Skip to main content
Cerita

Minak Jingga dan Saya (24)

By March 16, 20212 Comments
Ilustrasi karya Wiediantoro.

Patih Logender menyuruh Layang Seta-Layang Kemitir untuk siap setiap saat, karena kepada ratu dia telah mengajukan keduanya untuk menjadi senapati peperangan menghadapi Minak Jingga.

Seta-Kemitir hampir semaput saking kaget.

“Kami jadi senapati?” tanya keduanya serentak.

“Ya,” jawab Logender.

“Ayahanda ini bagaimana. Perang saja kami belum pernah. Tiba-tiba jadi senapati. Menghadapi Minak Jingga pula,” kata Layang Seta.

Dia jadi kebelet kencing.

“Tenanglah kalian. Ayahanda yang akan mengatur.”

“Bagaimana bisa tenang. Ayahanda menjadikan kami mangsa macan.”

“Itu menurut kalian. Menurut ayahanda ini jalan menuju ke kemuliaan.”

Seta-Kemitir bingung.

“Ratu kebingungan. Tidak ada perwira Majapahit layak diangkat jadi senapati. Jabatan senapati kosong. Kesempatan kalian mendapatkan jabatan itu. Ini juga kesempatan ayahanda memuliakan keluarga.”

“Tapi bagaimana kami melakukannya? Apalagi maju perang.”

“Kalian tidak perlu maju perang. Setelah jadi senapati, sebagai pejabat kalian kerahkan orang lain untuk maju perang. Mereka yang perang. Kalian ongkang-ongkang.”

“Siapa yang akan kami kerahkan?”

“Banyak yang bjsa dikerahkan.”

“Ohh, saya paham. Para penganggur dan orang-orang miskin. Begitukah ayahanda?” Layang Seta merasa mendapat pencerahan.

“Kabarnya upahnya cukup nasi bungkus. Kalau begitu kami sanggup,” Layang Kemitir senang.

“Jangan apa-apa dihubungkan dengan orang miskin, kemiskinan. Itu pikiran lawas. Cerdaslah sedikit,” Logender memotong. “Jangan malas berpikir. Apa-apa dihubungkan dengan ketimpangan sosial. Belajarlah ilmu jiwa manusia. Ilmu jiwa manusia sama dengan ilmu jiwa kekuasaan.

Yang tahu soal ini sebenarnya ratu Kencanawungu. Ratu marah-marah, sempat menyebut soal menguasai kenangan berarti menguasai manusia. Ayahanda pura-pura tidak dengar. Biar saja dikira bodoh.

Mengerahkan orang untuk perang, memerangi siapa saja, melawan siapa saja, adalah hal gampang. Dengar nasihat ayahanda.

Bukan hanya karena miskin orang bersedia maju perang. Lama miskin orang malah jadi lemah. Dikuasai perasaan tak berdaya.

Orang melakukan perlawanan tidak memerlukan alasan, tapi kebanyakan karena bosan. Bosan adalah sifat dasar manusia. Orang bekerja, rapat, melakukan ini-itu, semuanya sejatinya hanya untuk mengatasi kebosanan.

Sama seperti orang mengkritik apa saja sekarang, itu disebabkan bosan. Tidak perlu punya tujuan, tidak perlu mikir, tidak perlu tahu. Pokoknya berkomentar. Mereka tidak miskin. Mereka bosan dengan hidup yang serba cukup. Iri, benci, tidak memerlukan alasan. Begitu pun cinta.

Manusia jenisnya macam-macam. Yang pasif mengungkapkan rasa bosan dengan menguap. Berbeda dari mereka yang aktif. Orang yang aktif menyalurkan kebosanan dengan bermain kuda, jalan-jalan, berjudi, atau main perempuan seperti kalian berdua lakukan.

Jangan menyanggah. Ayahanda tahu segalanya. Telik sandi ayahanda dimana-mana. Dulu ayahanda belajar secara khusus mengenai telik sandi.

Nah kita mencari jenis manusia yang agresif. Jenis ini menyalurkan kebosanan dengan merusak, membakar, pendeknya melakukan kerusuhan. Mereka itu yang harus digerakkan. Orang yang bosan, berjuang lebih militan dibanding orang yang berjuang dengan cita-cita tertentu.

Mereka yang berjuang demi cita-cita, berhenti melakukan perlawanan tatkala diiming-imingi sesuatu. Iming-imingi uang, jabatan, jadi menteri, juru bicara, juru dagang, dan lain-lain. Militansinya patah.

Tidak demikian dengan orang bosan. Mereka tidak punya cita-cita. Mereka tidak tahu apa yang dibutuhkannya.

Semoga kalian, Layang Seta-Layang Kemitir, paham apa yang ayahanda katakan ini. Anjasmara jangan diberi tahu,” kata Logender.

“Wah-wah-wah, kalau demikian kami jadi tenang, ayahanda,” kata Layang Seta. “Jadi kami tinggal mencari orang-orang bosan?”

“Itu pun tidak perlu,” kata Logender. “Ayahanda sudah punya banyak. Telah lama ayahanda memiliki laskar tersembunyi. Isinya semua orang-orang bosan dan tidak punya cita-cita. Mereka adalah pasukan serba guna, sering ayahanda manfaatkan untuk keperluan apa saja.”

“Kami benar-benar mantap sekarang. Jadi laskar tanpa tujuan pun sudah ada stoknya? Saat ini kami bahkan sudah serasa sebagai senapati,” Layang Seta girang.

“Terimakasih ayahanda,” Layang Kemitir menambahi.

“Jadi untuk berkuasa kita cukup memelihara pikiran orang banyak agar kosong tak punya cita-cita dan tujuan. Hampa…,” Layang Seta menyimpulkan seadanya.

Saking senangnya, Layang Seta-Layang Kemitir bersalam-salaman dan berpelukan.

Bersambung

Join the discussion 2 Comments

Leave a Reply