Skip to main content
Nota

Garut dan Jatuh Cinta Kedua

By February 13, 20224 Comments

Pekan lalu istri mengusulkan perjalanan ke Garut, ke villa temannya. Mengapa tidak, saya menyambut. Spontan kami melakukan road trip.

Bagi saya pribadi perjalanan ini istimewa. Saya ingat, pertama kali ke Garut dan sekitarnya sekitar 40 tahun lampau.

Waktu itu saya baru saja bergabung dengan koran Kompas. Salah satu pimpinan, mas Robby Sugiantoro, memerintahkan saya melakukan perjalanan keliling pulau Jawa menemani wartawan Amerika namanya Arthur Zich.

Arthur saat itu sudah dianggap wartawan berpengalaman. Sebelumnya ia pernah bergabung dengan Time dan Newsweek. Kali itu ia melakukan tugas jurnalistik untuk National Geographic.

Oleh kantor saya diminta mendampingi Arthur, jadi guide amatir, sekaligus menimba ilmu darinya, biar sebagai wartawan baru saya lekas becus.

Waktu itu adalah heyday Soeharto dengan kekuasaannya.

Arthur ingin membuat laporan dengan sudut pandang kekuasaan (tradisional) Jawa disertai gambaran empirik situasi Jawa.

“Description,” nasihat dia pada saya.

Kami menjelajahi Jawa dari barat sampai timur, yang bagi saya sendiri merupakan pengalaman pertama. Saya terpesona melihat permainya desa-desa di Jawa Barat. Jadi percaya seribu persen, Pasundan tercipta waktu Tuhan tersenyum. Di telinga saya masyarakat Sunda berucap seperti orang menyanyi. Saat itulah pertama kali saya jatuh cinta pada Sunda.

Saya ingat pujian Arthur ketika kami berada di Garut, Majalaya, Soreang, dan daerah-daerah sekitarnya.

“Hawanya seperti California,” kata dia.

Karena selera saya Oriental,  saya menimpali, wanita-wanita Sunda lebih cantik dibanding bintang-bintang Hollywood.

Arthur tertawa, meninju lengan saya (dalam perjalanan berminggu-minggu itu terbentuk persahabatan kami. Saya sedih ketika tahun 2012 mendengar dia meninggal di kediamannya di Arcata, California. Begitu pula mas Robby yang memberi tugas saya, kini telah tiada. Rasa nelangsa teringat mereka semua).

Oh ya, sebagian catatan saya mengenai perjalanan tersebut ada dalam buku karya Parakitri T Simbolon, Vademekum Wartawan.

Oh, Garut.

Minggu lalu saya jatuh cinta yang kedua, melihat kebun mawar yang menjadi tujuan kami di Garut.

Villa keluarga Prima, teman istri saya, terletak di jalan raya Kamojang.

Orang-orang setempat menyebut “kebun mawar”.

Di hamparan kebun mawar sekitar 5 hektar itulah terletak villa keluarga ini.

Begitu beres parkir mobil, saya menghambur ke kebun mawar seperti Maria Zaetun dalam sajak Rendra Nyanyian Angsa berlari masuk taman Firdaus.

Foto-foto: BRE REDANA

Sejauh mata memandang adalah lahan yang tertata apik.

Mawar warna-warni, dengan di sana-sini diaksentuasi pohon besar—pohon-pohon terpilih yang beberapa di antaranya baru pertama saya lihat.

“Hello, saya mertua Prima,” seorang wanita menyapa.

Tentulah Prima telah mengabarkan kedatangan kami.

Wanita ini, ibu Retno Dewi dan suaminya, bapak Zaenal Arifin, adalah pemilik tempat luar biasa ini.

Keduanya lulusan arsitektur ITB.

Mereka merintis tempat ini tahun 2010 bersama teman-teman kuliah dulu, ada yang dipanggil om Rudi, tante Nike, om Slamet, dan tante Ira.

“Pokoknya geng ITB. Mereka semua pensiunan di atas 60 tahun waktu mulai,” cerita Prima.

Sayang sekali saya kuliah di Satya Wacana. Andai kuliah di ITB saya akan jadi bagian geng dan menjadi salah satu pemilik kebun mawar.

Usaha akan saya luaskan sampai seluruh dunia jadi kebun mawar agar orang merayakan cinta, bukan kebencian.

Kebun asuhan matahari dan rembulan.

Mereka menempatkan kami di sebuah villa yang di depannya berderet bunga kana merah, kuning—bunga favorit saya.

Di kejauhan tampak Gunung Guntur dan Papandayan.

Tiga bebek bermain-main di kolam.

Kata ibu Retno itu 1 betina dan 2 jantan.

Sebenarnya ketika beli ia ingin 2 betina dan 1 jantan, agar telur lebih banyak.

Ternyata  menurut penjual tidak bisa demikian.

Harus 1 betina 2 jantan.

Baru saya tahu bahwa bebek suka poliandri.

Selain kami berdua ada dua sahabat kami, Deli Makmur dan Nono.

Selama di lembah seribu bunga ini saya memutuskan untuk bermalas-malasan saja, tidak akan buka laptop.

Duduk di teras villa, baca buku, menikmati kopi.

Sore datang pisang goreng. Kadang kolak.

Jalan-jalan mengelilingi kebun.

Dari ketinggian di bawah pohon kersen terlihat kota Garut.

Serasa di La la land

Alam selalu memberikan pemandangan berbeda setiap detik. Seribu kali kita mengarungi alam seribu kali kita mendapati pengalaman berbeda.

Itu sebabnya saya mempercayai doktrin perguruan silat saya: ilmu berasal dari alam dan harus dikembalikan ke alam melalui masyarakat dan kebudayaan.

Dari ketinggian desa Samarang tempat taman bunga ini berada, kadang kami turun ke kota Garut, sekitar 40 menit dari situ.

Apa lagi yang dinimati di Garut, kalau bukan mie bakso.

Juga jalan-jalan ke pasar dengan tetap tunduk pada ketentuan sekarang: pakai masker, jaga jarak. Tak kalah penting jaga semangat dan daya hidup.

The Three Musketeers

Dalam perjalanan jurnalistik dengan Arthur dulu, mengikuti sudut pandang dia melihat beroperasinya kekuasaan yang menurut hipotesis dia merupakan kekuasaan tradisional, di sebuah desa saya berjumpa seorang spiritualis.

Kepadanya saya bertanya, kapan kekuasaan Soeharto yang represif berakhir.

Jawabannya saya renungkan sesudahnya tepat: tahun 1998.

Kali ini karena saya sudah pensiun, bukan perjalanan jurnalistik melainkan tamasya, saya tidak mencari orang pintar untuk bertanya kapan kekuasaan sekarang berakhir.

Biarlah alam bekerja dengan sendirinya.***

Valentine Day, 14/2/2022

Join the discussion 4 Comments

  • mia indra says:

    WOOOOW…… !!!
    Indaaaaaah… !!!
    menikmati alam Parahyangan pastii dan pastiii akan jatuh ❤… lambaian bunga.bunga mawar dari kejauhan.. semilir angin gunung nan sejuk.. benar.benar menyihir kita terlenaaa….

    Kami dan teman2 sudah pernah ke Kebun Mawar itu, kira2 5 th yll…
    Kebetulan pemiliknya, Kel.Besar Soewondo ~ Rudi, Benny, Yuli adalah teman sekolah sejak kecil..

    Bre….. tulisan.mu selalu memukai…enak dibaca dan perlu ! ( gak ikut2an TEMPO looh 😊)
    Sukseeees truuus ya Bre.. jangan bosan berkabar ..😘

  • widyarto says:

    Kalau yg nulis Bre, saya percaya : ciamik.

Leave a Reply