Skip to main content
Cerita

Minak Jingga dan Saya (16)

By March 7, 2021No Comments
Ilustrasi: Made Gunawan. Diambil dari buku Gajah Mina: Puisi Lukisan dan Sketsa atas izin perupa dan penerbit Bali Mangsi Foundation.

 

Teroktoktoktoktoktoktok.

Damarwulan menghadap Begawan Selagiri. Ada Dyah Palupi. Sabda Palon dan Naya Genggong ikut-ikutan.

“Cucuku Damarwulan,” kata Selagiri. “Bagaimana kamu bertani mengolah lahan selama ini?””

“Semua berjalan baik, eyang,” jawab Damarwulan. “Hamba merasakan kebutuhan manusia tidaklah seberapa.”

“Kamu bekerja terlampau keras,” komentar Selagiri.

“Sebaliknya, eyang. Seperti hamba sebutkan, bekerja memenuhi kebutuhan pokok yang tidak seberapa, kami punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain yang tidak berguna.”

“Melakukan hal-hal tidak berguna?” Selagiri mengernyitkan alis.

“Bukankah selain melakukan hal-hal yang berguna perlu juga melakukan hal-hal tidak berguna untuk keseimbangan hidup, eyang?”

“Hobi,” Sabda Palon menimpali ucapan Damarwulan.

Leisure. Gaya hidup,” Naya Genggong ikut-ikutan, ingin terlihat lebih cerdas.

Selagiri mengangguk-anggukkan kepala.

Sabda Palon berbisik kepada Naya Genggong. “Seenak-enaknya hidup adalah kalau orang bisa melakukan hal-hal tidak berguna. Itu tandanya hidup kita telah terpenuhi. Serupa pensiunan.”

“Sudah kita jalani sejak lama. Kita berdua tidak melakukan apa-apa kecuali bermalas-malasan,” Naya Genggong membenarkan.

“Bayi lahir kerjanya cuma tidur. Kalau lapar bangun. Habis menyusu tidur lagi. Itulah hakekat hidup.”

“Apa yang kalian bicarakan Sabda Palon dan Naya Genggong,” Selagiri menegur dua abdi. “Kalian bicara sendiri. Ini giliranku.”

“Ohh maaf, eyang. Kami hanya bicara, Damarwulan betah di desa. Apalagi tak jauh dari desa sekarang ada Starbucks,” Sabda Palon menjawab.

Selagiri tak paham apa yang diucapkan abdinya.

“Damarwulan,” Selagiri berkata serius. “Eyang pikir dan renungkan cukup lama, menurut eyang kini waktunya kamu meninggalkan Paluamba.”

Damarwulan kaget.

“Apakah hamba tidak boleh tinggal di desa lagi?” tanyanya.

“Seperti kamu ucapkan, manusia perlu menjalani keseimbangan hidup. Desa memerlukan kota; kota memerlukan desa. Saatnya kamu mencoba mengolah hidup di kota.”

“Apakah bekal hamba telah cukup?”

“Cukup atau tidak cukup tergantung cara kamu menghayatinya. Ada yang selalu merasa bekal tidak cukup. Selalu merasa kurang. Ada yang sadar apa yang dimiliki dan mampu memanfaatkannya.”

“Begitukah eyang?”

“Sekarang saatnya kamu melepas apa yang kamu punya,” ucap Selagiri.

“Melepas?” tanya Damarwulan.

“Melepas yang kamu miliki, meninggalkan yang kamu duduki. Tanpa itu kamu tidak akan kemana-mana. Ada gunung di balik gunung, ada cakrawala di balik cakrawala, kata Rendra. Kesabaran adalah bumi. Kesadaran adalah matahari. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

“Kalau memang demikian kehendak eyang, hamba hanya bisa melaksanakan titah. Kapan hamba harus meninggalkan Paluamba?”

“Jangan seperti anak kecil. Hari ini juga,” Selagiri menegaskan.

“Ibunda, Damarwulan mohon restu,” Damarwulan berpaling kepada ibunya.

“Restu ibunda untukmu, anakku Damarwulan. Terimalah peninggalan ayahandamu,” Dyah Palupi mengangsurkan sesuatu ke tangan Damarwulan.

“Apa ini, ibunda?”

“Rahasia pintu naga. Menyiapkan mentalmu menghadapi segala kemungkinan.”

Damarwulan menghaturkan sembah kepada ibu dan kakeknya.

“Sabda Palon dan Naya Genggong. Iringi asuhanmu Damarwulan. Kalian jangan sampai pisah,” Begawan Selagiri berpesan kepada Sabda Palon-Naya Genggong.

Bertiga mereka meninggalkan Paluamba.

Bersambung

Leave a Reply