Skip to main content
Cerita

Ketika Jati Berbunga (8)

By May 22, 2021No Comments

Mempertimbangkan kebutuhan, tadinya Adriana berencana membikin 10 kamar sebelum kemudian jadi 12. Dia tidak mengira membangun Jati Inn bakal memberikan ventilasi baru bagi hidupnya. Ia menemukan kesegaran hidup.

Duabelas kamar masing-masing diberi nama zodiac: Capricornus, Aquarius, Pisces, Aries, dan seterusnya.

Dibangunnya kluster untuk diri sendiri: kamar khusus baginya, pantry, serta living room yang lebih mirip galeri. Di situ sebagai fokus ia pajang lukisan yang sangat impresif karya Chu Teh-Chun. Judulnya Blue Abstraction.

Di tempat sekontemplatif seperti ini, menurut dia tidak ada yang lebih tepat untuk dikerjakan kecuali bermalas-malasan.

Muncul gagasan melengkapi tempat ini dengan spa.

Ia menghubungi temannya, namanya Lanny, tangan kanan pemilik perusahaan perawatan tubuh secara tradisional paling terkemuka di Indonesia. Lanny sangat antusias.

“Kebetulan kami sedang memperkenalkan high end product kami,” kata Lanny.

Perusahaannya memfasilitasi spa berkelas untuk dewa dewi dan ratu—andai Ratu Kalinyamat yang terkenal di Demak dan sekitarnya masih ada.

Ibu-ibu pejabat terutama di Jawa Tengah merasa belum lengkap status dirinya kalau belum merasakan dimanja spa Jati Inn.

Untuk restoran Adriana menyerahkan pada teman baik, pengusaha restoran terkemuka dari Semarang, Benita. Di Semarang Benita memiliki beberapa restoran, termasuk bar terkenal di kawasan elit Candi. Sebagian besar langganannya ekspatriat.

Jati Inn adalah istana hutan jati. Banyak orang melongo tidak mengira di tempat seperti ini terdapat life style hub serupa ini.

Setiap kali kesempatan tersedia, Adriana kini lebih memilih belama-lama tinggal di Blora.

Her new refuge, her new retreat place.

Suatu petang di bulan Juli Adriana melihat mobil Nissan Kingsroad biru tua memasuki halaman.

Jati Inn tengah sepi. Adriana sendiri baru tiba dari Jakarta siang tadi.

Ia perhatikan dari dalam siapa yang datang.

Si pengendara turun dari mobil. Membuka jok belakang. Mengambil tas yang kemudian dicangklongnya. Ia melangkah masuk lobi.

Adriana berniat mengambil alih, melayani sendiri di meja resepsionis.

Pemuda itu mengucapkan selamat malam.

“Apakah sudah melakukan reservasi?” tanya Adriana.

“Belum. Saya baru tahu ada tempat ini. Saya hampir tersesat di hutan. Adakah harus melakukan reservasi?” tanyanya. Ada nada kecewa.

“Tidak selalu. Kebetulan tersedia kamar.”

Ia menarik napas lega. Setelah sejenak dan sambil lalu mempelajari keterangan tentang Jati Inn, pemuda itu menyatakan  butuh satu kamar.

“Anda tidak ingin melihat kamarnya terlebih dahulu?”

“Tidak.”

“Berapa malam?” tanya Adriana.

“Untuk sementara tiga malam,” jawab si pemuda mengeluarkan ID dan kartu kredit untuk open bill.

Adriana sekilas berpikir, ada urusan apa orang ini tinggal 3 malam di tempat seperti ini.

“Kebetulan malam ini tidak ada satu pun tamu. Anda bebas memilih kamar mana saja. Tiap kamar memiliki ambiance berbeda,” Adriana menjelaskan.

“Menurut Anda mana yang terbaik?”

Adriana mengambil beberapa kunci kamar.

“Mari saya tunjukkan.”

Sang tamu mengikuti Adriana. Ia perhatikan Adriana dari belakang.

Wanita ini cantik dari semua sisi, kata si tamu dalam hati.

Adriana membuka pintu kamar yang paling dekat. Kamar ini tak terlalu jauh dari kluster pribadinya.

“Wowww…,” sang tamu berseru begitu melihat ruang kamar.

Hal-hal seperti inilah yang selalu membuat bangga Adriana.

“Saya di sini saja,” katanya.

“Tidak ingin melihat yang lain?” Adriana bertanya.

“Saya selalu mengikuti kata hati, jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Adriana tersenyum. Seluruh lelaki dilahirkan ganjen.

Sekilas tadi Adriana sempat memperhatikan matanya: mata yang bicara.

“Nama kamar ini Aries. Semua memakai nama zodiac. Mood-nya disesuaikan nama zodiacnya.”

“Ooh, apa zodiac Anda?” tanya sang tamu.

Adriana tidak mengira sang tamu akan tanya seperti itu. Ia cuma senyum.

“Kalau ada barang-barang hendak diturunkan dari mobil telepon saja. Breakfast mulai pukul 07.00. Karena Anda satu-satunya tamu, you can order whatever you want.

“Saya tidak bisa menentukan apa pun. Dari tadi saya berpikir: Is’t real? Saya serasa dalam sajak Robert Frost stopping by woods on a snowy evening.”

What a comment…, pikir Adriana. Ucapannya sangat intelektual. Pujian atas Jati Inn-nya lain dari yang lain.

“Adakah hal lain yang hendak Anda tanyakan?” kata Adriana sebelum meninggalkan tamunya.

“Ada. Satu,” katanya seolah berpikir keras.

Adriana menanti apa yang hendak ia tanyakan.

“Siapa nama Anda?”

Sang tamu ini agak lucu, pikirnya. Ia menyebut namanya sembari senyum.

“Anda tentulah pemilik tempat menakjubkan ini,” sang tamu berucap.

“Memangnya kenapa?” Adriana tertarik terhadap komentar-komentarnya.

“Vibrasi tempat ini adalah vibrasi Anda.”

Adriana tersenyum lagi.

Tiba-tiba sang tamu mengulurkan tangan.

“Nice to meet you Adriana,” katanya diiringi senyum. “Panggilan saya Bara.”

Adriana menerima uluran tangannya.

Setelah itu berbalik meninggalkannya.

Tadi saya memeriksa ID-nya. Tertulis namanya Tjakrabirawa. Rupanya panggilannya Bara.

Tamuku malam ini agak ajaib, batin Adriana tersenyum sendiri.

Bersambung

Leave a Reply