Skip to main content
Cerita

Minak Jingga dan Saya (18)

By March 9, 20213 Comments

Saat Damarwulan CS dan Anjasmara beserta chaperone masih di gerbang kepatihan, patih Logender muncul.

“Siapa dan ada apa ini rame-rame di sini?” Logender menegur..

“Maaf kanjeng patih,” buru-buru Ni Luh Sekar memberi hormat serta menerangkan siapa mereka.

“Kami juga menghaturkan sembah kanjeng patih Logender,” Sabda Palon-Naya Genggong menjatuhkan diri.

“Kok aku seperti pernah melihat tampang kalian?”

“Sabda Palon dan Naya Genggong. Dulu kami abdi patih Maudara.”

“Lhadalah…. Abdi patih Maudara. Sudah bertahun-tahun lalu. Kuterima sembah kalian. Sebaliknya terimalah restuku,” ucap Logender. “Terus bocah bagus yang satu ini siapa?”

“Hamba Damarwulan. Putra patih Maudara,” ucap Damarwulan.

“Lhadalah… terhitung saudara. Terus ada apa kalian semua berada di sini?”

“Kami dari desa keleleran di kota. Sudah tiga hari tidak makan. Ingin mengabdi dan mencari pekerjaan di kepatihan kanjeng patih Logender,” Naya Genggong angkat bicara.

“Lhadalah, mencari pekerjaan?” Logender berucap.

“Iya ayahanda. Mereka mencari pekerjaan. Diterima ya ayahanda,” giliran Dewi Anjasmara buka suara sembari memegang lengan ayahnya.

“Lho, lho, terus pekerjaan apa yang harus aku berikan?” Logender bingung.

“Apa saja. Stafsus,” kata Anjasmara.

“Apa itu?”

“Staf khusus. Ayahanda kan tidak punya stafsus. Ini zaman pejabat harus punya stafsus.”

“Apa yang harus dikerjakan sassus?” Logender bertanya.

“Bukan sassus, stafsus. Apa saja, memberi pertimbangan ayahanda. Ya pokoknya begitu. Ngobrol-ngobrol.”

“Lhadalah. Ngobrol-ngobrol jadi pekerjaan.”

“Pokoknya diterima ya, ayahanda. Komisaris juga boleh,” Anjasmara mendesak ayahnya.

“Sebenarnya kamu ada apa, putriku Dewi Anjasmara. Tiba-tiba jadi seperti agen tenaga kerja.”

“Kasihan. Mereka jauh dari desa terlunta-lunta di kota. Dari mana tadi Damarwulan, oh ya, dari Ciawi,” Anjasmara terus berkata-kata.

“Damarwulan,” Logender berpaling padanya. “Apa pekerjaaan yang sanggup kamu kerjakan?”

“Hamba petani. Biasa menggarap ladang. Mencari rumput. Memelihara kuda-kuda. Menjaga desa, agar desa terpelihara dalam caranya,” kata Damarwulan.

“Kuta mawa tata desa mawa cara,” Naya Genggong menyela lagi.

“Lhadalah, bagus kalau demikian. Kalian semua kuterima bekerja di sini. Damarwulan, tugas kamu adalah menjaga gerbang kepatihan,” Logender memutuskan.

“Terimakasih ayahanda,” Anjasmara berkata.

“Lha kok kamu yang terimakasih, Anjasmara. Kamu benar-benar agennya?”

Anjasmara senyum-senyum.

“Ketahuliah Damarwulan. Saat ini keadaan negara sedang genting. Minak Jingga berontak mengancam keamanan negeri. Karena itu jaga baik-baik kepatihan. Tidak boleh ada orang masuk kepatihan tanpa menunjukkan surat bercap patih Logender.”

“Seluruh titah kanjeng patih akan dilaksanakan Damarwulan sebaik-baiknya,” Damarwulan menghaturkan sembah.

“Sekarang semua bubar. Kamu Dewi Anjasmara, tidak pantas anak gadis berdiri-berdiri di gerbang kepatihan. Kembali ke keputren.”

Sebelum berlalu Anjasmara melempar lirikan kepada Damarwulan.

“Matekkk aku…,” Naya Genggong memegang dada berlagak terkena anak panah.

Lirikan Dewi Anjasmara memang maut.

Bersambung

Join the discussion 3 Comments

Leave a Reply