Skip to main content
Nota

Kompas/…(baca Kompas Garis Miring)

By November 27, 2021One Comment

Tengah di Cirebon, tanpa sengaja ketemu tim Kompas yang hendak ke Magelang untuk acara Borobudur Marathon sembari test drive mobil mewah Lexus. Kaca belakang mobil listrik mutakhir warna biru Ben-Hur itu ditempel stiker pihak-pihak yang mendukung ekspedisi ini, yakni Bank Jateng; Borobudur Marathon; Kompas. Tim terdiri dari Dahono Fitrianto, Eddy Hasby, serta teman dari berbagai bagian dan departemen yakni Girez, Iwan, Anton, dan Izul. Mereka bermalam di Cirebon, sebelum melanjutkan perjalanan pagi berikutnya.

Sangat menyenangkan bertemu teman-teman dari Palmerah, apalagi pertemuan tak disengaja seperti ini. Pertemuan yang tak tersengaja, saya anggap sebagai “penyelenggaraan Illahi”, atau dalam bahasa yang sering diucapkan panutan saya, St Sularto, Providentia Dei.

Oleh mereka saya ditraktir makan nasi jamblang, sate kambing, dilanjutkan ngobrol sampai malam sambil menikmati kopi. Saya tidak tega mengusulkan bir, khawatir ekspedisi mereka jadi ngaco.

Dahono dan Eddy adalah teman-teman lama. Seperti saudara. Sebagian urusan pribadi mereka saya tahu. Dahono ketemu wanita yang kemudian menjadi istri tatkala melakukan perjalanan dinas di hotel Santika, Cirebon.

Dahono adalah penulis otomatif yang bagus. Membaca tulisannya saya serasa ikut berada dalam mobil yang tengah dia review.

Eddy Hasby fotografer yang luar biasa. Pertama kali ada teknologi drone, dia mempelajari sampai sangat fasih. Saya sempat ia ajari, tapi di tangan saya drone terbang tak karuan, oleng kayak mabuk bir.

Sejak pensiun 4 tahun lalu jarang ketemu teman-teman kerja di Kompas dulu. Teman-teman kerja yang masih aktif saya tahu kini makin sibuk. Selain koran cetak mereka mengurusi produk yang sebutannya multiplatform seperti produk online, multimedia, ekspedisi seperti mereka lakukan saat itu, dan lain-lain.

Beda dengan masa kami dulu, yang lebih banyak kongkow-kongkow.

Sampai saat ini Dahono bekerja di Kompas 20 tahun. Eddy 25 tahun. Ia baru saja menerima cincin penghargaan untuk kerja di perusahaan ini selama seperempat abad. Ia ingin tahu, apa yang saya rasakan tatkala pensiun.

Kepadanya saya bercerita, seperti mereka, wartawan-wartawan yang saya anggap luar biasa, dulu antene saya terus terjaga, menangkap signal apa saja untuk diolah di kepala saya sebagai wartawan, atau lebih khusus wartawan Kompas.

Sekelebat melihat foto-foto yang dipamerkan Eddy berupa pabrik gula kuno yang ia ambil fotonya dalam perjalanan, dulu mungkin saya akan segera terangsang untuk membikin tulisan tentang Jawa di awal zaman industri.

Atau mendengar cerita Dahono tentang Lexus, mungkin saya akan bicara bahwa ini bukan soal kendaraan, melainkan luxury, kemewahan, gaya hidup.

Thomas Friedman menggunakan Lexus sebagai simbol globalisasi, menjadi judul buku dia, Lexus and the Olive Tree.

Begitu pensiun, cara berpikir saya berubah.

Saya tidak lagi menyibukkan otak saya untuk berpikir seperti saya contohkan di atas.

Saya menikmati  empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, tidak dalam strategi liputan kuliner tapi semata-mata saya memang suka makanan rakyat, makanan kaki lima.

Dulu saya datang ke rumah duka tatkala ada orang meninggal untuk meliput, kini untuk melayat, menyampaikan simpati dan untuk berdoa.

Saya bukan lagi Kompas garis miring BRE REDANA, tapi semata-mata saya.

Tidak bisa lagi diperbandingkan. Dulu saya masuk pasar malam untuk membikin deskripsi mengenai kemeriahan pasar rakyat. Sekarang untuk ikut merasakan sensasi naik komedi putar, ditakut-takuti masuk rumah hantu, ikut joget di depan panggung dangdut. Penyanyi dangdut kesukaan saya dari dulu sampai kini adalah Ikke Nurjanah.

Begitulah Ed, kata saya, nanti kalau engkau pensiun kita sama-sama jalan-jalan ke pabrik gula kuno di Slawi, Pati, Gondanglegi, dan lain-lain.

Banyak hal bisa terjadi secara tak terduga.

Siapa tahu di Slawi kita tak sengaja ketemu mbak, teman lama yang berasal dari kota ini.

Kerja dan pensiun sama-sama menyenangkan.

Kata guru Zen: ketika kita kerja, kita tidak bekerja; ketika kita tidak kerja, kita bekerja.

Kepada teman-teman yang akan melanjutkan perjalanan esok pagi ke Magelang, malam itu saya mengucapkan semoga liputannya sukses.

Bravo.***

Join the discussion One Comment

  • Antyo® says:

    Bagus ini. Perlu merenung lama dan tak kunjung usai untuk memahami selain mencoba menjalankannya.

    Kata guru Zen: ketika kita kerja, kita tidak bekerja; ketika kita tidak kerja, kita bekerja.

Leave a Reply