Skip to main content
Cerita

Negeri Tanpa Ingatan

By January 16, 2024No Comments

RENCANA perjalanan atau itinerary saya ke Tiongkok pada akhir tahun 2023 lalu adalah kota-kota bagian selatan, karena dorongan rasa ingin tahu lebih lanjut mengenai asal muasal kita (pelajaran sekolah dasar yang masih melekat di benak saya adalah nenek moyang kita berasal dari Yunnan, dari lembah Sungai Yangtze), serta jejak kebesaran Tiongkok pada Dinasti Song.

Dari berbagai literatur yang saya pelajari, puncak peradaban Tiongkok dicapai di bawah Dinasti Song di mana negeri ini mengalami masa Renaisans, kebesaran di dunia literatur, kesenian, bangunan, intelektualitas, moral, mendahului Eropa yang baru mencapainya 4 abad sesudahnya.

Saya selalu tertarik pada kisah terbentuknya peradaban-peradaban besar.

Selain itu pilihan daerah selatan dikarenakan pertimbangan musim.

Musim dingin kali ini daerah utara seperti Beijing temperatur jatuh sampai minus 40 derajat Celsius.

Kehidupan beku.

Di kota-kota bagian selatan yang saya kunjungi jauh lebih mending, berkisar antara 10-12 derajat meski pada malam hari 0-1 derajat.

Saya lebih menyukai udara dingin daripada panas.

Pada hawa dingin bisa bergaya pakai jaket—kesempatan yang jarang saya dapat di negeri tropis.

Di Bali di villa Jais Darga sehari-hari saya telanjang dada.

Menyinggahi Kunming (ibukota provinsi Yunnan), Dali (kota yang cantik, tempat shooting berbagai drama romantik China), Lijiang, Yangzhou, Foshan (ke rumah peninggalan jago kungfu Ip Man), dan lain-lain, cinta saya tertambat pada kota Suzhou.

Ip Man, sang legenda.

Suzhou adalah jejak akhir dari zaman Song, ketika dinasti ini pindah ke selatan dari ibukota mereka sebelumnya di Tiongkok tengah, yakni Kaifeng.

Suzhou

Pada zamannya konon Kaifeng adalah kota paling modern dan kosmopolit sedunia.

Terdesak oleh serangan Mongol, penguasa Song pindah ke selatan, berusaha membangun kota baru Suzhou tadi, sebelum ini pun jatuh ke tangan Mongol.

Atas koneksi pemandu saya, Gunadi, mahasiswa asal Surabaya yang tengah belajar computer engineering di Shenzhen—meski minat dia sejatinya sejarah dan filsafat—saya beruntung bisa menginap di rumah kuno berusia ratusan tahun yang kini dijadikan penginapan, kalau diterjemahkan bahasa Inggris namanya Royal House.

Pemiliknya, pria kurang lebih seusia saya, namanya Ye Fei.

Ia seorang terpelajar, dan entah karena jodoh atau apa, ternyata ia keturunan Song pada garis keturunan entah ke berapa ratus.

 

DE JAVU.

Saya tergetar sejak kaki menapak gerbang penginapan.

Ye Fei menyambut dengan sangat hangat.

Dibiarkannya saya tertegun-tegun mengagumi rumahnya, tidak lagi mempedulikan barang-barang saya yang dengan seketika diurusnya, dibawa ke lantai dua ke kamar yang disediakan untuk kami.

Suasana penginapan

Setelah itu Ye Fei menyiapkan teh, melakukan semacam “upacara penyambutan” terhadap saya dengan minum teh.

Kami jadi akrab dari sejak perjumpaan pertama.

Sembari berbincang sambil minum teh itulah dia menceritakan riwayat dan silsilah keluarga berhubungan dengan tempat tinggal yang dimilikinya ini.

Ditunjukkannya pada saya cetak kayu (woodblock) yang menggambarkan silsilah keluarganya.

Benda itu katanya diselamatkan oleh kakeknya dulu dengan disembunyikan di atap rumah ketika pada tahun 1960an rumahnya diacak-acak Tentara Merah.

Di dinding juga tergantung ukiran kaligrafi kuno yang menunjukkan intelektualitas klan ini, sebutannya jinshi, dari Dinasti Song.

“Kakek saya menjaga benda-benda ini, demikian pula ayah saya, lalu saya, nanti anak saya juga akan terus menjaganya,” kata Ye Fei.

Itulah katanya sebagian cara menjaga memori.

Menjaga memori berarti menjaga sejarah.

Menjaga sejarah adalah menjaga masa kini dan masa depan.

Saya suka berbincang dengannya.

Bekerja di tempat Ye Fei

Selain kronik peristiwa yang tercatat rapi, sejarah Tiongkok penuh legenda dan dongeng.

Diceritakannya sebelum Dinasti Song menguat pada abad ke-10 Tiongkok terbelah dalam klan-klan kecil yang berebut kekuasaan.

“Batu di delta Sungai Yangtze terangkat ke udara terbang hilang di langit,” kata Ye Fei.

Batu tersebut merupakan prasasti untuk mengingatkan bahwa kekuasaan adalah mandat sorga, Tianming.

Dengan hilangnya mandat sorga, mendadak kata dia, seluruh manusia dari penguasa sampai rakyat hilang ingatan.

“Bayangkan ketika penguasa hilang ingatan,” kata Ye Fei. “Mereka menari-nari seperti orang gila.”

Saya dan Gunadi yang menjadi penerjemah saya tertawa.

Diam-diam kami berdua teringat keadaan negeri sendiri.

“Begitu pun rakyat. Ngawur tanpa pegangan.Itulah kalau bangsa kehilangan ingatan,” tambahnya.

Ketika Dinasti Song berhasil mengambil alih kekuasaan, pada pemerintahan kaisar kedua, Taizong, di mana keadaan mulai stabil, dicanangkanlah program membangun negeri untuk kembali membangun ingatan rakyat.

Otak yang utama harus dibereskan.

“Tiga program utama,” kata Ye Fei menjelaskan. “Pertama, membangun kembali perpustakaan kerajaan yang naskah-naskahnya banyak yang hilang dikarenakan perang sebelumnya. Kedua, membangun sentral pengetahuan dengan mengerahkan cerdik pandai untuk menciptakan ensiklopedi, kamus, buku-buku, dan lain-lain. Ketiga, membikin proyek besar-besaran mengubah semua manuskrip tersebut menjadi buku melalui teknik cetak yang ada pada waktu itu, yakni cetak kayu.”

Saya tertegun-tegun mendengar “kuliah” Ye Fei.

“Jadi kekuasaan bukan lagi mandat langit, tapi pengetahuan?” tanya saya.

Ye Fei berkata panjang lebar, kemudian diterjemahkan oleh Gunadi.

“Betul, tapi kepercayaan lama bahwa kekuasaan adalah mandat langit tidak bisa dihilangkan dari pemikiran masyarakat Tiongkok,” kata Gunadi menerangkan pada saya.

“Jadi yang utama yang mana?” saya meminta Gunadi bertanya pada Ye Fei.

Ye Fei menjawab.

Setelah berpikir agak lama, Gunadi memberi rumusan akan kata-kata Ye Fei.

“Pada pemerintahan Song yang utama adalah profesionalisme dan meritokrasi,” kata Gunadi.

Saya suka penjelasannya.

Filosofis dan gamblang.

“Pertama kali dalam sejarah Tiongkok pada waktu itu dilakukan test untuk pegawai istana. Dimana-mana dibangun sekolah untuk mengedukasi moral publik,” kata Gunadi menerangkan penjelasan Ye Fei.

Saya mengangguk-anggukkan kepala.

Sampai lewat tengah malam kami berbincang-bincang.

Saya ingat beberapa hal yang diungkapkan oleh Ye Fei.

Persoalannya kemudian, sistem yang dibangun oleh kaisar kedua itu perlahan-lahan merosot pada penguasa-penguasa penerusnya.

Negeri makin lemah.

Mongol di bawah Kublai Khan, cucu Ghengis Khan, menyerang telak ibukota Kaifeng.

Suzhou

“Song tidak begitu saja menyerah. Mereka lari ke selatan, ke sini, membangun kota baru Suzhou ini,” kata Ye Fei. “Akan tetapi Mongol terus merangsek. Sampai akhirnya kaisar tidak bisa bertahan. Kaisar terakhir ini umurnya baru tujuh tahun. Dalam perang di Sungai Yangtze, demi kehormatan negeri, oleh perdana menteri yang setia ia dibawa meloncat dari kapal, tenggelam di sungai. Burung kakatua kaisar menabrak-nabrakkan diri di sangkar, sampai cantolan sangkar lepas, jatuh ke sungai. Kakatua ikut mati bersama majikannya.”

Sedih saya mendengar cerita keruntuhan Song.

“Orang-orang Tiongkok lari kemana-mana menghindari kejaran Mongol. Mereka lari sampai ke negeri-negeri lain,” kata Ye Fei.

“Termasuk sampai negeri saya,” saya menimpali.

“Saya kira demikian,” ucap Ye Fei.

“Mungkin yang lari sampai negeri saya beberapa termasuk yang masih hilang ingatan, belum sempat mengenyam hasil edukasi moral publik,” kata saya. “Ada anak-anak muda yang seperti hilang ingatan memuja-muja penguasa yang juga hilang ingatan.”

Gunadi menendang kaki saya di bawah meja.

Ia khawatir saya mulai bicara sekenanya.

“Jangan dilanjutkan. Nanti omongan sampeyan dikutip koran-koran internasional,” kata Gunadi berseloroh dengan logat Jawa Timur. Ia asli Surabaya.

Saya tertawa.

“Sebaiknya kita tidur,” lanjut Gunadi.

Kami pun pamit tidur.

“Wanan…,” kata saya pada Ye Fei.

Besok kami akan ngobrol lagi.***

16/1/2024

Leave a Reply