Skip to main content
Cerita

Minak Jingga dan Saya (40)

By April 4, 2021No Comments

Minak Jingga terbangun. Tidur walau sesaat membuat diri segar. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya.

Dia melangkah keluar dari ruang peraduan.

Dilihatnya Damarwulan.

“Hah senapati Majapahit. Hiyung… hiyung… hiyung…. kamu masih di sini, belum pulang,” melantur lagi Minak Jingga.

“Aku menunggumu untuk melanjutkan perang,” kata Damarwulan.

“Hiyung… hiyung… hiyung, kamu sudah kalah. Lebih baik kamu pulang ke Kediri. Sampaikan salamku untuk kekasihku Kencanawungu. Bilang xoxo dari Minak Jingga. Kecuali kamu betah di sini, kubayar jadi juru bicara.”

“Jangan kelewat ngaco. Hadapi Damarwulan,” kata Damarwulan sembari menghunus gada Wesi Kuning.

Samber geledek, Minak Jingga kaget. Ia meraba pinggang kiri-kanan. Gada Wesi Kuning dan pedang Sukayana tak ada lagi padanya.

“Bocah bagus, itu pusakaku. Kembalikan padaku.”

“Tidak bisa. Lawanlah aku.”

“Hiyung… hiyung… hiyung, kembalikan padaku. Kutukar apa pun yang engkau mau. Uang, jabatan? Apa yang kau ingini Damarwulan? Jadi menteri? Wakil? Komisaris?”

“Aku menghendaki kepalamu.”

“Kalau begitu aku tukar Wahita-Puyengan. Pegang perempuan lebih enak daripada pegang senjata. Lagi pula kepalaku tidak ada isinya. Sumpah aku tidak pernah baca.”

“Rebutlah kalau engkau menghendaki pusakamu,” tantang Damarwulan.

Dengan trengginas Minak Jingga menyerang Damarwulan. Damarwulan menghindar.

Meski serangan Minak Jingga kelihatan ngawur tanpa pola, kali ini Damarwulan telah hapal. Ada keteraturan dalam ketidak-teraturan. Ordered chaos. Semua hal memiliki pola. Bahkan kebohongan.

Minak Jingga menyerang bertubi-tubi. Damarwulan tak memikirkannya. Dia tidak mau diperdaya pikiran sendiri.

Masuk dalam ruang waktu sendiri.

Ono niro ono ningsung; ono ningsun ono niro.

Ia tidak menganggap Minak Jingga sebagai lawan, melainkan bayangan untuk mengalahkan diri sendiri.

Damarwulan bergerak seperti menari.

Minak Jingga terbawa. Ia ikut menari.

Berdua, Damarwulan-Minak Jingga bergerak bak menari. Pelan. Indah.

Sampai suatu ketika Damarwulan mengayunkan gada Wesi Kuning ke kepala Minak Jingga.

Perlahan Minak Jingga terjerembab.

Tubuhnya yang besar ambruk, menimbulkan suara berdegum seperti suara pohon beringin tua roboh. Lalu tak bergerak lagi.

“Mati,” kata Sabda Palon yang menyaksikan peristiwa ini.

Ia mendekati Minak Jingga.

“Bener. Dingin. Udah dead,” ucapnya kepada Naya Genggong yang ikut mendekat dengan takut-takut.

“Raksasa ternyata mudah matinya. Makanya bayarannya murah. Muncul sekali langsung mati, tak lagi muncul di panggung,” kata Naya Genggong.

“Raden Damarwulan, cepat penggal lehernya. Ntar keburu hidup lagi, berisik lagi,” kata Sabda Palon.

Damarwulan mendekat. Ia mengeluarkan pedang Sukayana.

Sekali tebas, terputus kepala Minak Jingga.

“Eh kelapa, eh kepala…,” seru Naya Genggong melihat kepala Minak Jingga menggelinding.

Langit yang sebelumnya mendung mendadak terang.

Damarwulan terpesona. Ia mendengar alunan lagu. Nadanya gembira.

Dikerahkannya pendengarannya. Rasanya ia kenal lagu ini.

Betul. Lagu itu ciptaan dalang terkenal, pesanan penguasa yang berkehendak mengubah sejarah.

Judulnya Turi Turi Putih.

            Bukan Genjer Genjer, lagu rakyat Banyuwangi.
           Turi turi putih
           Ditandur nong Kebon Agung

 

Bersambung

Leave a Reply