Skip to main content
Cerita

Xian Meng

By January 20, 2024No Comments

YOUR escort is Ms Xian Meng.

Begitu pesan saya terima dari asosiasi penyair di Guangzhou, Tiongkok.

Mereka mengundang saya untuk hadir dalam pertemuan penyair berbagai negara di kota di provinsi Guangdong itu.

Saya jelaskan bahwa saya bukan penyair. Saya penulis, yang saya tulis prosa dan esai.

Di negeri saya ada ucapan: yang bukan penyair tak boleh ambil bagian.

Namun mereka tak peduli dengan penjelasan saya.

Tetap saja saya diundang.

Beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan dengan tiket pesawat yang mereka siapkan, saya menerima pemberitahuan di atas, bahwa escort atau pendamping saya adalah Nona Xian Meng.

Saya terbang dari Bangkok dari airport Don Mueang.

Penerbangan Don Mueang-Guangzhou kurang lebih 3 jam.

Saya mendarat pukul 15.00 waktu setempat.

Ternyata ada beberapa peserta dari berbagai negara seperti Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan lain-lain tiba dalam waktu hampir bersamaan.

Kami dijemput panitia untuk langsung dibawa ke hotel.

Hotel berada di pusat kota.

Guangzhou

Di hotel ini pula pertemuan selama 3 hari hendak berlangsung.

Malamnya diadakan dinner.

Semua peserta telah hadir.

Di situ kami masing-masing peserta dari berbagai negara dikenalkan dengan para escort, masing-masing peserta akan didampingi satu escort yang bertugas sebagai penterjemah yang akan terus mendampingi kami sehari-hari selama berlangsungnya acara.

“Hi, I’m Xian Meng. Your escort,” kata gadis berkacamata, rambut panjang diikat ke belakang.

“Hi, nice to meet you.”

“You’re gitt…gitanjalee… right?” dia terbata-bata mengucap nama saya.

Saya tertawa.

Setelah berpikir sejenak saya katakan padanya: “Just call me, Mas.”

“Mas?” ia berucap.

“Yes,” tukas saya.

“It’s easier, isn’t it? People call me Mas,” saya berdalih.

“Okay,” sahutnya.

Sejak itu dia memanggil saya Mas.

ESOKNYA pertemuan dimulai.

Setelah berbagai basa-basi pidato pembukaan, sesi diskusi dimulai.

Peserta dari China memaparkan bukan saja penyair-penyair atau pujangga negeri itu, melainkan juga peran para penyair dalam pembentukan kesadaran sebagai bangsa.

Bagi saya sungguh suatu pemaparan menarik.

Menurut pembicara itu dari kebiasaan sejak sebelum Masehi, di China yang namanya penyair umumnya juga sejarawan.

Disebutnya nama-nama penyair seperti Sima Qian pada sekitar 200 tahun sebelum Masehi yang ikut menentukan pilar-pilar pembentukan kesadaran bernegara.

Dia membandingkan nama tersebut dengan Homer yang melahirkan Odyssey di Barat atau Vyasa yang menulis Mahabharata di Timur.

Setelah itu ada pembagian kelompok menjadi kelompok-kelompok diskusi dengan jumlah peserta lebih kecil.

Pada diskusi kelompok kecil ini tiap peserta diminta memberikan presentasi mengenai dunia kepenyairan di negeri masing-masing.

Untuk ini saya bicara secara khusus tentang penyair negeri sendiri, Rendra.

Saya mencoba memaparkan karya-karya Rendra dengan pandangan-pandangan Taoisme yang agak mirip kejawen.

Sengaja saya memilih sudut pandang tersebut, agar memiliki afinitas atau kedekatan dengan pandangan dunia China yang saya tahu berdasar Konfusianisme dan Taoisme.

Para pendengar tampaknya lumayan senang.

Karena orang tampak senang saya menjadi-jadi.

Nomong ngalor-ngidul.

Pada break makan siang beberapa peserta diskusi masih penasaran, mengajak saya berbincang tentang apa yang saya katakan dalam diskusi.

DI luar jadwal yang lumayan ketat, setiap kali tersedia jam bebas bagi kami untuk melakukan apa saja sesuka kami.

Panitia mengatakan banyak yang bisa dilihat di Guangzhou.

Mereka berikan daftar sejumlah tempat yang menarik.

Mereka katakan pula hotel kami berada di pusat kota dengan landmark Big Buddha Temple.

Tidak mungkin bakal tersesat, terlebih kami didampingi escort yang semua telah siap membantu.

Kesigapan panitia dalam hal ini saya anggap luar biasa.

Tidak pernah saya menghadiri pertemuan internasional dengan hospitality sebagus ini.

Semua makanan yang mereka hidangkan selama acara juga cocok.

Dibedakan yang halal dan haram.

Demi keseimbangan Yin-Yang saya menikmati dua-duanya.

Dari pergaulan dengan Meng dalam waktu-waktu selanjutnya saya tahu bahwa ia—sebagaimana teman-temannya—adalah para mahasiswa jurusan bahasa asing dari universitas setempat.

Meng mahasiswa semester lima.

Kebanyakan mereka yang menjadi escort ini tinggal di asrama.

“Pagi hari pukul 6 kami dijemput dengan bis, karena kami harus sudah siap pada saat kalian breakfast,” kata Meng.

“Malam seusai acara kalian dipulangkan dengan bis?” tanya saya.

“Ya.”

“Acara baru selesai pukul 10 malam, jadi jam berapa kalian sampai asrama?”

“Hampir pukul 12.00. Setelah itu beres-beres baru tidur. Harus bangun pagi-lagi,” ucapnya.

“Berarti kamu kurang tidur?” saya bersimpati.

“Ya.”

“Saya bisa jalan-jalan sendiri. Kalau mau kamu bisa istirahat tidur di kamar saya,” saya menawarinya.

“Tidak bisa. Saya wajib menemani kamu,” katanya.

“Saya lebih suka kamu temani bukan karena ‘wajib’,” tukas saya.

Meng tertawa.

“Saya suka menemani kamu karena kamu banyak pengetahuan,” ucap Meng sambil tertawa.

“Honestly?” tanya saya.

Banyak cewek suka berbohong di balik wajah innocent seperti ini.

“Swear,” kata Meng.

Saya tertawa.

Kami jalan-jalan di Shamian Island, kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa.

Shamian Island

Perancis dan Inggris pernah menduduki tempat ini pada masa lalu.

Senang sekali saya berada di situ.

Bangunan-bangunan kuno agak bergaya Gothic, pohon-pohon besar, di pinggirnya Pearl River atau Sungai Mutiara yang airnya cokelat.

Di beberapa sudut ada orang-orang tua bermusik dan menari-nari, di sudut lain lagi ada yang berlatih taichi, menggoreskan kaligrafi, dan lain-lain.

Kami melewati seorang peramal yang meramal dengan kartu tarot.

“Kamu mau diramal?” tanya Meng.

Bayarannya 100 yuan.

“Boleh juga,” ucap saya.

Saya pun duduk berhadapan dengan tukang ramal.

Meng menterjemahkan ucapan peramal.

“Kata dia kamu adalah penulis,” kata Meng.

“Wah, kok tahu,” ucap saya.

“Kamu penulis yang tidak banyak berpikir,” Meng menterjemahkan lanjutan ucapan peramal.

Saya garuk-garuk kepala.

Si peramal bicara panjang lebar.

“Apa katanya?” saya tanya pada Meng.

“Katanya kamu akan punya pacar di China,” kata Meng.

“Hah,” saya kaget. “Mana mungkin….”

Meng senyum-senyum.

Saya curiga dia bohong atau bikin-bikin.

Seperti saya katakan tadi, banyak cewek tukang bohong.

“Kamu boleh tanya apa saja padanya apa yang ingin kamu ketahui pada masa depan,” kata Meng. “Apa yang hendak kamu tanyakan?”

Saya berpikir sejenak.

“Siapa pemimpin negeriku pada masa mendatang?” saya memilih bertanya itu saja.

Si peramal membalik-balikkan kartu agak lama.

Sempat pula memejamkan mata.

Setelah beberapa waktu dia memberikan gambaran pemimpin yang akan memimpin negeri saya dan Meng menterjemahkannya.

Bahkan berikut wakilnya.

Bagaimana dia menambahkan sampai ke wakil, padahal saya hanya bertanya siapa yang akan jadi pemimpin.

Pelukisannya sebegitu jelas di mana dengan mudah saya bisa mengasosiasikan dengan calon tertentu yang tengah berebut kursi kekuasaan saat ini.

“Betulkah ada sosok seperti itu di negerimu?” Meng bertanya pada saya.

“Saya perlu mengingat-ingat terlebih dahulu,” saya menghindar untuk memberi jawaban.

“Andai ada, apakah menurutmu dia akan jadi pemimpin?” tanya Meng.

“Saya tidak tahu.”

“Apa yang kamu tahu?”

“Saya akan punya pacar di Zhongguo,” jawab saya bercanda mengalihkan pembicaraan.

Meng tersipu, pipinya memerah—blushing.

Saya tertawa dalam hati,

Dari situ seketika saya tahu bahwa ucapan Meng menterjemahkan kata peramal tadi beberapa cuma mengada-ada, termasuk soal bakal punya pacar di China.

Betapa pun, saya suka.***

20/1/2024

Leave a Reply