Skip to main content
Cerita

Minak Jingga dan Saya (43)

By April 9, 20213 Comments

 

Oleh Layang Seta-Layang Kemitir jasad Damarwulan dibuang ke semak-semak. Sepeninggal keduanya, muncul asap putih melayang-layang menghampiri jasad Damarwulan. Perlahan-lahan asap berubah menjadi sosok manusia.

“Belum titi mangsa-mu Damarwulan,” kata sosok itu membangunkan Damarwulan.

Damarwulan terbangun.

Ia merasa bingung dan aneh.

Baru saja dia merasa berjalan di lorong sepi, warna serba putih. Di ujung lorong terlihat cahaya sangat terang.

Sampai di ujung lorong, cahaya terang yang ia lihat dari kejauhan berubah jadi sosok manusia. Sosok itu menyuruh Damarwulan kembali.

“Kembali kamu Damarwulan. Jangan teruskan perjalanan.”

Damarwulan kembali. Tiba-tiba ia berada di tempat ini: daerah Puralingga.

Di depannya berdiri sosok bercahaya yang ia lihat di ujung lorong serba putih tadi.

“Ayahanda,” kata Damarwulan bingung.

“Betul anakku Damarwulan. Aku ayahmu. Maudara. Belum waktunya kamu mati. Banyak yang tidak kamu ketahui. Hati-hati, kekuasaan bisa meniadakan kemanusiaan,” kata sang ayahanda.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Damarwulan.

“Kembali ke puri Puralingga. Bawa Wahita dan Puyengan menghadap ratu Majapahit. Mereka saksi bahwa kamu yang membunuh Minak Jingga.”

Usai berucap demikian Maudara buyar menjadi kristal-kristal cahaya. Lalu lenyap dalam seketika. Alam kembali terlihat apa adanya.

Damarwulan terpekur. Terngiang di telinganya: kekuasaan bisa meniadakan kemanusiaan.

Zaman apa ini? Kekerasan, pembunuhan, bunuh diri, jadi tontonan, ditonton secara luas. Dijadikan hiburan oleh yang memuja dan mengutuk? Kesakralan jasad tak ada lagi, jadi bahan lelucon.

Inikah humanisme visual sebagai ganti humanisme transendental? Sebegitu merosotkah kemanusiaan?

Damarwulan bergegas kembali ke puri Puralingga.

Kedatangannya mengejutkan Minak Surangga.

Begitu pun Wahita dan Puyengan. Mereka kaget campur girang.

“Akhirnya senapati Damarwulan memutuskan kembali kesini,” Minak Surangga mengungkapkan kegembiraan.

“Ternyata senapati mendengar usulku. Tinggal dulu beberapa hari di Puralingga. Nanti jalan-jalan sama aku,” kata Puyengan gembira. “Oh, tidur di kamar sebelah ya. Biar dekat.”

Pusing Damarwulan. Kepada Minak Surangga ia menceritakan apa yang dialaminya, sekaligus mohon diizinkan membawa Wahita dan Puyengan menghadap ratu Kencanawungu.

“Dugaanku saudara iparmu ada yang menggerakkan. Tidak lain menurut dugaanku patih Logender. Ia manusia tidak bisa dipercaya. Omongannya tidak bisa dipegang. Dulu pernah bernadar, kalau diangkat jadi patih akan jalan kaki dari Kediri ke Puralingga. Mana buktinya, cuma omongan,” kata Minak Surangga.

“Izinkan aku meminjam putri-putrimu adipati Minak Surangga. Aku memerlukan saksi di hadapan ratu,” kata Damarwulan.

“Kok pinjam tho…,” Wahita menyela.

“Iya, kok cuma pinjam. Kami maunya dimiliki,” kata Puyengan.

Damarwulan mati kutu menghadapi mereka.

“Tentu saja aku izinkan putri-putriku engkau bawa ke Majapahit senapati Damarwulan,” ucap Minak Surangga. “Gada wesi kuning dan pedang Sukayana pun harus di tanganmu. Senjata harus di tangan orang yang tepat. Di tangan manusia yang tidak tepat senjata membahayakan rakyat. Jadi alat untuk melampiaskan kesewenang-wenangan. Bukan untuk bela negara tapi untuk menggepuk rakyat.”

“Terimakasih atas kepercayaanmu adipati Minak Surangga.”

Berpamitanlah Damarwulan.

Ia menuju Majapahit bersama Wahita-Puyengan.

“Mbok aku digandeng, kangmas senapati…,” Wahita merajuk.

Belum sempat Damarwulan menentukan harus bagaimana, Wahita langsung menggamit lengan kirinya.

“Aku juga, masa cuma Wahita,” Puyengan berucap sambil menggaet tangan kanan Damarwulan. Lalu menggelendot mesra. Rambutnya wangi. Padahal katanya belum keramas.

“Aku suka jambangmu,” kata Puyengan sambil memperhatikan pipi Damarwulan.

Sebenarnya apa-apaan ini, batin Damarwulan.

Kalau aku gemas, kucium beneran kalian, katanya dalam hati.

 

Bersambung

           

 

Join the discussion 3 Comments

Leave a Reply