Skip to main content
Cerita

Suatu Malam di Bangkok

By December 6, 2022One Comment

19.50. Air Asia nomor penerbangan 256 dari Jakarta mendarat di Don Mueang.  Dari berbagai penerbangan berikut semua kelemahan dan kelebihan masing-masing maskapai, saya perhatikan Air Asia paling mulus pendaratannya. Tidak ada guncangan saat roda pesawat touch down. Tiba-tiba saja kami sudah di darat.

Sawasdee krap.

Lebih dari dua tahun sejak dimulainya pandemi saya tidak menginjak negeri ini. Tepatnya, selama lebih dua tahun saya tidak kemana-mana, ngejogrok di rumah.

Semua jadi lebih sederhana. Tidak lebih dari 10 menit dari pendaratan saya sudah melampui pintu imigrasi dan mendapatkan bagasi—kopor kecil tak seberapa berisi beberapa lembar pakaian.

Sama cepatnya saya mendapatkan bis menuju stasiun sky train—sebutannya BTS—Mochit. Bayar 30 bath atau kurang lebih Rp 15.000. Hujan turun rintik-rintik. Saya menutupi kepala, turun dari bis berjalan ke stasiun kereta. Dari stasiun Mochit naik BTS menuju stasiun tujuan saya: Ekkamai.

Ah, Ekkamai….

Stasiun Ekkamai siang hariLama kita tidak bersua, saya menyapa.

Engkau masih seperti dulu. Tidak terlalu ramai dibanding stasiun-stasiun lain. Ada iklan dara-dara cantik. Oh pantesan: Blackpink. Di antara anggota grup cewek Korea Selatan itu paling cantik di mata saya adalah Lisa, berasal dari Thailand. Di latar belakang terlihat pucuk keemasan kuil suci Buddha Wat That Thong.

Saya menangkupkan tangan di dada memberi penghormatan kepada Buddha dari kejauhan.

Melangkah keluar stasiun, di luar stasiun tiba-tiba saya rasakan tubuh saya bergetar hebat.

Seperti ada angin dahsyat menerpa.

Ada apa ini? Kaki serasa tidak menginjak tanah. Tubuh kehilangan gravitasi seperti hendak terbang ke angkasa. Rambut saya berkibar-kibar. Mungkin seperti rambut David Coverdale di atas panggung.

Saya pegangan pagar besi kuil Wat That Thong kuat-kuat agar tubuh tidak terbang.

Jantung berdegup keras antara kaget, bingung, panik, takut.

Hampir saya teriak, ketika tiba-tiba sensasi yang baru pertama kali saya alami seumur hidup ini lenyap. Semendadak datangnya, semendadak pula lenyapnya. Semua kembali normal.

Gila, apakah ini akibat gladi menghilangkan tubuh selama dua tahun yang kujalani, saya bertanya-tanya. Berlatih menghilangkan tubuh. Berlatih detachment. Saya di ambang bisa terbang?

Buru-buru saya gusur pikiran kekanak-kanakan tersebut.

Kelewat lama saya tinggal di desa. Saya simpulkan sendiri: pasti ini akibat vibe sebuah metropolitan bernama Bangkok. Saya berada di urat nadi kehidupan malam Bangkok: Sukhumvit Road.

Baiklah Bangkok, here Min Kebo is coming.

Bangkok malam hari.

TROTOAR ramai. Bangkok beratmosfir kosmopolit. Banyak turis bule—orang Thailand menyebutnya farang—berkeliaran. Beberapa farang lelaki, tua pula, menggandeng cewek lokal muda usia.

Jadi pengin tertawa sendiri.

Yach, pacaran tidak kenal usia.

Saya tersadar panggilan saya sendiri: bar langganan di daerah ini. Sebuah Irish bar, namanya Black Night. Dulu saya pernah kenal pemiliknya, orang Irlandia. Ternyata seperti saya, dia pemuja Deep Purple, maka barnya diberi nama Black Night.

Dengan menyeret kopor di atas trotoar Sukhumvit saya menuju Black Night.

Tidak banyak berubah. Dari kejauhan terlihat neon boks bergambar bir hitam. Beberapa farang minum bir di luar.

Saya masuk. Cukup ramai. Televisi gaduh menyiarkan pertandingan piala dunia. Jerman melawan Jepang. Prestasi terbesar Jepang dalam piala dunia adalah membersihkan sampah usai pertandingan.

Duduk di bar saya memesan bitter beer dalam gelas besar.

Saat dingin bir hitam kecoklatan mengalir di tenggorokan, saya merasa menemukan kehidupan kembali.

Bir di Black Night

Di mana aku selama ini?

Gelas pertama tandas dalam sekejap. Lalu gelas kedua. Terus gelas ketiga. Setelah itu lebih bijaksana tidak menghitung lagi.

Ada diktum kebenaran: kalau lelaki minum bir di bar, entah berapa pun banyaknya, itu sehat. Yang tidak sehat kalau tidak lagi di bar, mengurung diri di kamar sendirian minum bir sebanyak-banyaknya.

Jadinya kayak novelis Charles Bukowski.

Saya memilih Gabriel Garcia Marquez. Setia pada istrinya Mercedes Barcha.

Bar berangsur sepi. Volume suara televisi dihilangkan, tinggal gambar-gambar kayaknya pertandingan ulang.

Terdengar alunan lagu Where Have All the Flowers Gone.

Saya merasa jadi remaja kembali.

“Sir, we’re going to close,” suara waitress menyadarkan saya.

Di tangannya kulit persegi berisi tagihan.

“Ooh, okay,” buru-buru saya merogoh kantong.

Saya sodorkan sejumlah uang. Dia menghitung dan mengembalikan banyak lembaran kepada saya. Rupanya saya menyodorkan uang kelewat banyak.

Dia saya kasih satu lembar, entah berapa.

Wajahnya seketika sumringah.

“Take care, sir. Good nite,” tangan halusnya mengelus lengan saya.

Saya menyeret kopor seperti Jango menyeret peti mati meninggalkan bar.

JALANAN  sepi. Hanya satu dua orang melintas. Kepala saya agak pusing. Lebih baik istirahat dulu.

Saya masuk stasiun Ekkamai.

Lampu telah dipadamkan. BTS telah selesai beroperasi.

Saya duduk di bangku beton di atas peron. Angin akhir tahun lebih sejuk dibanding angin-angin pada bulan-bulan lainnya. Angin tahu bagaimana memanjakan manusia.

Hujan telah lama reda. Mendadak saya sadar ada bulan di angkasa.

Malam yang indah.

“Mas…,” terdengar suara.

Saya abaikan. Indra saya sering mengada-ada, melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terdengar.

“Mas…,” suara berulang.

Tetap saya diamkan.

“Massss….”

Tiga kali, berarti bukan produk politik tubuh dari kuping yang mengada-ada, tapi memang ada suara memanggilku.

Suara perempuan.

Saya celingukan bak keditul (ketek ditulup).

Kaget saya, di bangku beton yang saya duduki, persis di sebelah saya, muncul belasan titik cahaya. Belasan, mungkin puluhan, atau ratusan—busyet saya buruk dalam matematika dan berhitung. Di antara cahaya-cahaya tersebut ada dua yang paling terang cahayanya.

Apakah suara berasal dari cahaya-cahaya ini?

Dua cahaya yang paling terang berkerlip.

Saya perhatikan baik-baik, ternyata cahaya-cahaya ini membentuk sebuah konfigurasi, semacam kontur lukisan, membentuk kontur tubuh manusia. Manusia  perempuan, lengkap dengan rambutnya, panjangnya sepundak, eh, agak lebih pendek lagi. Dan dua cahaya paling bersinar terang tersebut adalah bagian mata.

“Engkaukah yang memanggilku?” tanya saya pada cahaya.

“Ya,” jawabnya dengan dua cahaya paling terang berkerlip—atau kuartikan berkedip.

“Siapakah engkau?”

“Cahayamu,” jawabnya.

Saya bingung.

“Bukankah kamu cukup berpengetahuan, bahwa setiap orang memiliki guardian angel?” ucapnya.

“Ooh…,” baru saya ingat. “Jadi engkau guardian angel-ku dari Jawa?” tanyaku, mengingat ia memanggilku ‘mas’.

“Dari Tiongkok, tapi telah lama menetap di Trowulan,” ucapnya.

Pada era Majapahit memang banyak putri China datang ke Jawa.

Saya ingat dulu ada orang entah siapa mengatakan aku kelenggahan roh dari Trowulan.

“Bagaimana dari Tiongkok engkau sampai ke Trowulan,” tanyaku, ingin mengorek asal usul dan sejarahnya.

“Dengan menari,” jawabnya.

“Menari?”

“Ya, dengan menari. Seperti ini.”

Konfigurasi cahaya itu bangkit dari duduk. Makin jelas kini sosoknya. Tidak terlalu tinggi. Mungkin seperti Lucy Liu.

Sexy juga.

Dia memposisikan diri seperti penari balet.

Pointe—ujung kaki menancap di lantai peron.

Kemudian dia bergerak. Seakan terbang, ia membentangkan tangan, melompat kesana kemari, seluruh peron ia kuasa menjadi panggungnya.

Jelas dia melakukan line, alignment, coordination, secara benar.

Saya takjub luar biasa.

Cahaya maha cahaya, saya berucap dalam hati.

“Hai, ada suara gemuruh, saya harus pergi,” tiba-tiba dia berseru.

Suara apa, saya bingung.

Seketika seluruh cahaya itu lenyap.

Beberapa detik kemudian baru saya tahu, ada kereta datang.

Agaknya pagi telah tiba. Ini kereta pertama, Sukhumvit Lane menuju Keha.

Mustinya tadi saya tanya, apakah malam mendatang dia bakal muncul lagi atau tidak.

Ah, sudahlah.

Sering saya mengalami hal-hal tak terduga.

Kembali dengan menyeret kopor saya meninggalkan stasiun Ekkamai.

Dalam hati saya berjanji, tiap malam saya akan ke Black Night dan duduk-duduk di stasiun Ekkamai.***

6/12/2022

Join the discussion One Comment

Leave a Reply