Skip to main content
Nota

Vaksin

By February 24, 20216 Comments
(Dari kiri) Rendi, James Luhulima, Widi Krastawan, Budiarto Shambazy, Poppy, Trias Kuncahyono, Pieter Gero.

HARI Rabu (24/2/2021) saya diikutkan untuk mendapatkan vaksin Covid 19 oleh Forum Pemred. Vaksinasi dilakukan di lingkungan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kemenkes di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pagi tiba di situ saya bertemu tokoh-tokoh lama yang bahkan namanya saya kenal sebelum saya jadi wartawan Kompas. Ada Daud Sinjal, dia dulu petinggi Sinar Harapan. Tidak lama muncul Pia Alisjahbana dari kelompok femina. Belum lagi nama-nama tenar dalam lingkungan petinggi pers seperti Kemal Gani dari SWA.

Tak ketinggalan teman-teman lama di Kompas. Pieter Gero, Trias Kuncahyono, Widi Krastawan, Poppy, James Luhulima, dan Budiarto Shambazy. Sempat saya lihat Efix Mulyadi dan Chris Pudjiastuti.

Bertemu wartawan-wartawan lama memberi kebahagiaan tersendiri. Teringat hubungan hangat pada masa lalu. Kepada Pak Daud Sinjal saya  menceritakan, dulu saya sering main ke kantor Sinar Harapan di Jalan Dewi Sartika.

Cari siapa, tanyanya. Banyak, jawab saya, antara lain Bambang Subendo dan Yaya Sutara. Nama cewek tidak saya sebut.

Kantor femina di bilangan Kuningan juga sering saya sambangi. Bertemu antara lain Rosihan Nurdin dan Dwi Sutarjantono. Nama lain dalam kelompok ini, Eric Sinario, adalah saudara seperguruan saya di perguruan silat Bangau Putih.

Femina punya ciri khas, menyediakan makan siang bagi karyawan. Beberapa kali saya nekat ikut makan siang di situ.

Kehangatan pergaulan lama terasa di tempat vaksinasi. Pak Daud Sinjal, pagi itu boleh jadi tertua di antara kami, beberapa kali bertanya kepada saya siapa wartawan yang baru saja dilihat atau menyapanya.

“Oh, itu James Lihulima,” katanya. “Dulu saya kira dia orang kaya. Tiap minggu ganti mobil baru,” lanjutnya bercanda.

James Luhulima adalah wartawan spesialis otomotif. Boleh jadi James memang kaya. Seluruh wartawan merasa dirinya kaya. Bergulat dengan uang triliunan, meski sebatas tulisan. Sebagai wartawan otomotif, tiap minggu dulu James mengendarai mobil baru. Test drive.

Di Kompas banyak wartawan yang sangat menguasai bidangnya. Trias Kuncahyono luar biasa pengetahuannya mengenai Timur Tengah. Dia menulis banyak buku tentang Timur Tengah.

Dalam pandangan subyektif saya yang bias pertemanan, Trias sangat cocok jadi dubes entah Palestina, Israel, Suriah, atau apa saja di wilayah yang penuh konflik itu. Selain pengetahuannya mendalam, sebagai keluaran seminari dia bakal cukup sabar menghadapi masyarakat yang gemar bertikai.

Prosedur vaksinasi diawali dengan pengukuran tekanan darah; wawancara riwayat kesehatan; dilanjutkan suntik.

Yang aneh adakah dalam proses pengukuran tekanan darah. Pengukuran yang dilakukan dengan piranti digital acapkali menghasilkan angka-angka yang tidak masuk akal alias ajaib.

Terpaksa dilakukan tes ulang secara manual. Hasil tes manual hasilnya lebih masuk akal.

Analisis saya: mereka ini bukan makhluk digital. Instrumen digital tidak sanggup membaca gejala tubuh para gaek yang semasa jadi wartawan menggunakan mesik tik.

Dalam daftar disertai jadwal jam berapa mereka harus datang terlihat sederet nama terkenal lain dalam dunia jurnalistik. Ada Goenawan Mohamad. Mas Goen pernah menengok saya di Ciawi.

Ada sahabat saya Ilham Bintang. Dia juragan infotainment.

Ilham yang jadwalnya siang hari mengirim pesan WA bertanya ini itu, sakit apa tidak, dan lain-lain.

Ditanya apa saja, tanyanya.

Siap-siap saja, jawab saya. Bakal ditanya dosa-dosa kita.

Dia tidak menyahut lagi. Barangkali dia lebih takut ditanya-tanya daripada disuntik.

Saya merasa beruntung diikutkan vaksinasi ini. Setidaknya saya masih diingat oleh Sutta Dharmasaputra. Dia yang menghubungi saya, menyampaikan jadwal vaksinasi untuk saya, sekaligus berpesan agar saya jangan begadang.

Dia tidak tahu bahwa saya tidak lagi nongkrong dan ngebir di deHooi kalau malam. Saya selalu di rumah. Kalau dulu saya lebih banyak ngebir daripada menulis, sejak pandemi saya lebih banyak menulis daripada ngebir.

Saya selalu merasa beruntung pernah kerja di Kompas dengan teman-teman yang penuh perhatian. Compassion penting bagi wartawan, pesan Pak Jakob Oetama dulu.

Sutta bertanya, apakah istri saya sudah umur 60 tahun. Kalau sudah boleh ikut divaksin.

Sayangnya belum, jawab saya. Dia istri muda.

Sutta tertawa. Dikira saya main-main.***

Join the discussion 6 Comments

Leave a Reply