Skip to main content
Esai

Tahun Baru 20 Tahun Lalu

By December 29, 2021No Comments

Teman semasa SMP mengirim pesan WhatsApp, bertanya apakah di penghujung tahun ini saya tidak pulang ke Salatiga. Dia bercanda, katanya kangen ingin jalan-jalan di malam menyambut tahun baru seperti 20 tahun lalu.

Dua puluh tahun lalu?

Saya mengais-ngais ingatan. Betul juga. Waktu itu persis pada malam pergantian tahun saya berjalan-jalan bersama dia, teman tercantik semasa SMP, menyusuri jalan legendaris kota ini, Jalan Jenderal Sudirman.

Makin terang benderang ingatan ketika saya membuka file tulisan lama. Dari pengalaman bertahun baru di kota masa kecil itu saya kemudian membikin tulisan berjudul Kerlingan Mata yang Tinggal Kenangan, dimuat di Kompas edisi Minggu, 6 Januari 2002.

Waktu itu saya masih getol dengan apa yang disebut cultural studies. Dalam reportase tersebut saya menulis antara lain: “Mendung dan gerimis sore hari berubah menjadi cuaca yang cukup terang di Salatiga seiring datangnya malam. Maka, mulai ramailah kota kecil di pegunungan ini dengan orang-orang yang mulai keluar rumah.”

Selanjutnya bla-bla-bla ngoceh, mengutip sana-sini, menyebut apa yang terjadi di kota kecil ini adalah gejala yang terjadi di mana-mana di seluruh dunia akibat mass consumption.

Kebiasaan saya ngoceh ngalantur tidak karuan terus terang terpengaruh penjual jamu di masa lalu, namanya Pak Ngadiran.

Sebelumnya tidak ada orang ambil peduli dengan perayaan tahun baru. Saya menulis, dulu malam tahun baru di Salatiga tak ada bedanya dengan malam-malam yang lain.

Kota berselimut dingin dan kabut, tidak ada keramaian seusai bubaran pertunjukan terakhir bioskop Reksa sekitar pukul  23.00.

Modus utama kendaraan dalam kota yakni andong pulang ke tempatnya di pinggir kota, menimbulkan ketipak bunyi langkah kaki kuda di malam sunyi.

Dengan perkembangan industri waktu luang dan gaya hidup, masa itu disebarkan-luaskan terutama oleh tv yang setiap tahun menayangkan kemeriahan menyambut tahun baru di kota-kota besar, jadilah seluruh pelosok ikut-ikutan: “new year matters”.

Semua ingin meniup terompet, melepas kembang api, mengadakan barbeque, dan lain-lain.

Tentu saja sebagai pemuja Gramsci, Adorno, Marcuse, dan pemikir-pemikir kiri lainnya maksud saya menulis adalah untuk mengkritik kecenderungan mass consumption yang mendefinisiklan hidup kita.

Dalam ukuran lebih gawat kira-kira seperti kecenderungan digitalisme saat ini.

Media digital bukan hanya mendefinisikan hidup kita tetapi mengubah sistem neuron dan syaraf kita.

Pengalaman darah daging (dan roh) dikorting menjadi pengalaman virtual.

Aktivitas otak diganti aktivitas jempol jari.

Rasionalisme diganti emosionalisme.

Besar di lingkungan Jawa, saya sering teringat kearifan-kearifan lokal tradisional.

Pernah saya ketemu dan berbincang dengan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi yang tewas mengenaskan oleh erupsi gunung itu tahun 2010.

Berbincang dalam bahasa Jawa, saya bertanya padanya apa menurut dia seni yang baik.

Ia jawab: seni sing apik dicacat ora cacat, ditiru ora iso (seni yang baik dikomentari jelek tidak menjadi jelek, ditiru tidak bisa).

Atau mengenai gladi pemikiran, yang ini entah saya dapat dari siapa.

Dalam masyarakat Jawa, berpikir itu mengenal strata. Untuk mengingatkan orang agar menggunakan otak, pada tingkat paling dasar ungkapannya: dipikir (seperti dalam kalimat, dipikir dhisik, dipikir terlebih dulu).

Tingkatan lebih tinggi dari itu, digagas. Pengertian digagas lebih luas daripada dipikir.

Setelah itu tingkatan paling dalam, digalih.

Galih artinya inti dari sebuah kedalaman. Pohon jati misalnya punya bagian terdalam di batangnya, namanya galih.

Ketika menyebut galih, orang biasanya menunjuk bukan kepala, melainkan dada, tepatnya ulu hati. Menggalih adalah berpikir dengan disertai keprihatinan.

Serupa dalam Taoisme, pikiran letaknya bukan di kepala, melainkan di organ hati.

Artinya, pada tingkatan itu pemikiran bukan hanya menyangkut logika dan rasionalitas, tetapi juga berhubungan dengan etika, moralitas, disertai tanggungjawab individu maupun sosial.

Manusia metaverse dan revolusi 4.0 saya rasa tidak kenal menggalih.

Mereka mengagung-agungkan kecerdasan bikinan, artificial intelligence—sesuatu di luar diri sendiri.

Sejatinya turun ke got dan gorong-gorong tidak memerlukan metaverse.

Bagi yang menggeluti diri sebagai kesatuan badan-pikiran-jiwa, refleksi dari  kerja memakai otak terlihat di mata.

Sebaliknya konsentrasi atau fokus seseorang bisa dilihat ketika dia memanfaatkan telinga. Orang yang tengah berkonsentrasi mengerahkan pendengaran, bukan jelalatan.

Kesungguhan, komitmen, asalnya dari hati, terucap melalui bibir. Janji muncul dari hati, bukan dari baliho pinggir jalan.

Begitu kurang lebih kaitan organ tubuh dan tindakan kita. Orang yang mengucapkan komitmennya tidak dari hati namanya lip service.

Para motivator berseru: bekerjalah dengan hati.

Kerja itu dengan otak. Namanya kerja cerdas. Kerja keras dengan hati menyebabkan sakit lever.

Setiap akhir tahun, hari-hari diwarnai mendung, gerimis, hujan seperti sekarang ini.

Kepada teman lama tadi saya menjawab, karena situasi pandemi saya tidak bisa pulang jalan-jalan sama engkau.

Mudah-mudahan juga tidak ada keramaian di kota, baik kota kita maupun kota di mana saja.

Orang sebaiknya di rumah, kembali ke diri masing-masing.

Oh ya, mengenai judul tulisan Kerlingan Mata yang Tinggal Kenangan, waktu itu saya mengutip gurauan ahli filsafat yang saya kagumi, Dr Karlina.

Dia menyebut Sukabumi, kota masa kecilnya, tempat yang mengingatkan kerlingan mata bekas pacar di zaman “cinta monyet”—yang tinggal kenangan.

Sukabumi yang juga kota kelahiran Happy Salma adalah kota yang cantik, sebelum sebagaimana kota-kota lain, diseragamkan oleh gelombang konsumsi dan industri gaya hidup.

Inilah repotnya tatkala dunia dikuasai strategi gaya hidup dalam kapitalisme global.

Tak peduli pandemi, orang bergerak kemana-mana mengusung keresahannya.***

29/12/2021

Leave a Reply