” tukas Adriana. “I know you for thirty years plus nine months,” tambahnya.

Ucapan tadi pasti lebih ditujukan pada Naja daripada Stella.

Adriana tidak bisa tidur semalaman.

Bersambung

Join the discussion One Comment

  • rio lecatompessy says:

    Yang dilamar Stella, kenapa Adriana yang pikir2 dulu?
    Ada apa dengan Adriana? Apa yang dipikirkan? Apa ada sesuatu?
    Makin seru nih..

Leave a Reply